Kepada Siapapun yang Masih Bisa Berempati

 

Kepada siapapun yang masih bisa berempati, berempatilah

Saya baru saja menyaksikan film “1984”, yang sesuai kata orang-orang di internet, sesuai dengan buku George Orwell dengan judul yang sama. Mudah saja alasannya: saya takut kemampuan Inggris saya yang buruk akan menghambat saya memahami isi buku tersebut. Lagipula, saya memang sedang malas untuk membaca buku setelah sibuk mencari literatur untuk skripsi saya. Film ini, sesuai kata orang-orang di internet, berhasil menggambarkan keresahan George Orwell, dan hal ini yang sedang saya bicarakan kepada anda.

Dunia dalam “1984” sangat jauh berbeda dengan dunia yang kita hidupi kini. Kalau anda nonton back to the future, anda akan tahu sebabnya: dunia dalam “1984” adalah parallel universe – wujud dunia lain dari dunia yang kita hidupi sekarang. Dunia dalam “1984” selalu diisi oleh negara yang ingin mengatur apapun. Termasuk hidupmu. Maka dalam dunia gila macam ini, jangan heran bahwa ada layar besar di rumahmu dan kau tak boleh matikan, karena layar besar itu milik negara.

Kau di mata-matai karena dua hal: pertama, kau tak boleh memberontak, kedua, kau tak boleh jatuh cinta. Urusan cinta akan menjadi seks, dan kalau sudah jadi seks, akan punya anak, dan kalau punya anak bisa berpotensi overpopulating, dan kalau overpopulating, ya, jadi masalah kelaparan. Cinta yang dimaksud tentu saja bukan sekedar cinta dengan lawan jenis. Kau, mudahnya, tak boleh punya hubungan emosional dengan manusia lain. Entah itu sahabat, pacar, mantan, istri, suami, atau bahkan, anakmu sendiri.

Sudah berpikir bahwa hal tersebut buruk? Tenang, George Orwell belum selesai mengacau hidup anda.

Dalam dunia gila macam ini, ya semua orang murung. Namun tidak ada yang mengeluh. Mereka semua tak punya siapapun yang mereka bisa pedulikan selain diri mereka sendiri. Kalau mereka memberontak, mereka akan dibawa ke Ruangan 101 dan isi kepala mereka akan dicuci atas mandat Kementrian Percintaan. Kepala anda bisa disetrum, atau anda akan diultimatum bahwa wajah anda akan dicabik-cabik oleh tikus got, dan segala mimpi buruk anda bisa menjadi nyata dalam ruangan itu. Hingga anda melupakan orang yang anda cinta dan mengakui bahwa cinta anda sendiri hanya kepada negara.

empathy

Itu sebab orang mengeluh? Tidak, tidak hanya itu, kawan-kawan. Berterima kasih pada Kementerian Kebenaran yang telah membuat orang-orang mewajarkan mimpi buruk macam ini. Peran Kementerian Kebenaran macam obsesi Lenin untuk membuat imaji Uni Soviet adalah negeri yang kuat: menulis ulang sejarah. Mereka menulis ulang sejarah agar orang-orang percaya dengan tiga hal. Perang adalah perdamaian. Kebebasan adalah perbudakan. Dan ketiga, tentu saja, nasionalisme.

Dalam dunia di mana mereka tidak punya emosi untuk dilampiaskan dan kemanusiaan dimatikan, satu-satunya wujud emosi yang mereka bisa lampiaskan adalah rasa cinta kepada negara. Mereka akan berteriak dengan marah kepada pengkhianat negara, yang biasanya muncul di media-media yang telah diatur oleh Kementerian Kebenaran, selayaknya rasa geram mereka sendiri karena tak bisa keluar dari dunia macam ini. Begitupula saat merayakan negara yang menang perang, mereka akan selebrasi selayaknya baru merayakan kelahiran anak pertama dalam hidupnya. Hanya itu hal yang bisa membuat orang-orang yang hidup dalam dunia itu tetap dapat dicirikan sebagai manusia.

Tentu sampai sini anda mulai berpikir bahwa ini adalah wajah kepemimpinan dictator macam Korea Utara. Hal tersebut tak salah, tapi ancaman dunia macam ini selalu terbuka di manapun. Mungkin tidak selalu kita alami fase di mana negara yang gila kontrol dan selalu ingin mendikte apapun yang kita ingini. Tapi, dengan dunia yang kita alami kini, di mana orang-orang sibuk saling sikut satu sama lain, bukannya tidak mungkin dunia dalam gambaran George Orwell bisa menjadi nyata.

Maka dari itu, berempatilah dengan orang lain. Tunjukkan sikap manusiawi anda dengan orang lain. Buat orang lain berani untuk menunjukkan sikap itu di dunia ini. Karena kemanusiaan, adalah berkah paling luar biasa yang diberikan Tuhan kepada umat manusia.

 

Penulis: @UtamaArif

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Kepada Siapapun yang Masih Bisa Berempati Leave a comment

  1. Saya baca novelnya dua tahun lalu, tapi cuma sanggup baca sepertiga sampai setengahnya aja soalnya gak kuat sama penggambaran yg ada di novelnya. Terus iseng baca sinopsisnya di Wikipedia dan I’m scared af. Semoga Indonesia gak akan pernah punya Big Brother.

  2. Bukan bisa terjadi, tetapi sudah terjadi terutama di US, dan mungkin di Indonesia. Dengan pembelokan kenyataan yang terjadi vs. apa yang dikatakan terjadi. The truth vs. Trump truth. Kalau sudah lihat Sean Spicer bicara, itu dia jubirnya Kementrian Kebenaran. Hahahha.

Tinggalkan Balasan