Khidmat: Ketika Setia Patut Diuji

Dari sekian banyak manusia di muka bumi, adalah Alessandro Del Piero yang salah satu kepadanya saya menaruh rasa hormat. Hal ini tak lepas dari saya yang sempat menikmati masa kejayaan liga Italia Serie A era 90an lalu. Sebuah liga sepakbola yang mengasyikan untuk dinikmati sebelum akhirnya kalah pamor oleh program kontes nyanyi dangdut yang isinya kebanyakan komentar (ejekan).

Sebagai orang yang terlahir menjadi pengagum klub sepakbola terbesar di dunia; Juventus, tentu sosok Del Piero tak pernah lepas dari memori. Memulai karir sejak 1993, Del Piero hampir selalu ada di tiap pertandingan yang saya saksikan. Total 705 pertandingan dengan 290 gol telah ia torehkan di buku catatan klub asal kota Turin, Italia itu.

Un vero cavaliere non lascia mai una signora (the true gentlemen never leaves his lady) Begitulah kutipan fenomenal yang pernah diucapkan Del Piero. Karena kasus Calciopoli pada 2006 lalu –yang menurut saya tak masuk akal- Juventus ‘dipaksa’ degradasi ke kasta kedua liga negara pitsa (tanpa) hat itu. Yang berasa spesial ialah saat itu dirinya bisa dengan mudah pindah klub di liga yang lebih mapan dengan bayaran yang tentunya lebih besar dari apa yang ia dapatkan di Juventus. Saat Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Viera cabut ke Inter Milan, lalu Gianluca Zambrotta, Lilian Thuram, hingga Fabio Cannavaro hijrah ke Spanyol (dua nama pertama ke Barcelona dan nama terakhir ke Real Madrid) untuk tetap bermain pada level tertinggi, Del Piero (juga Buffon, Nedved, Trezeguet, serta bintang lainnya) tetap masih berkhidmat pada Juventus, tak peduli main di kasta berapapun ucapnya..

Loyalitas tanpa batas itu harus berakhir di tahun 2012, di mana Del Piero ‘terpaksa’ berpisah dengan ‘kekasihnya’ Juventus. Manajemen memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Usianya saat itu 38 tahun dan masih cukup bugar untuk tetap bermain. Sejumlah tawaran sebetulnya sudah berdatangan kepadanya dari klub Italia lain seperti AC Milan dan Napoli. Namun, lagi-lagi, atas dasar khidmat, Del Piero memilih pindah ke Sydney FC di Australia yang berbeda benua dengan Italia (Eropa).

Di klub lain juga terdapat pemain-pemain yang cukup loyal. Sebut saja Francesco Totti di AS Roma, Paolo Maldini di AC Milan, atau Javier Zanetti di Inter Milan. Meski tak se-dramatis para bintang loyal di Juventus, tentu bintang-bintang yang bertahan di satu klub dalam waktu yang panjang memiliki alasan kuat serta kesetiaan yang tak terbantahkan.

Patut Diuji

Apakah itu setia? Tentu bukan lagunya mas Anang dan mba KD yang akhirnya salah satu dari mereka memilih untuk tak setia (iya gak sih?). Plot kisah asmara mereka berdua harus diakhiri kisah masygul, sehingga sulit bagi kita mengambil inti dari definisi setia. Atau masih ingat ketika Syahrini menyanyikan lagu dengan judul yang mirip? Ah! Meski tak nyambung, nampaknya dia ‘hadiahkan’ makna setia kepada jambulnya yang cetar itu.

Tak teruji sesuatu bila tak menempuh ujian. Begitulah kira-kira seharusnya kita menguji sikap khidmat terhadap sesuatu (seseorang). Keputusan Del Piero yang tetap bertahan meski dalam kondisi yang tak menyenangkan telah memberikan sedikit arti dari kata setia. Atau mungkin, kata setia justru juga terletak pada sebuah kondisi yang terpaksa. Misalnya, di Purbalingga baru-baru ini ada istilah Pamong Praja (Papah Momong, Mamah Kerja). Hal itu merujuk kepada data dari Dinas Tenaga Kerja setempat yang menyebutkan bahwa jumlah pencari kerja wanita di tahun 2016 lalu lebih banyak, yakni 8.596 dari total 14.574. Kondisi ini memaksa para ibu untuk pergi bekerja meninggalkan anaknya. Tentu hal itu biasa bila suami juga bekerja. Menjadi tak biasa karena ternyata peran suami terkonversi menjadi seorang bapak rumah tangga alias yang ngurus anak di rumah.

Saya pribadi percaya, apabila ada wanita yang dihadapkan dengan kondisi serupa di atas dan masih bertahan dengan pasangannya, tentu bisa dikatakan sebagai wanita setia. Tapi kembali, berkaca pada data Dinas Tenaga Kerja sebelumnya, sektor industri juga ternyata lebih membutuhkan tenaga kerja wanita ketimbang pria. Lantas apakah jumlah lapangan pekerjaan untuk pria menipis? Tenang saja, jawabannya tak ada pada tulisan ini

Untuk kata khidmat rasanya kita perlu lebih dalam meresapinya. Tentu tak mudah menyelesaikan sebuah janji, namun di situlah letak ujiannya. Karena setia perlu diuji tho? Seperti kata Del Piero;

“Lelaki sejati tak akan pernah meninggalkan kekasihnya”

()

Penulis: @ayodiki

(karena susah masuk gunakan akun @kontributor_linimasa, maka dengan berat hati gunakan akun @roysayur)

 

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Khidmat: Ketika Setia Patut Diuji Leave a comment

Leave a Reply