Apa Jadinya Kalau Terlalu Banyak Berbagi?

Buat kita yang sudah meluangkan waktu dan uang untuk pergi ke bioskop, tantangan terbesar dalam menikmati jerih payah waktu dan uang kita adalah menghalau sinar terang dari ponsel. Sesuatu yang sebenarnya sudah kita alami sejak ponsel sudah menjadi konsumsi umum masyarakat dari akhir 90-an, namun semakin menjadi-jadi dalam beberapa bulan sampai setahun terakhir ini.

Pasalnya? Apa lagi kalau bukan munculnya aplikasi instant story. Mulai dari Periscope, Snapchat, lalu yang paling populer sekarang Instagram Stories, dan tak ketinggalan WhatsApp, Facebook, sampai cover story di Path. Semua mengajak penggunanya untuk berbagi the exact moment yang mereka alami, saat itu juga, sampai 24 jam kemudian. Toh memang nothing lasts forever.

Forget preserving the moment, let’s treasure the moment instead. Begitu kira-kira filosofinya. Termasuk dalam berbagi momen, sedang nonton film apa di bioskop.

Forget the darkness, let’s just share what we are watching right now! Toh ada sinar dari layar lebarnya. Begitu kira-kira pemikiran yang ada untuk mereka yang suka merekam dan upload potongan film ke akun media sosialnya.

Ponsel atau gawai sudah jadi bagian nyawa dari kita. Susah disuruh untuk lepas barang sesaat. Berpisah dengan ponsel untuk urusan mengurus visa di kedutaan negara asing barang satu jam saja, rasanya sudah seperti setahun. Jadi ide untuk menitipkan ponsel saat masuk ke bioskop sepertinya juga tidak mungkin. Ini juga bukan seperti menitipkan alas kaki waktu mau masuk masjid atau kuil.

Of course the problem is never about the device or the apps. It’s always about the user. It’s how we control what we have.

Bagi saya dan banyak orang, termasuk Anda, pergi ke bioskop saat ini sudah merupakan extra luxurious effort.
Ganti baju yang lebih rapian sedikit. Menghidupkan kendaraan bermotor, atau panggil ojek atau taksi. Bisa juga jalan kaki, karena kebetulan tempat saya tinggal dekat dengan salah satu bioskop. Cuma tidak semua film ditayangkan di sana, sehingga untuk film-film tertentu harus ke bioskop lain. Lalu cari parkir. Sebelumnya, kena macet.
Lalu untuk yang suka ngemil, beli popcorn. Karena tidak sempat pergi di weekdays, maka pergi menontonnya di akhir pekan, yang harga tiketnya lebih tinggi sedikit. Semua kita lakukan supaya bisa pergi keluar, menikmati hawa di luar rumah, dan bersosialisasi, karena kebanyakan dari kita pergi ke bioskop bersama teman, keluarga atau pasangan. It takes a great effort.

Maka wajar kalau semua usaha itu kita nikmati dengan santai dan tenang. Bukan cuma Anda yang layak menikmati, tapi puluhan sampai ratusan orang yang sedang duduk bersama Anda dalam satu waktu tersebut. Semua ingin menikmati, tanpa gangguan dering ponsel, tanpa gangguan sinar ponsel yang glaring, apalagi kalau sampai kamera dinyalakan.

Percayalah, tidak ada apa-apa yang bisa dihasilkan dari berbagi rekaman video potongan film di bioskop ke akun media sosial Anda.
Mau pamer atau bikin iri ke followers? That only fuels your notoriety.
Mau kesandung urusan pelanggaran hak cipta kalau sampai pemilik film tersebut melaporkan Anda? You don’t want to deal with any kind of law violation, ever.
Perlu update? Bisa selfie sebelum film dimulai atau sesudah film berakhir.

Trust me, the magic of cinema begins when we turn off our phone for a while.

Selamat Hari Film Nasional.
Semoga apa yang kita tonton saat mematikan ponsel di bioskop bisa memperkaya hidup.

Iklan

18 thoughts on “Apa Jadinya Kalau Terlalu Banyak Berbagi?

  1. bener mas, saya belakangan ini jarang ke bioskop maksud saya lebih memilih milih waktu pemutaran film, biasanya nyari waktu yang dimana penayangan film yang kira kira sedikit penontonnya. Karena malas saja nonton kalau banyak cobaan, suka kebawa emosi aja karena kita nonton film juga pengennya fokus gitu. ehehehe selamat hari film nasional 😀

    Disukai oleh 1 orang

      1. di solo tempat saya tinggal sih jam segitu rame ramenya bioskop soalnya anak anak baru gede pada pulangan sekolah yang biasanya pada nongkrong di bioskop. Aku biasanya nonton jam setengah 9 atau jam 9an soalnya itu jadwal terakhir pemutaran film yang notabene kebanyakan penonton di isi dengan orang yang lebih dewasa mas

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s