Indeks Kebahagiaan Karyawan

Apa yang sering kalian bincangkan selagi di satu ranjang bersama pasangan? Seks? Penatnya kerjaan? Hewan peliharaan yang sedang diopname? Tagihan listrik? Atau sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan?

Pernahkah kalian iseng googling kata ‘sukses’ dan kata ‘bahagia’? Dengan pencarian menggunakan ejaan dalam bahasa Indonesia tersebut, kita bisa mendapati hasil di mana kata sukses lebih banyak ketimbang bahagia. Ada sedikitnya 117 juta informasi untuk kata sukses lalu 67,5 juta untuk bahagia. Lain dengan ejaan dalam bahasa Inggris, kata success ditemukan pada 1,28 miliar informasi. Sedangkan kata happy dijumpai pada 3,76 miliar informasi yang tersebar. Kalian lihat perbedaannya? Ya! Dalam ejaan bahasa Indonesia, kata sukses lebih populer ketimbang bahagia. Sedangkan dalam bahasa Inggris kebalikannya, hmmm cukup menarik.

Orang yang menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari seperti kita ternyata lebih banyak membicarakan sukses atau kesuksesan daripada bahagia atau kebahagiaan. Mungkin saja ini pengaruh dari beragam latar seperti budaya, watak, tuntutan, kompetisi, dan lain sebagainya. Tapi, memang harus diakui, menceritakan pencapaian dalam karir di sebuah reuni lebih menyenangkan, tapi tidak dengan mendengarkannya. Itu pun terjadi saat sebuah keluarga besar berkumpul. Akan menjadi malapetaka buat kita yang karirnya mentok tanpa ada secercah masa depan yang gemilang, pukpuk.

Bicara mengenai pekerjaan, orang akan melihat sebuah pekerjaan dari berbagai sudut pandang. Tapi di atas semua aspek itu tentu faktor finansial menjadi yang utama. Filosofi ini bisa dijawab melalui pertanyaan sederhana; “Bisakah kita hidup tanpa uang?” Atau yang lebih spesifik; “Di mana kita bisa hidup tanpa menggunakan uang?” Mars? Yang benar saja! Saya tak menggiring kepada pemahaman bahwa uang adalah segalanya, karena dalam bekerja, tentu ada aspek-aspek lain yang menyenagkan seperti teman kerja, lokasi kantor, visi perusahaan yang super kece, dan lain sebagainya. Sebagai informasi, di bawah ini adalah indeks kebahagian karyawan di beberapa negara yang telah diriset oleh PBB:

Indeks karyawan bahagia

Dari gambar di atas, kita bisa melihat negara Iran yang rata-rata pendapatan karyawannya dalam setahun tidak lebih banyak dari Afrika Selatan, memiliki peringkat di atas negara tersebut. Atau Denmark yang ada di peringkat pertama justru memiliki rata-rata penghasilan yang lebih sedikit dari Amerika Serikat (peringkat 6). Saya masih mencerna hasil riset tersebut, karena bagaimana Malaysia yang rata-rata gaji pegawainya Rp 4 juta/bulan bisa masuk di daftar indeks kebahagiaan karyawan tersebut. Mengapa Singapura tak masuk?

Pencarian dengan mesin penjelajah Google saya lanjutkan dengan kata kunci ‘karyawan bahagia’. Hasilnya ada 729 ribu informasi yang mayoritas berisi kiat-kiat bagaimana membuat serta menjadi karyawan yang bahagia dalam bekerja. Tentunya ada korelasi antara produktivitas dalam bekerja dengan indeks kebahagiaan dari karyawan itu sendiri. Lalu mengapa Indonesia tidak masuk pada daftar di atas? Padahal ada 729 ribu informasi akan karyawan bahagia. Asumsi saya adalah mirip dengan fenomena FOMO dalam media sosial. FOMO –the fear of missing out—atau rasa takut akan kehilangan sesuatu selalu menjadi momok bagi para karyawan di Indonesia. Gelombang PHK karyawan setiap tahunnya selalu terjadi menyusul dari tuntutan kenaikan upah minimum di tiap daerah. Tuntutan ini muncul akibat dari inflasi. Cuma, di saat yang bersamaan tentunya daya beli masyarakat juga ikut meningkat di sektor lain. Sehingga secara makro, ekonomi Indonesia masih akan stabil. Lalu sekali lagi, lantas mengapa Indonesia tidak masuk ke dalam daftar indeks kebahagiaan karyawan di atas? Are we happy?

Indutri mebel

Mari sejenak kita lupakan posisi sebagai karyawan. Bagaimana dengan kalian yang bekerja sendiri? Atau kalian yang saat ini berada di level top management? Atau bahkan kalian yang kebetulan sebagai pemilik bisnis? Ukuran sukses mungkin sudah tak perlu dibahas, akan tetapi bagaimana dengan bahagia?

Sebagai yang sedang berada di posisi ‘aneh’, saya sering berbincang dengan istri terkait segala aktivitas yang ada di tempat kerja, tentunya tidak semua keluh kesah diceritakan, karena saya takut membuat dia makin lelah setelah seharian sibuk mengurus anak-anak tanpa asisten. Mengapa tanpa asisten? Ya sederhana saja, karena penghasilan kami tak cukup menutupi biayanya yang tiap tahun ikutan naik. Namun itu bukan hal penting, karena ada keresahaan yang selalu mengganggu di akhir bulan; “apakah kas perusahaan cukup untuk membayar gaji karyawan bulan ini?” Ah setidaknya saya bahagia karena masih satu ranjang dengan istri.

“Tidak ada kebahagiaan bagi seseorang yang saudaranya masih dalam kesengsaraan” –Imam Ali as—


Penulis:

@Ayodiki

 

Posted in: @linimasa

Tinggalkan Balasan