Bintang Tamu Bukan Dewa

Yang punya masa pacaran di tahun 90 atau 2000 an awal tentu ingat akan lagu-lagu karya band Dewa (19). Liriknya memang beragam, ada yang tentang PDKT hingga tentang perselingkuhan, seakan menjadi lagu latar dari tiap perasaan pendengarnya kala itu.

Tapi begitulah Dewa, juga dengan pelaku dunia hiburan lainnya, harus mengakomodir setiap perasaan manusia yang selalu berubah. Ya! Manusia mahluk yang senantiasa berubah. Coba Anda pikir, mahluk mana yang menemukan kata ‘janji’? Tentu saja jawabannya manusia. Lalu mahluk mana pula yang menemukan kata ‘ingkar’? Tanpa ragu kita jawab juga manusia. Mengapa begitu? Ya mengapa tidak, karena itulah manusia, kita punya nafsu di dalam diri.

Bicara nafsu, otak kita sudah dicekokin oleh stereotip negatif akan kata tersebut. Padahal, secara definitif, nafsu adalah keinginan (dorongan hati) manusia yang kuat kepada sesuatu (bisa positif bisa negatif). Bahkan, dalam sebuah ajaran agama terdapat klasifikasi nafsu menjadi tujuh tingkatan, di mana tingkat dasar hingga yang paling tinggi punya tantangannya tersendiri. Yang pasti, tingkat yang paling atas adalah nafsu untuk segala kebaikan, dan hanya orang berkesadaran tertentu yang sanggup nyampe ke tingkat itu. Semua pengertian di atas bukan menurut opini pribadi lho ya. Sengaja diambil sebagai penyeimbang biar ndak terkesan menjadi tulisan ceramah di buletin sembahyang Jumat yang isinya kebanyakan agitasi politis.

Saya sendiri masih suka mengalami kejadian galau (gak konsisten) yang super cepat. Misalnya, habis berdoa memohon untuk dikuatkan iman, eh tak lama berselang sudah explore foto-foto pramusaji sebuah kedai kopi yang body nya aduhai. Entah saya yang bebal atau memang doa tadi belum sempat dikabulkan karena iman saya masih saja ringkih. Kembali ke dunia hiburan, beberapa waktu lalu ada tokoh motivator yang tersangkut kasus yang jauh sekali dari petuah-petuah yang sering ia ajarkan. Atau, ada tokoh agama yang sangat kharismatik dengan jutaan jamaah tapi kemudian terkena aib. Ada juga pasangan selebriti yang selalu berduet menyanyikan lagu-lagu cinta tapi lalu cinta mereka kandas juga di tengah jalan. Katanya cinta sehidup semati? Atau mungkin dengan pembenaran bahwa cinta tak harus memiliki?

Ada juga seorang teman yang pada waktu tertentu akan sangat konservatif namun di lain waktu dia sangat liberal. Contohnya, suatu hari kami berbincang tentang isu politik terkini, pemikiran dia sangat kolot karena anti ini anti itu, benci ini benci itu tanpa dasar yang jelas dan bertanggungjawab. Namun kami berbincang sambil sengaja melewatkan waktu sembahyang, kurang liberal gimana coba? Ada juga teman kuliah dulu yang rak bukunya penuh dengan buku-buku aliran kiri (sosialis) macam Karl Marx, tapi kini dia bekerja di perbankan konvensional. Apa gak kurang kapitalis tuh? Buat Anda yang saat ini kerja di perbankan, sorry to say tapi secara konsep, perbankan memang lahir dari ide kapitalisme. Atau, ada juga seorang teman bule perempuan yang suatu hari curhat karena diteror oleh seorang driver ojek daring. Eh tak tahunya, ada foto-foto dia lagi indehoy dengan salah seorang driver ojek daring. Lha iki piye? Nyatanya kegalauan itu bukan lagi super cepat, akan tetapi maha cepat. Secepat aparat tentara mengganti patung macan lucu dengan macan yang lebih gagah. Tentunya dengan dalih apapun, baik itu tuntutan, cinta, kebutuhan, perut atas, perut bawah, gengsi, ibadah dan lain sebagainya.

Beberapa tahun lalu, saya ikut sebuah seminar bisnis. Bintang tamu atau pembicara utamanya adalah seorang pengusaha muda yang telah sukses membangun ‘kerajaan’ bisnisnya hingga menjamur ke berbagai daerah. Bukan perkara mudah, dia juga telah melewati kejatuhan bisnis yang luar biasa hingga sempat terpuruk. Tapi faktor keluarga yang menjadi kunci untuk bangkit kembali. Namun kini, pemberitaan akan sosok pengusaha muda tersebut agak kurang enak. Dia dilaporkan selingkuh oleh istrinya sendiri, bahkan kabarnya tidak hanya pada satu wanita. “Duh, kenapa ‘mainnya’ gak ‘cantik’ sih?” Komentar saya pertama kali membaca beritanya. Kemudian sesaat tersadar dengan beberapa cerita tokoh hebat lainnya yang antiklimaks, seraya memercayai bahwa bintang tamu bukanlah seorang Dewa yang maha sempurna. Karena sekali lagi, kita perlu menyadari kalau kita adalah seorang manusia.

 

Penulis: @ayodiki

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s