Skripsi dan Dosen Pembimbing

APA yang muncul dalam benakmu saat mendengar kata “skripsi”?

Bagi kamu yang pernah skripsian, pasti teringat semua upaya dan perjuangan ketika masih jadi mahasiswa semester akhir–kecuali kalau situ adalah golongan mahasiswa cerdas berprestasi akademik dan non akademik, atau asisten dosen yang cenderung bisa menyelesaikan tugas akhir tersebut dengan lebih lancar ketimbang para mahasiswa biasa.

Pada dasarnya, skripsi bisa dilihat dari dua sisi; sebagai karangan ilmiah, dan sebagai syarat kelulusan menjadi sarjana. Ada mahasiswa yang fokus menyelesaikan skripsi supaya bisa lekas-lekas diwisuda dan melanjutkan fase hidupnya, ada juga yang ingin segera melanjutkan studi dan penelitian ke jenjang yang lebih tinggi. Biasanya lebih sering terjadi pada bidang eksakta. Tetapi apa pun kondisinya, hampir semua sepakat kalau bikin skripsi itu enggak mudah.

Dalam penyusunan skripsi, kesulitannya (atau tantangan, terserah kamu lebih suka menyebutnya seperti apa) berlapis. Semua muncul satu demi satu.

  1. Diawali dengan harus memahami kaidah berpikir secara ilmiah dengan tepat.
  2. Memilih topik, judul, metode, dan menyusun semua komponen penelitian dengan tepat.
  3. Mengajukan judul penelitian dalam sebuah sidang.
  4. Mulai menjalankan penelitian, atau mengajukan ulang judul yang berbeda.
  5. Mengumpulkan dan menyusun hasil penelitian.
  6. Melakukan konsultasi dan revisi dengan pembimbing.
  7. Memaparkan hasil penelitian dalam sebuah sidang.

Setiap poin memiliki tingkat kesulitannya masing-masing, namun beberapa di antaranya terasa jauh lebih sukar dibanding yang lain. Kesulitan paling berat yang saya alami adalah nomor 6! Untuk menghadapi bagian ini, rasanya, diperlukan gabungan antara keberanian, kecerdasan dan kecerdikan, pengenalan karakter dan kemampuan berkomunikasi, serta keberuntungan.

Sekali dosen pembimbing kesal–entah karena keteledoran kita atau memang dasarnya beliau yang terlalu sensitif saat itu, draf skripsi yang sudah dibuat dengan susah payah pun bisa digantung begitu saja tanpa kepastian.

Dalam hal ini, baik dosen maupun mahasiswa seyogianya harus sama-sama bisa bersikap dewasa. Sebaiknya tidak ada yang bersikap, ehm… katakanlah manja dan merasa sok penting. Si mahasiswa enggak asal main todong lalu memaksa untuk dilayani detik itu juga, sang dosen pun tidak terlalu bersikap layaknya diva yang sulit banget ditemui.

Penting untuk tidak baper. Bagaimanapun, skripsi harus diselesaikan. Jangan karena satu pertikaian kecil, mengorbankan semua uang, waktu, dan tenaga yang dihabiskan di bangku kuliah. Ditinggalkan begitu saja. Mending bayar sendiri, tapi kalau dibayarin orang tua? Kok tega? Kecuali kalau setelah itu yakin banget bisa jadi pengusaha, dan setidaknya mampu membayar kembali semua biayanya.

Hal ini tentu saja kasuistis dan individual. Apabila sang dosen pembimbing memang sedemikian sibuk, tidak ada salahnya bagi kita untuk bertindak efektif dan efisien. Harus pintar-pintar memanfaatkan waktu dan mempersiapkan segalanya dengan baik, biar enggak bolak-balik, supaya lekas selesai dan ditandatangani. Hitung-hitung melatih diri untuk berpikir tuntas, menyeluruh, dan bertanggung jawab. Lagipula, kelihatan banget kok bedanya, antara sibuk benaran dan sekadar arogan.

Saat menyusun skripsi, dulu, saya mesti mencatat semua jadwal kelas sang dosen pembimbing. Awalnya, mengirim SMS kepada beliau untuk janji bertemu. Apabila tidak dibalas, layaknya wartawan yang ngepos di kantor-kantor pemerintahan, saya pun langsung melakukan doorstop encounter, mengadang sang dosen untuk kemudian berbicara sambil berjalan. Syukur-syukur kalau diajak melipir ke salah satu ruangan administrasi terdekat. Diskusi dan konsultasinya tidak lebih dari 20 menit.

Melelahkan? Tentu. Gara-gara lama menunggu, dan deg-degan. Khawatir bisa dimarahi, diomeli, atau bahkan ditepis karena dianggap mengganggu. Untungnya, skripsi selesai tepat waktu. Sebab tak berapa lama setelah sidang presentasi, sang dosen berangkat untuk studi S-3. fyuuuh ~~~

Kondisi ini tentu saja situasional. Apa yang saya anggap sebagai kesulitan saat berurusan dengan dosen pembimbing, barangkali karena faktor keadaan saja, atau sebenarnya tidak sesulit yang saya bayangkan. Namanya juga pengalaman pertama dan satu-satunya. Bisa banget berbeda dengan yang kamu atau orang lain alami.

Makanya, saya senang banget saat melihat foto di bawah ini. Saya minta dari akun Path teman.

Coba tebak yang mana dosennya? 😄😄😄

Sigar semongko-nya, yang seorang dosen, mengundang para mahasiswa untuk datang ke rumah dalam melakukan konsultasi selepas magrib. Sangat memudahkan dan membantu mereka agar bisa segera menuntaskan studinya.

Terlepas dari apakah skripsi hanya diperlakukan sebagai syarat kelulusan, atau benar-benar merupakan karya ilmiah yang isinya penting untuk terus dikembangkan, yang jelas situasi di atas jauh terkesan lebih bersahabat. Mana tahu, bisa menghasilkan sarjana berkualitas dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Demikian gambaran idealnya, dan mudah-mudahan makin banyak dosen yang bisa luwes seperti ini. Bukan untuk menggampangkan atau meremehkan tahapan-tahapan pendidikan formal, tapi sesederhana untuk tidak mempersulit orang.

Buat kamu, para mahasiswa yang baru memulai atau tengah mengerjakan skripsi, pokoknya selesaikan! Percaya deh, masih banyak hal sulit dan berat lainnya yang bakal dihadapi setelahnya.

Tetap semangat!

[]

Iklan

5 thoughts on “Skripsi dan Dosen Pembimbing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s