Pubic Figure

https://kurtbrindley.com/2017/03/04/shades-of-love-from-womens-march-in-jakarta/
https://kurtbrindley.com/2017/03/04/shades-of-love-from-womens-march-in-jakarta/

Tepat setelah Women’s March Jakarta lalu, seseorang dengan follower 10K menuliskan pendapatnya di Instagram. Lepas dari jujur berpendapat atau sekedar mencari sensasi, pendapatnya itu menuai banyak kritikan dan kecaman. Namun yang lebih menarik perhatian saya adalah gelar “Public Figure” yang dicantumkannya sendiri. Pertanyaan dalam hati saya, kok sebagai bagian dari public, saya tak merasa difigurekan olehnya.

Pernah suatu masa, gelar DIVA ramai dibicarakan. Terutamanya karena banyak artis terutamanya penyanyi yang menyebut dirinya sendiri ‘diva”. Bahkan sampai ada group penyanyi dengan nama Tiga Diva. Gelar-gelar seperti Diva, Selebritas, Creme de la Creme, Legend dan sebagainya adalah gelar yang diberikan orang lain. Terutamanya media massa. Kalau sekarang mungkin gelar Celebtweet dan Celebgram diberikan oleh para followersnya. Ini bukan soal salah benar atau tinggi rendah hati. Tapi soal pemahaman diri atas kedudukan dan fungsi kita di masyarakat.

Di awal-awal Twitter, ada seorang Putri Daerah yang dengan terang-terangan melalui tweetnya mengakui cita-citanya ingin menjadi Public Figure. Tentunya tweet itu mendapat sambutan dan keseruan bersama. Maklumlah saat itu Twitter masih enteng hati. Dan tentunya setelah Putri Daerah itu pindah bekerja di Ibukota, teman-temannya masih sering mengganggunya “ciyeee apa kabar nih Pubic Figure kita? Udah dijual belum figurinenya?”

Dalam perdebatan di Instagram ditulis di atas itu pula, muncul lagi seorang yang menulis komen “we are as urban educated influential young men”. Urban, okelah mungkin karena dirinya tinggal di kawasan Urban.Tapi sudahkah dia berperilaku sebagai warga Urban? Educated, nanti dulu. Apakah gelar sekolah saja menjadikan dirinya educated? Influential, masyarakat yang mana yang pernah dipengaruhinya. Young, itu relatif. Men, mana foto tititnya? Ergh… ya okedeh :)))

Silakan google sendiri soal gelar-gelar di atas. Maka akan kita temukan selain gelar itu harusnya diberikan orang lain, tapi ada tanggung jawab dibalik gelar itu yang tak kalah beratnya. Seorang public figure sejati akan sangat berhati-hati sebelum menyampaikan pendapatnya. Dengan pertimbangan apakah pendapatnya akan membawakan dampak besar di masyarakat. Seorang yang telah mendapat gelar Diva, akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga keindahan suara dan aksi panggungnya. Bahkan makna sebenarnya Selebritas pun terkait dengan kekayaan yang dimilikinya. Dengan ketenarannya itulah dia bisa menambah uang yang diterimanya. Contoh gampang selebritas adalah Kim Kardashian. Jadi kalau uang pas-pasan sebaiknya jangan mengaku Selebritas. Apalagi kalau hanya menggunakan jumlah followers sebagai patokan.

Kesalahan besar pun sebenarnya sering berawal dari media yang sering memberikan gelar tanpa cek dan ricek. Baru gemar memasak, disebut Chef. Karena rajin nongol di acara bergengsi, langsung disebut Selebritas. Sepertinya semakin banyak yang mendapat gelar Pakar dari media. Benar pakar? Nanti dulu. Benarkah sudah ada kesepakatan untuk menyebut seorang Pakar? Apa karena hanya sangat aktif bersuara dan kencang berpendapat saja? Gampang amaaat.

Bayangkan orang-orang yang setengah mati mencari ilmu dan mengabdikan dirinya untuk kehidupan namun tak banyak bersuara, akan tenggelam perlahan. Atau orang yang sangat dikenal bukan hanya terkenal, tapi tak aktif di media sosial. Orang yang sudah melanglang buana keliling dunia puluhan tahun lamanya, tapi tak satu pun postingannya di Instagram. Gelar Traveller pun tak diberikan untuknya. Sampai di sini, sudah pahamkah akan bahayanya memberikan gelar untuk diri sendiri?

Yang terutama adalah meniadakan kerja keras dan konsistensi yang harus dilakukan untuk mendapatkan gelar itu. Yang keduanya adalah ketidak sinkronan antara gelar dengan tingkah laku dan ucapannya. Yang ketiganya adalah hidup dalam dunianya sendiri yang diyakini sebagai satu-satunya kebenaran. Inilah awal mula dari kekagetan berujung tindakan kekerasan saat harus menghadapi kebenaran yang lain.

Tak perlu pula pura-pura rendah hati. Saat gelar sudah diberikan, silakan saja untuk menikmatinya kalau menguntungkan. Atau pasrah kalau membuntungkan. Berbagi pengalaman sedikit. Setiap habis diinterview oleh media, hal yang paling menarik untuk dinantikan adalah gelar yang diberikan untuk saya. Apalagi mengingat saya orangnya suka mengerjakan banyak hal. Entrepreneur misalnya. Hanya karena saya berjualan tote bag. Kenapa tak tulis saja pedagang tote bag. Atau Creativepreneur. Mengapa tak sebut saja Creative Freelancer for Advertising. Seasoned Freelancer, padahal bilang aja Freelancer Tua (-yang sudah tak laku). Blogger, padahal blog saya sudah mati 6 tahun yang lalu bahkan passwordnya pun sudah lupa. Atau yang terakhir, Flanneur. Yang sampai sekarang saya belum paham maknanya.

Iklan

13 Comments

  1. Ada yang sering beredar untuk mendiskreditkan pemerintah sekarang tulisan oleh seorang “wartawan senior” padahal mah kalau dicek, mantan wartawan tua udah Ga kerja di media lagi dan dulu pernah jadi bayaran kubu Prabowo (maaf dendam).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s