Menolak Tua tapi Tidak Takut Mati

Hari ini sudah seminggu kondisi kesehatan saya menurun drastis. Mungkin biasanya kebanyakan orang akan menyalahkan cuaca, kalau saya menyalahkan seblak Pademangan yang saya makan hari Jumat lalu. Sungguh enak memang seblak legendaris itu, tetapi saya curiga kalau memasaknya menggunakan gula sebagai salah satu bumbu. So my immune system was compromised. Setelah itu saya tepar dengan tenggorokan seperti ada siletnya selama tiga hari, lalu dengan percaya diri masuk hari Kamis, dan demam malam harinya, sehingga harus istirahat lagi Jumatnya.

Akibatnya saya harus melewatkan dua training internal. Yang satu diberikan oleh seorang personil SEO yang baru masuk, dan yang satunya lebih ke public speaking. Ketika Kamis, sang personil SEO menghampiri saya, sebut saja namanya Didi, sambil update ini itu. Sepanjang update yang hanya kurang lebih sepuluh menit itu dia berdehem puluhan kali juga. Saya awalnya tidak terlalu memerhatikan. Tetapi lama lama…

“Di, yang abis radang tenggorokan kan gue ya, kenapa elu yang berdehem terus sik?”
“Iya nih Mbak, aku gini ini kalau minum kopi atau air dingin.”
“Oh, alergi?”
“Iya.”

Lalu dia melanjutkan bicaranya. Untuk beberapa menit kemudian saya interupsi lagi.

“Kalau udah tau alergi kenapa tetap diminum juga?”
“…”

Ketika pembicaraan selesai, perasaan saya agak terbelah antara kasihan atau ingin memiting dan menjejalinya dengan Ricola. Kemudian saya berpikir kembali. Didi itu benar benar personil baru di kantor, dan saya mungkin baru dua kali bertemu muka dengannya. Biasanya orang baru buat saya, kualitas dia yang agak gengges awalnya akan saya cap quirk khas dia. Dan sehabis itu memakan waktu berbulan bulan sebelum saya menyatakan dengan sah kalau itu adalah kualitas yang mengganggu dan bisa membuat saya komentar tanpa terlalu peduli perasaan dia. Tetapi kini, hanya cukup sekali pertemuan saja, saya sudah terganggu.

************Start up page

Am I getting old? Soalnya kan, kabarnya kalau kita tambah tua akan tambah mudah terganggu dan grumpy. Kemudian saya temukan daftarnya. Tetapi untungnya banyak yang saya tidak setuju. Seperti soal teknologi; untuk era kompetisi pekerjaan seperti ini, siapa yang berani tidak keep up dengan teknologi? Mengenai soal mengangkat berat juga saya kurang setuju. Begitu juga soal tidak mengetahui lagu top 10, berkat si anak yang tidak mau pindah stasiun radio, saya hapal mati lagu top 10.

Tetapi ada benarnya soal sekarang nyaris tak ada acara yang bisa membuat saya mengenakan sepatu hak tinggi. Thank goodness for sneakers with everything trend, right? Mudah mudahan akan bertahan selamanya. Juga ketika saya sedang “bersenang-senang” di luar rumah bersama teman teman yang tak terlalu dekat, saya sering terdiam dan rindu tempat tidur dan TV atau buku saya di rumah. Juga, saya sekarang sering menatap lama dokter saya sambil menebak dalam hati umurnya. Kebanyakan sih, saya tebak tidak lebih dari 27, dan saya merasa tua.

But age is just numbers (as long as we don’t develop metabolic syndrome which can be achieved with eating right and physical activity) right? Aku menolak tua secara tradisional, walau tidak menolak mati. Forever in denial. Anda sendiri bagaimana? Ada atau banyak di daftar ini yang sudah dilakukan atau dialami?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s