Jawaban Para Penulis Linimasa

KAMI senang!

Dalam “Survei Pembaca Linimasa” beberapa pekan lalu, kami menerima banyak masukan yang oke dan menarik, juga komentar yang lucu dan bikin ngakak. Beberapa di antaranya bahkan seolah kembali mengingatkan kami, “why we keep on writing?”

Tidak hanya itu, ada sejumlah pertanyaan yang disampaikan dan sepertinya mesti dijawab banget. Salah satu responden malah memberikan lima pertanyaan sekaligus. Jadi, supaya enggak bikin penasaran dan menggantung perasaan, berikut adalah jawaban dari para penulis di Linimasa… minus Fa yang masih dalam fase jeda; Kang Agun yang entah sedang kenapa dan di mana, serta Bang Hasan Aspahani sebagai penulis tamu.

Khusus untuk Mas Roy yang sayur, sepertinya sedang sibuk. Sampai tulisan ini di-posting pun, belum setor jawaban. Mungkin nanti bakal disusulkan. Cek secara berkala deh.

Berikut adalah lima pertanyaan tersebut:

1. Apakah kalian tidak punya Sosial Project yang melibatkan pembaca linimasa untuk berkolaborasi di tahun 2017 ini?
2. Apa keresahan yang paling menyita pikiran kalian sewaktu Kuliah?
3. Kenapa tidak ada survei rentang usia pembaca linimasa?
4. Apakah kalian pernah berpikir Pertemuan awal kalian semua sampai akhirnya konsisten menulis di linimasa ini untuk dijadikan sebuah film yang menginspirasi masyarakat dalam hal menulis dan berpikir kreatif dalam hiruk-pikuk keseharian?
5. Di usia linimasa yang ke 5, apa cita-cita mulia yang masing-masing penulis linimasa ingin lakukan?

… dan ini adalah jawaban-jawabannya.

> Glenn

  1. Apakah kalian tidak punya Sosial Project yang melibatkan pembaca linimasa untuk berkolaborasi di tahun 2017 ini? – Roy yg bisa jawab
  2. Apa keresahan yang paling menyita pikiran kalian sewaktu Kuliah? – tugas kuliah dan kiriman uang

  3. Kenapa tidak ada survei rentang usia pembaca linimasa? – tanyakan dragono halim

  4. Apakah kalian pernah berpikir Pertemuan awal kalian semua sampai akhirnya konsisten menulis di linimasa ini untuk dijadikan sebuah film yang menginspirasi masyarakat dalam hal menulis dan berpikir kreatif dalam hiruk-pikuk keseharian? – mau ngumpul aja susah

  5. Di usia linimasa yang ke 5, apa cita-cita mulia yang masing-masing penulis linimasa ingin lakukan? – linimasa belum 5 tahun kan

> Nauval

  1. Apakah kalian tidak punya Sosial Project yang melibatkan pembaca linimasa untuk berkolaborasi di tahun 2017 ini?
    terserah Roy
  2. Apa keresahan yang paling menyita pikiran kalian sewaktu Kuliah?
    tugas kuliah, nilai ujian akhir, ancaman gak lulus mata kuliah, kiriman uang

  3. Kenapa tidak ada survei rentang usia pembaca linimasa?
    kayaknya udah dibikin ama Dragono

  4. Apakah kalian pernah berpikir Pertemuan awal kalian semua sampai akhirnya konsisten menulis di linimasa ini untuk dijadikan sebuah film yang menginspirasi masyarakat dalam hal menulis dan berpikir kreatif dalam hiruk-pikuk keseharian?
    nggak pernah. Pertemuan awal semua orang malah pas Linimasa udah setahun lebih.

  5. Di usia linimasa yang ke 5, apa cita-cita mulia yang masing-masing penulis linimasa ingin lakukan?
    Linimasa belum juga 3 tahun umurnya.

> Leila

  1. Apakah kalian tidak punya Sosial Project yang melibatkan pembaca linimasa untuk berkolaborasi di tahun 2017 ini? – Aku support Roy Dan yang lain if anything come up.
  2. Apa keresahan yang paling menyita pikiran kalian sewaktu Kuliah? – Masa depan (mau jadi apa si, secara nilai pas pasan), nilai mata kuliah yang kreditnya banyak, dan skripsi yang dosennya sulit banget ditemui.

  3. Kenapa tidak ada survei rentang usia pembaca linimasa? – Kayaknya sudah ada ya ketika angket kemarin.

  4. Apakah kalian pernah berpikir Pertemuan awal kalian semua sampai akhirnya konsisten menulis di linimasa ini untuk dijadikan sebuah film yang menginspirasi masyarakat dalam hal menulis dan berpikir kreatif dalam hiruk-pikuk keseharian? – Siapalah kami ini pake difilmkan segala, kalau Pepo dan memo saja belum ada filmnya.

  5. Di usia linimasa yang ke 5, apa cita-cita mulia yang masing-masing penulis linimasa ingin lakukan? – Iya ya, kan belum 5 tahun, gimana jawabnya?

> Gandrasta

  1. Apakah kalian tidak punya Sosial Project yang melibatkan pembaca linimasa untuk berkolaborasi di tahun 2017 ini? – Ndak punya.
  2. Apa keresahan yang paling menyita pikiran kalian sewaktu Kuliah? – AIDS apa cuma radang tenggorokan.

  3. Kenapa tidak ada survei rentang usia pembaca linimasa? – Masa?

  4. Apakah kalian pernah berpikir Pertemuan awal kalian semua sampai akhirnya konsisten menulis di linimasa ini untuk dijadikan sebuah film yang menginspirasi masyarakat dalam hal menulis dan berpikir kreatif dalam hiruk-pikuk keseharian? – Amit-amit.

  5. Di usia linimasa yang ke 5, apa cita-cita mulia yang masing-masing penulis linimasa ingin lakukan? – Belum 5 taun. Tapi punya cita-cita: jadi berlian.

> Dragono

  1. Apakah kalian tidak punya Sosial Project yang melibatkan pembaca linimasa untuk berkolaborasi di tahun 2017 ini? – Ndak tahu sih, saya ngikut Mas Roy aja. Tapi, menurutku, sudah dimulai dengan menerima tulisan pembaca juga.
  2. Apa keresahan yang paling menyita pikiran kalian sewaktu Kuliah? – Punya duit buat bayar SPP semester ini ga ya? Habis gini mau ngapain? Apa tujuan dari penciptaan semesta dan eksistensi manusia? Aku kok jelek? Seriusan.

  3. Kenapa tidak ada survei rentang usia pembaca linimasa? – Sebagai penyusun survei, sengaja enggak mencantumkan pertanyaan itu. Yaudahsik, kalau tua mah tua aja. Ga perlu dipertegas. 😅

  4. Apakah kalian pernah berpikir Pertemuan awal kalian semua sampai akhirnya konsisten menulis di linimasa ini untuk dijadikan sebuah film yang menginspirasi masyarakat dalam hal menulis dan berpikir kreatif dalam hiruk-pikuk keseharian? – Ndak sampai segitunya.

  5. Di usia linimasa yang ke 5, apa cita-cita mulia yang masing-masing penulis linimasa ingin lakukan? – Waduh, ya belum kebayang sih. Tapi mudah-mudahan tetap punya common sense, dan ga nyusahin orang lain.

[]

Posted in: @linimasa

9 thoughts on “Jawaban Para Penulis Linimasa Leave a comment

  1. “karena internet butuh lebih banyak hati”
    di update dong jawabannya, buat penulis Linimasa yang belum jawab 🙂

    Saya senang membaca tulisan-tulisan di linimasa. Pernah beberapa tahun lalu waktu UAS di kuliah, saya malah membuka arsip dan membaca tulisan-tulisan di linimasa. Dan ketika UAS yang beberapa hari itu selesai, baru saya buka kembali materi kuliah yang di ujikan lalu membaca banyak referensi yang berkaitan setelahnya. Di dunia bernama internet, banyak hal yang rasanya lebih menarik dibanding hal penting yang harus kita kerjakan disana. Saat mengerjakan tugas kuliah saya misalnya, 3 tab pertama adalah hal-hal yang biasanya masih menyangkut materi (tugas) kuliah. Dan 10 tab berikutnya, berbagai media sosial, video-video keren di youtube dan linimasa.com yang isi tulisannya membantu pemikiran saya yang cenderung sempit ini menjadi sedikit lebih terbuka.

    Beberapa kali tulisan dari linimasa saya share ke grup chat kelas, dengan tujuan untuk membudayakan one day one share dari artikel yang sudah dibaca untuk saling menambah wawasan selain tentang ilmu di perkuliahan. Namun pada faktanya, terlalu banyak stiker jempol daripada feedback yang membalasnya dengan share artikel lain yang saya harapkan itu terjadi keesokan harinya. Tapi, ya sudahlah, yang penting saya sudah mencoba memprovokasi grup agar pembahasannya tidak itu-itu saja (tugas kuliah, jadwal ganti dosen, gosip, kisi-kisi materi ujian, dan hal-hal yang dirasa kurang memperluas perspektif). Apakah akan menjadi menarik atau tidak saya pikir itu hanya soal selera bacaan saja. Tapi benang merahnya ternyata, ada pada tingkat rasa ingin tahu seseorang terhadap sesuatu.

    Dari jawaban para penulis linimasa, saya mengamini jawaban Gandrasta pada pertanyaan ke 5 itu. Mengingat proses menjadi berlian itu tidak semudah mengedipkan mata kiri dan kanan secara bergantian.

    😀

    1. Wow! Terima kasih atas tanggapannya, dan mudah-mudahan kita semua bisa jadi “berlian”.

      Untuk jawaban para penulis lain, mohon maaf belum ada. Sampai saat ini, Kang Agun masih raib.

        1. Ehm, entah. Kayaknya belum nemu deh. Tapi kalaupun berasa sudah nemu, belum tentu yg ditemuin itu juga bisa diterima oleh yg lain. Misalnya: “tujuan penciptaan adalah sebuah konsekuensi, keniscyaan, dan berjalan apa adanya.”

Tinggalkan Balasan