Mencari Faedah

joke-1

Penjelasan dari kata lucu, geli, jenaka, dan humor adalah meliputi kata itu semua. Dalam kamus resmi, tidak ada definisi yang rinci selain dari pemaknaan kata tersebut oleh kita dalam keseharian. Wajar ketika ingin menguasai suatu bahasa, kita harus melakukannya berulang-ulang.

Malam menjelang tidur. Layaknya generasi modern lainnya, saya pun sering swipe-swipe layar telepon genggam dengan kepala miring ke kiri dan ke kanan, itu merupakan kebiasaan yang ‘biasa’ untuk saat ini. Saya mengawalinya dengan membuka aplikasi pesan singkat, karena informasinya macam-macam mulai dari topik agama, mesin kendaraan, aktivitas sosial, politik terkini, dan lawak! Ya, cerita lucu adalah bagian favorit.

Saya ingat enam tahun ke belakang belum banyak aplikasi pesan singkat dan memuat banyak grup. Mungkin saat itu, media sosial masih sangat perkasa dalam menghubungkan kehidupan manusia. Dan apa yang kini terjadi, merupakan sebuah fenomena berulang dengan alat yang berbeda. Hanya faktor kecepatan saja yang kian bertambah. Mungkin kita bisa tengok di telepon seluler kita ada sepuluh, dua puluh, atau lebih grup percakapan. Grup kantor, grup orang tua murid di sekolah anak, grup pengajian komplek, grup organisasi kampus, grup anak nongkrong kampus, grup tukang bolos waktu SMP, grup pencari janda, grup pengurus RT, grup keluarga inti, grup keluarga mertua, dan grup-grup lainnya. Itu yang permanen, belum lagi yang hanya sementara waktu saja dan kemudian dibubarkan.

Saya dan mungkin juga kebanyakan dari kita tentu hanya fokus ke beberapa grup saja yang tentunya menyenangkan. Definisi menyenangkan akan berbeda sesuai selera masing-masing. Oya, saat tulisan ini dibuat, saya banyak sekali mendapat informasi mengenai daerah yang banjir akibat hujan lebat. Sekali lagi, saya terlebih dahulu tahu dari grup percakapan ketimbang berita dari media mainstream. Kecepatannya yang sama bukan? Ditambah dengan istilah “sebar dulu, verifikasi belakangan” cukup menjadi booster bagi penyebaran informasi itu sendiri.

Plato menyusun ajaran mengenai suasana hati yang ditentukan oleh cairan, untuk itu kata humor berasal dari ‘umor’ yang artinya cairan dalam bahasa Yunani. Namun, definisinya sedikit bergeser dengan zaman sekarang di mana humor adalah berhubungan dengan rasa gembira. Salah satu fungsi humor menurut Sujoko (1982) yakni; Dapat menyadarkan orang bahwa dirinya tidak selalu benar. Exactly! Saya suka fungsi humor yang satu itu. Karena dengan humor, kita dapat memelajari sesuatu melalui sudut pandang yang berbeda dan menyenangkan.

Bentuk humor masa kini pun beragam, ada tulisan, audio, video, dan gambar. Tak berhenti di situ, informasi lawak pun terbagi ke dalam beberapa aliran atau jenis. Tentunya, humor dewasa sangat laku dengan penghuni grup percakapan yang paling banyak, bahkan hingga waiting list. Kegembiraan menjadi magnet, karena di dalamnya kita lupa bahwa kita sedang murung.

Bagaimana humor bisa tingkatkan harapan seseorang? Mungkin karena tertawa bisa mengusir pemikiran negatif (Psikolog David H. Rosen)

Seseorang bisa menjadi akrab? Tentu dengan kegembiraan. Seorang wanita bisa luluh hatinya? Tentu dengan membuatnya gembira. Lantas apalagi yang kita butuhkan selain informasi yang menggembirakan? Ingat perkataan mantan yang dulu pernah bilang; “Aku suka kamu, soalnya kamu suka bikin aku ketawa?”

Seorang pemotor melaju kencang di jalan raya. Tanpa sengaja dia menabrak burung pipit yang jatuh dan tak sadarkan diri. Dibawanya burung itu ke rumah lalu dimasukan ke dalam sangkar dan diberinya roti dan air.

Tak lama burung pipit siuman. Dia terkejut bukan kepalang seraya berkata; “Jeruji, roti, air” Tunjuknya dengan sangat ekspresif. “Ya Tuhan, apakah aku telah membunuh pemotor tadi?”

Seorang teman yang sehari-harinya menyebarkan ajaran-ajaran agama di media sosial, kemudian saya temui dia sedang mengolok –ejekan akrab antarteman- dengan sesuatu yang tak pantas bagi orang lain di sebuah grup percakapan. Inilah paradoks manusia yang dituturkan lewat salah satu fungsi humor di atas tadi, bahwa manusia tidaklah sempurna. Lalu apa faedahnya kita menyebarkan informasi kengerian nan bohong yang berulang-ulang?


Penulis: Dicky Achmad // Kontributor Linimasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s