Sombong & Angkuh

BANYAK fiksi populer yang menjadikan kesombongan dan keangkuhan sebagai bibit konflik. Kedua sifat buruk manusia itu merupakan bahan bakar cerita, sekaligus motivasi utama yang menggerakkan para lakon antagonis melakukan aksi-aksinya.

sombong

angkuh

Karena kesombongan, sang antagonis bertinggi hati. Memandang diri maupun kelompoknya sendiri lebih unggul dan mulia. Lalu dengan angkuhnya, merasa pantas untuk menghina, mendera, menindas, terlebih menyiksa yang lain.

Dalam cerita Harry Potter, Voldemort dan pengikutnya menganggap para penyihir berdarah murni (pure-blood) memiliki derajat lebih mulia dibanding yang berdarah campuran (half-blood, mud-blood), apalagi muggles alias manusia biasa.

Dalam cerita “X-Men”, kelompok yang dipimpin Magneto menganggap para mutan lebih unggul dan sempurna dibanding manusia biasa. Sebaliknya, para manusia biasa juga menganggap mutan adalah makhluk-makhluk cacat dan abnormal, dengan kemampuan yang membahayakan.

Dalam cerita “Divergent”, faksi orang-orang terpelajar dan cendekia (Erudite) merasa lebih unggul dibanding kelompok-kelompok lainnya. Mereka memanfaatkan kepandaian dan kelicikan yang dimiliki untuk menguasai kepemimpinan mutlak.

Dalam cerita “The Help”, insiden kue pai cokelat terjadi karena kejahatan rasial. Para pramuwisma berkulit hitam diperlakukan dengan buruk dan semena-mena, bahkan disebut “berpenyakit” oleh majikan mereka.

“The Help” Foto: Pinterets

Dalam cerita “Ip Man 2” dan “Dangal”, terasa sangat menyenangkan saat melihat Ip Man berhasil mengalahkan Twister, petinju asing yang merendahkan kungfu Cina. Juga ketika Geeta Phogat akhirnya bisa menang melawan pegulat dari Australia yang pongah, dan sempat memperolok salam namaste-nya India.

Bahkan dalam cerita rakyat “Si Kancil dan Siput” pun, kesombongan dan keangkuhan membuat si kancil teledor. Ia dikalahkan siput dalam lomba lari!

Diterima sebagai bagian dari paket hiburan, mudah saja bagi kita untuk “menikmati” pesan moral dari cerita-cerita di atas. Akan tetapi, sayangnya, tragedi kemanusiaan atas dasar kesombongan dan keangkuhan juga banyak terjadi di kehidupan nyata. Tercatat dalam perjalanan sejarah manusia.

Kesombongan dan keangkuhan setan (atau Lucifer) sebagai makhluk yang diciptakan terlebih dahulu, membuatnya tidak mau menuruti perintah untuk menghormat Adam, sang manusia.

Perang Kurukhsetra dalam epos Mahabharata, dipicu oleh kesombongan dan keangkuhan kubu Kurawa terhadap Pandawa (begitupun sebaliknya). Meskipun saling bersepupu, namun Duryodhana selalu berusaha menghinakan para Pandawa, istri, dan ibunya.

Devadatta yang sombong dan angkuh tidak mau begitu saja menerima kebuddhaan sepupunya; Siddhattha Gotama. Ia lakukan beberapa hal untuk merendahkan ajaran, memunculkan kebingungan, dan memecah belah komunitas murid Buddha. Salah satunya berhubungan dengan praktik vegetarianisme.

Pada zaman Nabi Musa, Firaun begitu angkuh. Ia mempertuhankan dirinya sendiri, dan menjadikan bangsa Israel sebagai budak.

Dari sudut pandang telaahan sosio-politik Kristen, peristiwa penyaliban juga terjadi karena campur tangan kaum Farisi yang digambarkan angkuh.

Seorang Farisi dan seorang Romawi. Foto: musingsfromunderthebus.wordpress.com
Seorang Farisi dan seorang Romawi. Foto: musingsfromunderthebus.wordpress.com

Apakah kesombongan dan keangkuhan juga berperan terhadap berdirinya mazhab Sunni dan Syiah dalam Islam?

Sama-sama berupa peperangan tapi berbeda lingkup dan keadaan, ada Perang Salib. Tercatat ada sembilan kali, dan berlangsung secara terpisah dalam hampir 200 tahun! Bukan hanya pertempuran untuk merebut kota suci Yerusalem atas dasar klaim agama paling benar, tetapi juga serangan pasukan Katolik kepada kaum bidah, para kafir, penganut paganisme atau para penyembah berhala. Angkuh, dan over pride.

Dalam era Conquistador, atau masa-masa penaklukan benua Amerika oleh orang Eropa, diperkirakan ada puluhan juta bangsa asli dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang dibunuh. Kondisi nahas serupa juga terjadi pada orang Aborigin di Australia. Dari beberapa alasan yang melatarbelakangi aksi genosida ini, salah satunya adalah pandangan bahwa bangsa kulit putih lebih mulia dan beradab dibanding penduduk Indian.

Pandangan berbahaya tentang keunggulan salah satu ras ini terus berlanjut pada waktu dan lokasi berbeda di dunia. Ada Adolf Hitler dengan Nazismenya di Jerman, yang selalu menyerukan keutamaan Bangsa Arya. Juga terjadi di Afrika Selatan dengan politik Apartheid-nya, maupun yang berlangsung di Amerika Serikat sampai era 60-an dengan kebijakan pemisahan rasial.

Foto: family-camping-tents.info
Foto: family-camping-tents.info

Kesombongan dan keangkuhan terus diumbar-umbar hingga detik ini. Ada Presiden Trump dengan dorongan untuk tumbuh kembalinya paham White Supremacy, rencana pembangunan tembok pemisah perbatasan dengan Meksiko, pencekalan imigrasi untuk tujuh negara muslim, penolakannya terhadap aktivitas jurnalisme, dan hinaan terhadap peninggalan administrasi Obama.

Tak hanya di luar negeri kok, kesombongan dan keangkuhan juga dibiarkan tumbuh subur di Indonesia. Tepat di depan mata kita sendiri! Penyebabnya bermacam-macam; dari perbedaan yang bersifat SARA, perbedaan mazhab dalam internal komunitas agama, perbedaan status sosial ekonomi, perbedaan gelar, perbedaan posisi transaksional, perbedaan orientasi seksual, perbedaan pilihan politik, perbedaan lokasi dan domisili, bahkan termasuk perbedaan preferensi saat meminum kopi (pesan latte atau cappuccino dicampur gula).

Foto: Suara.com
Foto: Suara.com

Apakah pernyataan di atas berlebihan? Kayaknya tidak. Sebab munculnya kesombongan dan keangkuhan hanya memerlukan perbedaan yang disikapi dengan keburukan serta kebencian. Setelah muncul, sangat gampang berkembang menjadi tindakan. Setelah terjadi, baru deh kelabakan dan merasa kecolongan.

Oh ya, kesombongan dan keangkuhan bisa terjadi pada dua sisi secara bersamaan kok. Terhadap seseorang yang berlaku sombong dan angkuh kepada orang lain, maupun seseorang yang merasa menjadi korban kesombongan dan keangkuhan orang lain.

Salah satu contohnya, ada yang sombong menantang hujan. Setelah banjir terjadi di Jakarta tempo hari, kemudian dibalas juga dengan keangkuhan yang senada. Entah disadari atau tidak, semuanya sama saja.

Jadi, lebih baik hati-hati.

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s