Semua Itu Ada di Kita

Jika dihadapkan dengan tantangan hidup, manusia memiliki pilihan; merujuk ke satu sumber untuk melaluinya, bertanya dengan orang yang lebih pandai, atau mencari referensi sebanyak-banyaknya dari bertanya, membaca, kemudian memulai proses pertimbangan dan berpikir sendiri untuk akhirnya memutuskan jalan keluar dari tantangan tersebut yang terbaik, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga semua orang yang terkait.

Untuk sebagian yang memilih untuk mengambil cara satu dan dua, karena alasan ilmu pengetahuan yang belum sampai, akal yang belum sampai, atau hanya memang berpegang pada satu buku dengan meyakini secara buta bahwa itulah kebenaran yang sejati dan mutlak, tentu tidak ada proses berpikir lagi setelahnya. Karena akhirnya benar atau salah, diserahkan ke buku atau orang yang lebih pandai tersebut. Jika ternyata menurut dia keputusan salah, ya pasrah saja. Ikhlas? Cerita lain.

Atau seorang manusia juga bisa memilih jalan ketiga. Menjadikan beberapa buku referensi dan guideline. Bertanya ke orang lain dengan pengalaman, karena dari situ kita bisa belajar. Setelah semua informasi dirasa cukup, akal sehat mulai bekerja. Karena tidak ada tantangan manusia yang sama persis, dan situasi yang sama persis. Akhirnya setelah pemikiran didapatlah jalan terbaik, atau mungkin kedua terbaik atau hampir terbaik. Apakah tantangan pasti terjawab? Belum tentu! Ikhlas? Mudah mudahan.

“Apakah itu seorang yang sedang melakukan ibadah atau seorang murid, ketika sedang menunggu untuk diajarkan tentang kebenaran mutlak (atau hal lainnya), dia akan belajar bahwa tidak ada ilmu yang orang lain bisa ajarkan. Seseorang akan belajar ketika dia berhenti minta diajarkan, dan mengetahui bahwa dirinya sudah paham bagaimana caranya hidup yang terbaik, dan itu didapat dari cerita hidupnya selama ini. Rahasia kehidupan ternyata bahwa tidak ada rahasia.

buddha-quote

Dunia ini apa yang kita lihat saja, tidak ada arti yang tersembunyi. Sebelum menemukan pencerahan, seorang manusia akan bangun pagi, pergi bekerja, bercinta dengan suami atau istrinya, makan malam, dan tidur. Tetapi begitu menemukan pencerahan, dia akan bangun pagi, pergi bekerja, bercinta dengan suami atau istrinya, makan malam, dan tidur.

Cara Zen untuk melihat kebenaran mutlak adalah lewat mata yang sehari-hari kita gunakan untuk hidup kita yang biasa. Pertanyaan mengenai arti kehidupan yang tidak pakai hati akan menyebabkan kita seolah mengejar ekor sendiri. Seseorang tidak perlu mencari arti untuk mendapatkan kedamaian, tetapi yang perlu dilakukan hanyalah menyerah kepada adanya dirinya, dan menghentikan pertanyaan yang tidak ada gunanya. Rahasia enlightenment adalah; makan ketika Anda lapar, dan tidur ketika Anda lelah.

quote-that-is-one-of-the-reasons-why-a-man-should-pick-a-path-with-heart-so-that-he-can-find-sheldon-b-kopp-43-71-30

Para guru Zen berkata; “Jika dirimu melihat Buddha di jalan, bunuh dia!” Maksud dari kalimat ini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang berasal dari luar diri kita adalah nyata. Kita masing masing telah mencapai level Buddha diri kita (yang kita butuhkan) masing masing. Kita hanya perlu mengenalinya. Filsafat, agama, patriotisme, hanyalah berhala semu. Arti dari hidup kita adalah apa yang kita lakukan. Membunuh Buddha di jalan berarti menghancurkan harapan bahwa apa yang di luar diri kita bisa menjadi tuntunan atau guru atau kebenaran yang mutlak.”

(Dikutip dari sebagian bab di buku If You Meet the Buddha on the Road, Kill Him! Oleh Sheldon B. Kopp)

Posted in: @linimasa

Leave a Reply