Percuma punya Gubernur Keren

2014-03-15-20-51-12

Kalau…

Warganya gak bisa menghargai kerja kerasnya.

Kursi taman dirusak, tembok dicorat-coret. sekrup lampu jalanan dicopotin, tanaman diinjak-injak… dan yang terpenting, trotoar gak dipake.

Trotoar untuk pejalan kaki

Warga selalu menuntut trotoar yang baik. Tapi coba perhatikan betapa seringnya trotoar sepi pejalan kaki. Warga lebih suka naik kendaraan pribadi walau jarak tempuh tak sampai 5 Km. Tau kan jarak Bapindo ke Pacific Place? Sepertinya tak sampai 2 Km. Boleh tidak percaya tapi banyak yang memilih naik taksi.

Atau trotoar digunakan untuk kepentingan yang lain seperti berdagang, lintasan motor, sepeda dan lainnya yang tidak sepatutnya. Bagai telor dan ayam, trotoar yang sepi pejalan kaki lama-lama akan berubah fungsi. Dan lebih jauhnya lagi, dipersempit untuk kemudian ditiadakan.

Taman dan Tanaman Kota

Seringkali kita menjadi saksi tanaman dirusak dengan seenaknya. Mulai dari dipetik, dicabut sampai diinjak-injak. Apa pun alasannya, tau kah betapa susah dan mahalnya untuk menanam dan memelihara tanaman. Apalagi kalo mengingat fungsinya sebagai produsen oksigen kota.

2016-03-12-18-49-39

Jembatan Penyeberangan

Ada banyak alasan mengapa masih banyak yang memilih untuk menyeberang jalan sembarangan. Mengakibatkan jembatan penyeberangan sesepi kuburan di malam Jumat. Padahal jembatan dibangun untuk melindungi warga saat menyeberang jalan.

Lagi-lagi kemalasan warga untuk berjalan kaki menjadi penyebab. Ada pula yang memberikan alasan panas. Hallow… tau kah warga di kota-kota maju dunia, selalu membawa payung di tasnya.

Membuang Sampah

Ah sepertinya tak perlu dibahas. Berbagai kalangan warga seperti masih enggan untuk membuang sampah pada tempatnya. Tau kah bahwa setiap sampah yang dibuang sembarangan, akan ada orang lain yang memungut dan membuangnya. Selain waktu dan biaya yang harus dikeluarkan, juga mencemari pemandangan kota. Secantik-cantiknya kota, apa cantiknya kalo kotor.

Parkir Sembarangan

Sudah jalanan sempit, masih banyak mobil yang diparkir di jalan. Bahkan banyak untuk parkir seharian semalaman. Mengurangi fungsi jalan untuk transportasi, penyebab banyak kemacetan yang mengekor sampai jalan raya. Alasannya bisa sesederhana; tak ada garasi. Hullow…

Menjadi bagian Kemacetan

Sering kita membaca di media sosial keluhan terhadap kemacetan. Padahal kalau diteliti lebih lanjut, keberadaannya di jalan saat macet bisa untuk alasan sesederhana “mau hangout sama temen”. Bayangkan, di saat yang bersamaan, banyak yang sedang di situasi genting di jalan raya terpaksa terkena kemacetan.

Sebelum turun ke jalan raya, ada baiknya renungkan dahulu apakah benar harus saat itu juga berada di jalan. Mungkin bisa ditunda sebentar? Mungkin bisa naik kendaraan umum? Mungkin bisa jalan kaki? Mungkin lain kali…

Ujung-Ujungnya Ngemall

Sering kita mendengar warga menuntut taman kota yang lebih banyak dan asri. Tapi seberapa sering juga yang ujung-ujungnya ngemall melulu. Yayaya, tamannya memang belum banyak dan belum asri. Sama seperti situasi trotoar. Tanpa tuntutan dan kebutuhan warga, sepertinya semakin sulit dijaga dan diadakan.

Sama kondisinya dengan museum kota, perpustakaan kota, taman bermain anak dan banyak lagi fasilitas yang membutuhkan warga untuk menuntut pengadaannya. Bukan hanya dalam bentuk ucapan tapi juga tindakan. Semakin banyak warga yang menggunakan fasilitas kota yang ada sekarang, semakin besar kemungkinan fasilitas itu diperbanyak.

Ilustrasinya begini, karena banyak warga yang bermain Pokemon Go di berbagai tempat, maka tempat-tempat itu mempercantik diri agar pemain Pokemon Go menjadi lebih nyaman. Karena banyak warga yang naik sepeda, akan semakin banyak disediakan jalur sepeda dan parkir sepeda. Semakin banyak warga yang berjalan kaki, semakin baik pula trotoar kita. Semakin banyak warga yang bermain di taman, semakin banyak dan asri pula taman kota.

Bukan sebaliknya.

2015-01-04-07-45-37

Pengawas Awas

Tak ada yang lebih miris saat ketertiban di jalan raya – dan mana pun – baru berjalan hanya saat ada yang mengawasi. Misalnya, rambu lalu lintas ditaati hanya saat ada Polisi. Karena artinya, warga hanya menjalankan aturan bukan didasarkan pemahaman. Selain miris, ini juga berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari penyakit. Kalau penyakit, dirasakan sendiri. Tapi ini, dirasakan bersama.


Ada banyak contoh-contoh lain, yang membawa kita pada sebuah pertanyaan besar bahkan lebih besar daripada siapa Gubernur DKI berikutnya: sudahkah kita menjadi warga yang keren. Warga yang menghargai kehidupan dirinya dan juga orang lain. Warga yang menuntut dengan tindakan.

Kita jangan hanya terpukau melihat pada fisik kota-kota maju di dunia. Tapi perhatikan juga cara warganya menjadi warga kota. Sudahkah kita menjadi seperti mereka. Yang rela sedikit memberati tasnya dengan payung dan jas hujan. Yang rela antri demi ketertiban. Yang membuang sampah atas kesadaran bahwa kota adalah milik bersama. Yang sadar aturan diadakan demi kebaikan bersama.

Dan jangan pula cepat terpukau dari hanya foto dan film. Menurut info teman-teman yang sering jalan-jalan keluar negeri, Paris bau pesing. Masih banyak bagian trotoar di New York yang kondisinya tak terawat. Kalau iseng, silakan cari di youtube kompilasi toilet-toilet terburuk di seluruh dunia. Seketika kita akan merasa Jakarta gak buruk-buruk amat.

Kadang warga Jakarta berperilaku seperti warga yang tidak merasa memiliki kotanya sendiri. Cuma numpang cari duit. Cuma numpang hidup. Cuma numpang lewat. Rusakkan saja tak apa. Toh bukan milik sendiri. Tak dianggap sebagai tempat hidup. Coba saja liat tempat-tempat yang memang ditujukan untuk “numpang lewat”. Seperti toilet umum, halte bis, kursi taman, stasiun, bandara, betapa warga sering bukan hanya tak menjaga kebersihannya, tapi kelangsungannya.

Mungkin kita lupa pada pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Semestinya, di mana pun kita berada, sementara atau selamanya, hargailah setinggi-tingginya. Tempat bisa jadi adalah tempat belaka, tapi manusia yang berada di tempat itu yang menjadi penentunya.

SELAMAT MEMILIH GUBERNUR BARU. Siapa pun pilihannya, siapa pun yang menang, warga lah yang menjadi penentunya.

2016-11-04-11-57-02

*Lagu Hujan, dinyanyikan oleh Adhitia Sofyan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s