Nevermore

Dari mulai bangun tidur, semua seolah menjerit meminta perhatian. Akun socmed yang itu, kemudian yang satu lagi menampilkan notifikasi juga. Belum lagi beberapa notifikasi dari berbagai aplikasi berita yang mendorong beberapa “breaking news” dengan judul yang bombastis. Kemudian beberapa grup percakapan yang kita punya juga ternyata semalam sudah terlibat dalam diskusi yang terlewat karena sudah tidur duluan.

Pagi ini sejak bangun, lalu minum kopi, bersiap dan di kendaraan pun penuh dengan berusaha memeriksa dan menjawab semua yang berebut mencari perhatian. Ketika sampai di kantorpun, sebenarnya belum selesai, tetapi ya sudahlah harus mulai bekerja. Begitu membuka To do list dalam pekerjaan, semua juga seolah minta jadi prioritas. Belum lagi surel dari beberapa divisi lain meminta ini itu yang membuat bingung harus dimulai dari mana. Akhirnya tetap harus dipilih prioritas, yang ketika sedang mengerjakannya pun tetap ada yang menghampiri secara fisik dan meminta tugas darinya untuk jadi prioritas. Baiklah dikerjakan dulu, toh, tidak memakan waktu terlalu banyak.

Tiba waktu makan siang, dan digunakan untuk membaca sedikit berita atau update socmed yang tadi pagi tidak sempat dibaca. Pekerjaan diteruskan setelahnya.

Waktu perjalanan pulang pun diisi dengan hal yang sama ketika berangkat. Kali ini tidak berhenti ketika sampai di rumah, bahkan ketika siap tidur. Rencana tidur lekas karena besok harus bersiap lebih pagi pun terlupa karena jari yang scroll berita atau feed dari socmed yang ternyata cukup mengasyikkan diikuti, apalagi kalau ada kontroversinya. Tanpa sadar anak sudah tidur, dan kita belum sempat mengobrol banyak dengannya, hanya sekadar bertegur sapa. Begitu jam menunjukkan waktu lewat tengah malam, tak lama kantuk pun datang dan tertidur.

smartphone-addiction-illustrations-cartoons-5__605

Ini menggambarkan hari saya ketika entah mengapa saya sedang ingin terhanyut dengan segala berita dan kehebohan yang terjadi sekarang, baik lewat media sosial maupun media. Semua notifikasi penyedia berita pun saya nyalakan. Lalu hasilnya apa? Saya tidak tambah pintar, malah lebih sering menyumpah dalam hati. Buku yang sedang saya baca sudah beberapa hari tak maju-maju. Saya jadi jarang sekali mengobrol dengan anak. Hanya karena saya tidak ingin ketinggalan pembahasan. Apakah masih akan dilakukan? Tentu tidak. Cukup.

Iklan

3 thoughts on “Nevermore

  1. padahal lagi digelendotin anak pas baca postingan ini.
    berasa ketampar heheheh.

    dan tujuan subscribe linimasa biar gak ketinggalan apdetannya. suka berasa nambah ilmu tiap abis baca tulisan di sini.
    agak halu sih saya… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s