Antara Bumi Datar Donald Trump Dan FPI

Saya mau curhat. Saya lagi sedih. Saya sudah tiga kali ditendang dari grup Facebook Komunitas Bumi Datar. Jangan tertawa. Saya serius. Tapi sebenarnya saya lebih sedih kenapa kebodohan semakin merajalela di Indonesia. Dunia pendidikan Indonesia mempunyai pekerjaan rumah yang sangat berat untuk mencerdaskan bangsa. Grup ini sangat militan dan bebal. Tidak menerima kritik. Vokal sedikit anda akan direndang. Tidak peduli sevalid apapun teori yang anda ajukan. Grup ini berisi sekumpulan abege. Usia yang rawan sebetulnya. Sayangnya mereka sudah terhasut oleh dogma dari video di Youtube. Komunitas ini sudah lama ada di luar negeri sana. Tetapi baru satu dua tahun terakhir wabah ini menjangkit di Indonesia. Argumen mereka tidak masuk akal. Tapi lucunya banyak yang percaya. Padahal jika saja mereka sedikit banyak membaca tentunya ini tidak akan terjadi. Teori yang dibalut unsur agama, penghapusan sejarah Islam dan ditambah sedikit dongeng konspirasi elit global maka mereka terjerat masuk ke dalam ideologi konservatisme dan anti-intelektual.

FE1.jpg

 

Sampai bulan November 2016, sebelum hasil pemilu rilis, semua orang mengolok-olok Donald Trump. Tidak ada yang percaya kalau ia akan menjadi Presiden Amerika Serikat. Pernyataannya yang rasis, misoginis, anti intelektual. Kampanye yang sangat kotor dilakukan oleh kedua belah pihak. Tapi apa yang terjadi? Donald Trump menang. Hillary gigit jari. Donald Trump tahu bagaimana Republikan berpikir. Tahukah kamu kalau menurut polling lebih dari 50% rakyat Amerika percaya kalau Obama adalah muslim? Lebih dari 50% rakyat Amerika juga percaya kalau Obama tidak lahir di Amerika? Ini adalah hasil dari propaganda dan fake news yang disebar oleh grupis Trump di media sosial terutama Facebook. Sekarang apa yang bisa dilakukan oleh Demokrat dan pendukung Hillary yang sakit hati? Terus misuh-misuh di setiap kesempatan. Sudah terlambat sayang. Kereta sudah berangkat. Sebentar lagi presiden kalian adalah Donald Trump. Lalu siapa yang tertawa sekarang?

fe-trump

 

Masih ingat dengan Brexit? Semua menertawakan referendum untuk memutuskan Inggris keluar atau tetap bersama Uni Eropa. Gagasan yang diprakarsai oleh UKIP, partai sayap kanan yang konservatif pimpinan Nigel Farage ini ternyata laku. Hasil referendum memutuskan Inggris harus keluar dari Uni Eropa. Theresa May menjadi Perdana Mentri. Menjadi kulit putih belum tentu pintar. Banyak dari mereka yang bodoh. Kamu kira kata barbar dari mana asalnya?  Gejala ini juga ada di sebagian negara Eropa lainnya. Di Perancis, Belanda, Jerman pun sudah ada. Australia pun begitu. Negara Timur Tengah tidak usah kita bahas. Lalu siapa yang tertawa sekarang?

kkk-fe

Kita bisa lihat jika sekarang bandul sedang mengayun kencang ke kanan. Embrio ini sudah ada dari dulu. Menunggu momen yang tepat. Momen itu ada di Pilkada DKI. Koq bisa? Jika anda penggiat media sosial, anda bisa melihat gejala ini. Fanatisme buta sedang menjadi tren. Sentimen agama sedang mencuat. Kita lihat bagaimana Riziq Shihab (maaf saya tidak akan panggil dia Habib) dengan FPI-nya yang setahun lalu mungkin masih dibenci tapi sekarang dia bisa meraih simpati sebagian rakyat Indonesia (entah kenapa saya selalu ingat ke Ku Klux Klan jika membayangkan FPI). Grupisnya sekarang tidak malu-malu untuk membela. Sekontroversial apapun pernyataannya beliau akan mendapatkan simpati. Pernyataan rasis adalah hal yang biasa. Sentimen anti komunis atau anti China adalah alat yang justru meraih simpati. Anomali? Tidak. Nasionalisme dan konservatisme perlu musuh. Ini adalah salah satu komponen yang harus dipenuhi. Musuh itu tidak perlu ada. Musuh itu bisa imajiner. Musuh itu hanya ada di pikiran anda. Karena kalau kita berpikir logis, untuk apa kita takut komunis? Cina sudah mempunyai bursa efek versi mereka. Mereka sudah tidak murni komunis. Mereka sudah sosialis yang menjurus ke kapitalis. Korea Utara mungkin yang masih murni komunis. Tapi apa yang harus kita takuti dari Kim Jong-un? Toh rakyatnya saja banyak yang kelaparan. Komunisme sudah hancur bersamaan dengan runtuhnya Tembok Berlin. Yang perlu kita takuti adalah ideologi nasionalisme konservatif yang relijius. Kenapa? Karena ini adalah bibit-bibit dari fasisme.  Cuma kurang satu elemen lagi untuk menuju ke sana. Apa itu? Militerisme. Sudah keliatan ya? Puzzle-nya sudah ada semua. Tinggal kita kumpulkan dan susun. Maka monster bernama fasisme itu akan terlihat.

“Ignorance leads to fear, fear leads to hate, and hate leads to violence. This is the equation.” – Abu’l-Walid Ibn Rushd / Averroes (1126-1198)

Saya bisa saja tidak peduli dengan hal ini. Sikap “yaudalah biarin aja” masih menghinggapi sebagian dari kita.Yang penting bukan kita yang gitu. Silakan berpendapat demikian. Tetapi ketika sebuah forum memiliki ribuan anggota, jika seorang yang selalu menyebarkan kebencian tetapi meraih banyak simpati, maka ini adalah hal yang serius. Idiom yang waras ngalah tidak berlaku di sini. Tidak di mata saya. Ada yang bilang kebodohan dan kebencian adalah saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan. Manusia semakin bodoh dan semakin mudah membenci karena minim pengetahuan dan sempitnya pola pikir. Ya memang betul. Wabah ini sudah menjalar kemana-mana. Dan saya yakin ada teman anda yang sudah terjangkit wabah ini. Cepat obati sebelum terlambat.

Posted in: @linimasa

29 thoughts on “Antara Bumi Datar Donald Trump Dan FPI Leave a comment

  1. Ini tulisan kan personal. Lo bukan lagi nulis thesis gelar doktor. Bukan pula jadi sejarawan. Jadi marilah kita letakkan Pancasila, paham lainnya, Tuhan dan ketuhanannya, di pojok lemari. Kita tau ada di sana tapi gak usah diutak atik. Supaya diskusinya jelas antar manusia gitu.

    HahahahahhahahahAHAHAHAHHAHAHAHA

    1. Terlalu kenceng ya. Mau bahas AHY tadinya tp takut difitnah Ahoker. Di komunitas FE aja disangka antek freemason. Btw ini draft, Glen. Mau diajuin ke Cornell. Sapatau diterima. HAHAHA.

      Intinya saya belum puas kalo cuma akun twitter yg di-suspend. Zuck harus suspend akun FB Bebeb Riziq jugak!

    1. Hahaha.. Males sih sebenernya. Tapi gimana ya. Ujungnya ternyata ke sana. Karena ada wacana NKRI bersyariah yg artinya Piagam Djakarta (?)

    1. Bisa juga mereka tidak nyaman berada di “tengah”. Atau dengan didoktrin akan bahaya laten komunis yang kiri. Bandul akan ke kanan.

      1. Bandul selalu bergerak, kalau ditarik jauh ke kiri dia akan bergerak jauh ke kanan. Kalau ditarik jauh ke kanan dia akan mengayun ke kiri jauh… Kalau orang tua hiperreligius biasanya anak akan berpindah ke tengah atau ke kiri jauh. Kalau orang tua terlalu bebas, anak jadi militan agama (seperti bride of ISIS dr Inggris)

          1. Bukan klise kalau menurutku. Jepang dan Korsel maju karena homogen, juga Jerman pada masanya. Hanya sedikit bangsa heterogen yang mencapai kemajuan, kecuali masing-masing mau mencapai kesepakatan kebersamaan, contohnya komunisme di Cina, liberalisme di Amerika dan Kanada, atau Russifikasi di Russia pada saat ini. Itu pun keberagaman yang ditampilkan masih mudah lepas. Pancasila dulu kita anggap klise karena cenderung dipaksakan, tapi sekarang kalau dilihat kembali, mungkin hanya itu pegangannya?

            1. Nah ini. Prabowo pernah bilang perlunya “soft dictatorship”. Jepang & Korsel kurang tepat jadi contoh. Mereka selalu mengalami turbulensi sama kyk Indo sekarang.

              Susah meng-homogenkan Indonesia. Sukarno gagal dengan Nasakomnya. Tapi bukan tidak mungkin.

              Contoh paling dekat Singapura dan Malaysia yg adopsi Orba-nya Suharto. People’s Action Party dan UMNO selalu menang kan? Golkar versi mereka. Otoritarian? Ya. Salah? Belum tentu. Walaupun oposisi mereka kerdilkan tp mereka maju.

              1. Soft dictatorship akan selalu kembali dan memukul diri sendiri… Di Mesir, Syria, dan Tunisia pernah maju sampai “soft dictatorship” terjungkal, lalu Mesir kembali ke pola yang sama, dan mungkin hanya Tunisia yang lolos dengan aman… Dari semuanya, hanya perubahan dan kematian yang merupakan kepastian

                    1. Banyak pihak terlibat di sana. Terlalu banyak kepentingan. Bukan hanya masalah domestik. Bahas satu kota Aleppo aja bisa kemana-mana.

  2. Kemarin saya ditanya sama teman saya, kenapa di Filipina Duterte penerimaannya sangat tinggi meskipun dia sudah “menistakan” agama Katolik? Jawaban saya, “rata-rata tingkat pendidikan.” Lalu saya berpikir sendiri lagi kalau di Indonesia aksi 212 ada dokter gigi, insinyur pertambangan, psikolog yang ikut dan berteriak marah-marah. Jadi…? Saya jadi teringat teori perkembangan neuron: otak akan kehilangan selnya bila diistirahatkan, dalam keadaan depresi, dan marah yang berkepanjangan. Jadi mungkin amarah, perasaan tertekan ditambah kurang dalamnya ilmu pengetahuan membuat orang menjadi radikal?

    Yes no?

    1. Saya tidak melihat 212 sebagai tindakan radikal. Ada unsur “bela agama” di dalamnya. Saya cuma melihat sebagai wisata keagamaan seperti “umroh kecil. Saya tidak tahu apakah mereka marah atau depresi. Tapi adakah pendukung Jokowi di 212? :’)

      1. Ada teman saya yang mau ikut untuk membuktikan kalau Indonesia itu aman dan damai, militan Jokowi, dan terbuka.

        Jadi kesimpulannya? Jadinya ga jelas kan?

        1. Teman saya juga banyak yg pergi dan mereka moderat dan biaya sendiri. Kerinduan akan kejayaan Islam bisa dipake? Islam “disudutkan” pas jaman Orba. Siapapun yg mengajak mungkin mereka akan pergi. Mereka yang pergi belum tentu bela FPI. Riziq Shihab “kena getahnya” karena dia yg prakarsai?

          1. Saya tidak mengerti karena saya tidak dapat pola pikirnya. Bisa jadi, karena ayah saya selalu mengatakan bahwa zaman orde baru semua agama termasuk Islam disudutkan. Kalau di bawah komentar Glenn Marsalim, mungkin ini yang maksudnya bandulan ditarik ke kiri jauh bergerak ke kanan.

            Seperti halnya saya tidak mengerti pola pikir Trump, begitu juga dengan “bela agama” di atas…

            1. Trump sebetulnya bisa ditebak. Dia pintar. Dia juga businessman. Isu kontroversial yg dia lontarkan pas kampanye tidak akan direalisasikan. Tidak akan ada tembok di perbatasan Meksiko. Hillary tidak akan dituntut.

              Trump telpon Tim Cook minta pembuatan produk Apple pindah ke Amrik. Hal yang wajar kan? Tapi apa mau harga iPhone jadi tambah mahal? :”)

              1. Sorry, bukan Trump, tapi pendukung Trump… Tapi iya, Trump memenangkan Pemilu AS seperti businessman memenangkan tender. Dia menampilkan hal-hal yang diinginkan, memegang kontraktor yang sedang naik daun (Breitbart) dan mengendalikan opini…

Leave a Reply