Ami (85 Tahun)

ami
Ami, di antara saya dan istri saya. (Swafoto diolah dengan aplikasi Prisma)

“SAYA sudah 85 tahun. Alhamdulillah, telinga masih bagus. Mata masih bisa baca Quran nggak pakai kacamata,” kata Ami.

Kami bertemu dengannya kemarin di rumahnya di Bogor. Jika ada waktu ke Bogor bersama keluarga saya berusaha ambil waktu singgah menemuinya. Ami selalu senang dikunjungi.

Saya mengenalnya di pertengahan 1990. Keluarga Ami mengelola sejumlah kamar kos untuk mahasiwa di Tegal Manggah, yang hanya setarikan gas bemo dari kampus IPB Baranangsiang, Bogor. Saya mewarisi kamar kos kakak kelas SMA saya yang pada tahun kedua harus pindah karena ia mengambil jurusan yang kampusnya di lokasi baru di Darmaga.

Pada waktu itu IPB menerapkan sistem penjurusan yang beda. Pada tahun pertama, semua mahasiswa tak punya jurusan. Nanti di tahun kedua baru akan ada penjurusan sesuai minat dan tentu saja nilai di tingkat pertama. Sebutannya Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Kini, semua mahasiswa baru sudah punya jurusan sejak masuk, meskipun tetap menjalani TPB di tahun pertama.

Ami ibu kos yang ramah dan asal kita mau menjadi pendengar ia tak akan berhenti bercerita.  Ceritanya macam-macam.  Soal mahasiswa-mahasiswa yang pernah kos di rumahnya (yang sudah jadi orang-orang hebat, katanya), anak-anaknya (yang tak satu pun ambil kuliah di IPB), dan masa mudanya. Ia bercerita dalam bahasa Sunda dan sedikit porsi bahasa Indonesia. Itu sebabnya saya suka mendengarkan dia bercerita: saya belajar bahasa Sunda.

Saya hanya dua tahun ambil kos di rumah Ami. Tahun kedua itupun saya sudah mulai banyak main di Asrama Ekalokasari, lalu menjadi penghuni tetap hingga lulus.

“Saya sudah 85 tahun….” Dan Ami masih sangat sehat. Ketika kami – saya dan istri saya – berkunjung kemarin, ia sudah berdandan rapi. Suaranya masih lantang. Dan masih bawel bercerita.  Ia bersama anak, menantu, cucu, dan cicitnya, hendak pergi ke kerabatnya yang menggelar walimah pernikahan anaknya.

Ami mengingatkan saya tentang anak-anaknya, siapa yang sudah punya anak berapa, sekarang tinggal di mana, dan cucu-cucunya yang sudah punya anak yang berarti itu adalah cicit-cicitnya. Siapa-siapa anak kos yang pernah datang menemuinya dan siapa yang sama sekali tak pernah.

Ketika beberapa tahun lalu mengunjungi Ami, saya juga datang bersama istri saya. Ia lupa dan bertanya lagi. “Istrimu orang mana?”

“Ami lupa? Dia kan yang dulu waktu saya kos di sini beberapa kali pernah datang ke  sini. Ini teman kuliah saya, Ami.”  Ia lalu memeluk dan menciumi istri saya. Dan berhamburanlah doa-doanya: doa panjang umur untuk kami berdua, doa agar kami rukun sampai kami tua, doa sehat dan berlimpah rezeki.

“Saya dan Bapak 65 tahun sama-sama. 65 tahun saya dampingi Bapak sampai Bapak meninggal….”

Saya kenal baik dengan Pak Pendi, suami Ami. Namanya dicetak pada satu plakat besi dan dipakukan di dinding depan rumah mereka.  Lelaki tak banyak bicara tapi juga sangat ramah dan perhatian pada anak-anak kos di rumah mereka itu bekerja sebagai mantri. Di masa pensiunnya dia kadang-kadang masih suka diminta oleh kenalannya untuk berobat. Tentu saja itu ia lakukan hanya untuk sakit ringan. Ia tahu betul bahwa ia tak punya izin praktik. Tapi kadang-kadang pasien-pasien langganannya, kebanyakan orang-orang seusia dia juga, meminta – setengah memaksa – dia mengobati mereka.

Tak ada lagi plakat nama Pak Pendi di rumah itu.

“Sudah dijual,” kata Aa, anak lelaki tertua Ami.

Ketika seluruh kegiatan belajar pindah ke Darmaga, kampus IPB Baranangsiang kosong. Usaha kos-kosan redup.

Sebelum saya sampai ke rumah Ami, saya dan istri saya menapaktilasi jalan yang dulu saya lewati jika kembali ke kos dari kampus. Jalan itu baru diaspal, tapi tetap saja sempit seperti dahulu. Beberapa kali kami harus menempelkan badan ke dinding jika ada motor lewat. Persis seperti dahulu. Saya mencoba-coba mengingat dulu siapa saja yang kos di rumah itu, di kos-kosan situ, di asrama yang itu, tapi tak menemukan di mana dulu warung makan yang menjual sepiring nasi dengan kuah santan dan sepotong tempe seharga Rp300. Lalap dan air teh tawar disediakan gratis.

Rumah keluarga Ami – yang sudah dijual itu – ada di hadapan rumah kos yang mereka kelola, bertopang di atas parit.  Ada kolam kecil – yang hingga kini masih ada.  Di rumah itulah dulu saya numpang menonton televisi, terutama pada Jumat malam, ketika RCTI memutar serial McGyver.  Ini semacam perilaku sok pintar. Ami suka menegur saya, “kamu nggak belajar? Kok nonton?” Sabtu adalah hari ujian di TPB. Anak-anak kos umumnya mengurung diri di kamar untuk belajar. Saya mana bisa melewatkan aksi Angus McGyver, agen yang membongkar kasus dan menyelamatkan diri dengan kecerdikannya memanfaatkan barang-barang di sekelilingnya dengan pengetahuan dasar fisika, kimia, mekanika, elektronika, dan lain-lain. Lebih baik nonton dulu baru setelah itu buka diktat.

Di muara jalan kembali ke hotel, setelah menanjak lewat tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan, saya bertemu anak-anak, cucu dan cicit Ami yang sudah siap hendak berangkat bersama-sama.  Ami masih kuat mendaki. Saya harus menebak-nebak satu per satu siapa mereka. Ada yang langsung saya kenali, ada yang harus diingatkan lewat satu dua ihwal, selebihnya saya benar-benar tak sempat mengenal, terutama cucu-cucu dan cicitnya. Saya harus menekan geer kalau Ami menceritakan siapa saya dulu – dengan nada bangga. Yang saya lihat adalah kebahagiaannya karena diingat, dikunjungi, dan karena itu ia merasa dihargai. Tak ada yang menggantikan silaturahmi langsung, menemui langsung kerabat kita.

Kami mengajak Ami berswafoto. Saya ingin sekali – tapi tak sempat – memotret Ami dengan anak, cucu, cicitnya. Manusia empat generasi. Pemandangan langka. Mungkin saya tak sempat mencapai keadaan itu: ayah saya sudah 71 tahun, anak lelaki saya baru 13 tahun.

Iklan

2 thoughts on “Ami (85 Tahun)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s