Spesies Tukang Gosip

Membaca mungkin bukan satu satunya cara untuk belajar. Tetapi saya percaya dengan membaca, kita belajar mengasah kesabaran, juga keterampilan dalam melihat hal tidak dari satu sudut pandang saja. Belajar dari pengalaman, dan melihat yang sedang banyak terjadi di dunia ini, sepertinya keterampilan ini cukup jarang dan mahal harganya. Padahal, jika paham, betapa banyaknya jenis mata yang memandang satu situasi di jagat raya ini, betapa kita juga akan paham bahwa tidak ada benar yang absolut. Semua itu bisa benar bisa salah, bisa kiri bisa kanan, tergantung dari mana dan dengan mata seperti apa melihatnya.

Jadi ingin membahas buku yang saya sedang baca, Sapiens: A Brief History of Humankind. Dalam buku ini, Yuval Noah Harari, dengan bahasanya yang saya akui sering sensasional dan terdengar agak bombastis, menggambarkan kalau Homo sapiens adalah hanya salah satu fauna yang mengisi jagat ini beserta dengan instingnya. Kelebihan kita bukan kesadaran, karena siapa kita mengatakan kalau hewan lain tidak memiliki kesadaran? Bisa saja kesadaran mereka mengisi dimensi yang berbeda dengan kesadarn manusia. Tetapi mereka juga bisa berkomunikasi antara spesies, memiliki penderitaan dan kebahagiaan seperti layaknya manusia. Kelebihan manusia adalah salah satu yang saya temukan di buku ini, yang membuat saya ternganga dan tak jarang tertawa cukup geli membaca penyampaian Harari yang tanpa tedeng aling aling.

  • Bahwa antara 70,000 hingga 30,000 tahun yang lalu terjadi yang disebut Cognitive Revolution. Tidak ada yang tahu apa yang mencetusnya, tetapi ini ditandai dengan kemampuan menggunakan bahasa yang kompleks. Seperti yang kita ketahui, bahkan sesama simpanse bisa menyampaikan pesan sederhana seperti “hati hati ada singa!” sementara manusia modern dapat menceritakan ke sesama manusia, bahwa pagi ini, di dekat belokan sungai, dia melihat seekor singa sedang mengincar sekawanan bison. Dengan bahasa yang canggih juga manusia ini bisa menjelaskan posisi tepatnya hal ini terjadi sehingga beberapa manusia lain bisa berdiskusi mengenai strategi untuk mengusir singa dan memburu sekawanan bison tersebut.cac7b44dbc03d5b383af812058c0037fTeori lainnya adalah bahwa bahasa manusia yang unik berevolusi sebagai cara untuk membagi informasi mengenai dunia mereka. Tetapi sebenarnya yang paling penting untuk disampaikan adalah membagi informasi tentang sesama manusia, bukan tentang singa dan bison. Jadi intinya bahasa kita berevolusi sebagai cara untuk bergosip. Karena manusia adalah hewan sosial, kerjasama sosial sungguh penting perannya untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Tidak cukup untuk manusia tahu di mana posisi singa dan bison saat itu, tetapi bagi mereka penting untuk mengetahui siapa di kelompok mereka yang membenci siapa, siapa yang tidur dengan siapa, siapa yang jujur dan siapa yang suka berbohong.

    Lambe turah much?

  • Umum terjadi di masa ini, segala sesuatunya dijelaskan dengan alasan climate change atau global warming. Bukannya mengelak kalau ini memang terjadi, tetapi kenyataannya (ini bukan dari buku ini saja, saya sudah membaca di beberapa buku) iklim di bumi memang tidak pernah tetap, selalu berubah. Setiap kejadian dalam sejarah terjadi dengan latar belakang “perubahan iklim”. Planet kita ini telah mengalami berkali kali siklus pendinginan dan pemanasan global. Jadi sudahlah, tak usah terlalu turut histeris bersama Al Gore.
  • Revolusi pertanian adalah penipuan terbesar dalam sejarah, menurut Harari. Tidak dimulai oleh raja, atau pemuka agama, atau pedagang. Revolusi ini dicetus oleh sejumlah spesies tumbuhan seperti gandum, beras dan kentang. Kenyataannya tumbuhan ini yang mendomestikasi manusia, bukan sebaliknya. Jika dilihat dari sudut pandang gandum, revolusi pertanian terlihat seperti ini; sepuluh ribu tahun yang lalu, gandum hanyalah salah satu dari banyak gulma yang tumbuh hanya di area kecil di timur tengah. Lalu dalam beberapa milenia saja, gandum tumbuh di seluruh penjuru dunia.

    Dalam kriteria evolusi dasar mengenai sukses yang didasari oleh ketahanan hidup dan reproduksi, gandum telah menjadi salah satu makhluk paling sukses di muka bumi ini. Bagaimana bisa terjadi? Gandum sukses karena telah berhasil memanipulasi Homo sapiens untuk menjadi budaknya. Makhluk ini hidup cukup nyaman berburu dan mengumpulkan makanan hingga 10,000 tahun lalu, tetapi kemudian meningkatkan usahanya untuk menanam gandum. Dalam jangka waktu beberapa ribu tahun saja, manusia di berbagai penjuru dunia tidak lagi berbuat banyak, sejak matahari terbit hingga tenggelam selain memelihara tanaman gandumnya. Hal ini menyebabkan beberapa penyakit karena tubuh Homo sapiens tidak dirancang untuk membersihkan ladang, mengangkat ember air dan memanen gandum. Tubuh manusia telah berpuluh ribu tahun berevolusi untuk memanjat pohon, berlari mengejar binatang untuk diburu. Memelihara gandum juga membuat manusia “terpaksa” tinggal di satu tempat dalam waktu lama. Dan mulai menandai teritorinya agar tidak diambil oleh manusia lain.

    newsletter-cave-1
    Yang pasti bukan karena penyakit jantung, kanker atau diabetes.

    Demi apa? Demi pola makan yang jauh lebih buruk dari ketika manusia masih dalam tahap hunting and gathering. Tidak mengecilartikan para vegan dan vegetarian, tetapi manusia adalah omnivora, dan pertanian telah mengubah diet kita (bisa dibilang) secara permanen.

Bagaimana? Menarik, enggak? Jika ya, silakan cari dan baca bukunya, karena ini hanya sebagian kecil dari teori yang menurut saya menarik sekali. Dan saya belum selesai membaca bukunya.

Have a fruitful weekend!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s