Kita Yang (Mungkin) Sedang Ada di Pinggiran

Beberapa hari yang lalu, saya menonton film dokumenter berjudul Casting By. Film ini disutradarai Tom Donahue dan didistribusikan oleh saluran HBO. Sudah lama saya penasaran sama film ini. Dan rasa penasaran itu benar-benar terpuaskan seusai menonton film ini.

Seperti judulnya, film ini memfokuskan diri pada casting, atau pemilihan pemain film untuk memerankan karakter tertentu. Sering kita lihat ‘kan di awal film, setelah judul film ditayangkan, lalu ada tulisan “casting by” di layar?

Casting By
Casting By

Film ini bercerita tentang pentingnya peran seorang casting director, atau ahli casting, untuk melihat potensi aktor mana yang bisa memerankan peran yang akan dibuat. Lebih fokus lagi, film ini memberikan spotlight besar pada Marion Doughtery, pionir casting film di Amerika Serikat, yang membuka mata pelaku industri film Hollywood tentang pentingnya peran casting ini di setiap awal proyek film akan dimulai.

Menariknya, posisi casting ini adalah satu-satunya posisi utama di kredit film yang tidak ada kategorinya di Academy Awards, atau Oscar. Lainnya? Sinematografer, ada kategori sendiri. Editor juga. Tata artistik ada. Tata busana pun ada. Tata musik pula. Apalagi sutradara, aktor, dan penulis.

Namun sepanjang film, ketika Marion dan beberapa casting directors lain yang 80% adalah perempuan ini diwawancarai, tidak ada satu pun tersirat ekspresi kecewa. Mereka hanya tertawa pahit untuk mengakui fakta bahwa mereka tidak diberikan penghargaan khusus setara di ajang tertinggi perfilman Hollywood. Seolah-olah raut mereka berkata, “Ah, sudah biasa kami dikesampingkan.”

Padahal ketika mereka bercerita proses casting film tertentu, raut mereka sontak berubah. Mereka terlihat sumringah, benar-benar menyukai pekerjaan mereka.
Mendengar mereka bercerita mengenai proses pencarian aktor, mulai datang ke pertunjukan teater paling kecil, lalu melihat iklan-iklan, seakan-akan mengajak kita ikut serta dalam proses tersebut. Mencari Dustin Hoffman ke Broadway sebelum dia diajak audisi film The Graduate. Menemukan Meryl Streep. Menemukan banyak aktor-aktor ternama sebelum mereka bukan siapa-siapa.

Casting By
Casting By

Mungkin ini terdengar klise, tapi melihat mereka berbicara, you can feel their undying passion and love towards the profession.

Lalu beberapa hari kemudian, tak sengaja saya menemukan film Meet the Parents di saluran televisi yang sama. Ada adegan di mana Ben Stiller, yang berprofesi sebagai perawat (male nurse), harus menyebutkan profesinya ke paman, bibi, dan keponakan calon istrinya.
Pertama dia sebut, dia bekerja di “medical profession”. Lalu mereka, yang semua karakternya adalah dokter spesialis, menanyakan spesialisasi karakter Ben Stiller. Dia menjawab bahwa dia adalah perawat. Semua bengong. Mereka menanyakan kenapa “hanya” bekerja menjadi perawat, sambil setengah mengejek. Dia bilang, kalau dia lebih cocok dan lebih memilih menjadi perawat ketimbang menjadi dokter, karena dia bisa benar-benar merawat dan berinteraksi langsung dengan pasien secara intens.

Saya tersenyum saat melihat adegan singkat itu. Meskipun sebentar, tapi rasanya mengena sekali.

Meet the Parents
Meet the Parents

Acap kali saya berada di dalam situasi di mana kita dituntut untuk membuat sesuatu. Atatu menjadi pembuat sesuatu. You’ve gotta create or make something.

But what if we don’t? What if we are not able to create of make?

Beberapa tahun yang lalu, teman seprofesi saya melangsungkan pernikahan. Kami diundang hadir ke pesta pernikahannya. Tentu saja, selayaknya banyak pesta pernikahan di sini, acara ini lebih sebagai ajang acara bikinan keluarga kedua mempelai. Pestanya sendiri cukup besar, dilangsungkan di gedung di sebuah kota di Jawa Tengah. Kami beramai-ramai ke sana.
Lalu ada pengumuman, “kepada teman-teman mempelai perempuan dari dunia film agar bersiap diri berfoto bersama kedua mempelai.” Pengumuman ini diulang sampai dua kali sambil menyebutkan nomer meja kami.
Mendadak ratusan pasang mata mengarah ke meja kami. Namun pandangan ini tidak berlangsung lama. Kami pun beranjak untuk foto bersama.
Setelah selesai, kedua mempelai, yang sama-sama kami kenal, tertawa dan bilang ke kami semua, “Mungkin keluarga kami pada ngira kalau teman-teman di dunia film itu berarti artis ya. Padahal ya boro-boro, bok!” Kami sempat tertawa kencang-kencang di pelaminan.

Sering saya ditanya, baik dari keluarga atau teman, apakah saya tidak berminat menjadi sutradara atau produser atau pembuat film. Dengan baik-baik saya bilang, saya belum mampu sekarang. Pernah mencoba, namun hasilnya tidak maksimal. Ada kesadaran dalam diri terhadap kemampuan yang dimiliki, serta apa yang tidak bisa dilakukan.
Namun apakah saya merasa left out karena “tidak menghasilkan sesuatu”? Jawabannya: tidak.
Dalam kapasitas yang terbatas, saya berusaha semampu saya untuk bekerja membantu mereka yang berkarya. Membantu dalam memberikan ruang untuk karya mereka diapresiasi, membantu membuat karya mereka dikenal lebih luas, dan banyak hal lain.

Dan di bidang pekerjaan yang lain, tentu saja banyak sekali support system yang membutuhkan tenaga kerja.
You are still entitled to call yourself working in medical profession, even if you’re not a doctor. A nurse, for example.
Bekerja di bidang penerbitan buku tidak eksklusif milik mereka yang berprofesi sebagai penulis atau editor. Desainer grafis, proof reader, sampai mereka yang bekerja mencetak buku pun, mereka semua adalah bagian besar dari sebuah buku sampai ke tangan kita semua.

It takes a village to make a maker, to create a creator.

Dan ketika kita bekerja dalam lingkaran besar, meskipun bukan di poros tengah, trust me, you still matter the most.
Because we are still needed.

10 thoughts on “Kita Yang (Mungkin) Sedang Ada di Pinggiran Leave a comment

  1. Di gue, kasusnya agak beda tapi senada. Pas gue bilang gue kerja di bidang otomotif, temen2 nyokap, tetangga2, dan beberapa kerabat langsung nanya diskon mobil. Padahal gue jual mobil pun ngga. Tapi gue males jelasinnya. Males ribet. Hahaha

  2. wah, i feel it! haha
    tiap ditanya kerja dimana dan ku jawab menyebut nama perusahaan, pasti lgsg ditanya “pramugari ya?”.
    kalo dijawab lg, “bukan, saya di bagian teknik” lgsg berubah nada jadi “ooh montir..” :)))

  3. Perawat… kalau tanya dokter, “Bisa pasang infus, ambil darah, ganti perban, ganti popok, ganti seprai, ngurus tetesan obat, pasang syringe pump, hitung konsentrasi obat?”

    Jawabannya, “pake satu jari, nunjuk ke perawat.”

    The forgotten and unappreciated sidelines. They should have been paid more I guess

Leave a Reply