“Iyain Aja Deh! Biar Cepat!”

 

TENTANG apa pun, dengan siapa pun, mustahil bagi seseorang untuk bisa bebas dari perbedaan pendapat dalam sepanjang hidupnya.

Setiap kali perbedaan pendapat terjadi, kita selalu merasa tertantang untuk menjadi pemenang. Ego mendominasi, mencari peluang untuk menunjukkan bahwa sang “aku” jauh lebih unggul dan mengemuka dibanding si “dia”.

Segala cara dilakukan, dari sekadar berdebat ringan, pakai acara teriak-teriakan, bahkan sampai usir-usiran, dan bunuh-bunuhan. Padahal dalam hal ini, tantangannya justru berasal dari dalam diri sendiri; bagaimana kita ingin menyikapinya? Bukan persoalan siapa yang benar dan yang salah, atau siapa yang menang dan yang kalah. Karena memang bukan itu intinya.

Enggak percaya? Silakan alami sendiri mulai dari aktivitas yang paling “aman” saat menghadapi perbedaan pendapat; berdebat.

Kemenangan dalam sebuah perdebatan akan terasa semu, cepat tergantikan dengan masalah-masalah lain, lekas menguap begitu saja. Lagian, euforianya bisa bertahan berapa lama sih? Paling banter cuma jadi kenangan yang diglorifikasi, dipuji-puji secara berlebihan, diungkit-ungkit sampai membosankan, hanya jadi cerita bagi orang lain. Syukur-syukur tidak menjadi pengalaman yang disesalkan.

Contoh kasus: masih ingat kan, kejadian saat seorang narasumber acara dialog pagi di salah satu stasiun televisi negeri ini menyiram teh ke lawan bicaranya. Disiarkan secara LIVE! pula. Tak puas pakai mulut dan ucapan, tangan digerakkan. Tindakan yang semestinya bikin si pelaku malu (meski kayaknya sih enggak ada tanda-tanda ke arah itu. Mungkin gengsi). Untung tehnya sudah anget.

Perasaan unggul setelah berhasil membungkam lawan bicara bisa berubah dengan cepat, termasuk menjadi terasa hampa dan bisa bikin kita nyeletuk: “Oh, begini doang?

Perasaan tersebut juga bisa berubah menjadi kekesalan dan ketidakpuasan, yang apabila tidak dibonsai akan seperti monster lapar penuh kebencian dalam diri kita. Mengakar, meletihkan, dan sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kemajuan diri. Not to mention kitanya juga jadi tambah “panas” setelah melihat si lawan bicara ternyata biasa-biasa saja setelah kita kalahkan. Dia berhasil moved on dan kembali melanjutkan hidupnya. Monster tadi menjadi semacam insting yang haus, dan hanya bisa dipuaskan dengan melihat orang lain menderita. Geregetan yang negatif dan merusak.

Jadi, apa intinya?

Setiap kali berhadapan dengan perbedaan pendapat, iyain aja deh biar cepat. Terlalu banyak waktu dan tenaga yang terbuang hanya untuk berlelah-lelah menyabung argumentasi, mempertahankan pendapat dan pandangan subjektif, menarik urat dalam berpuluh-puluh menit perdebatan, dan berkeras pendirian hanya demi sebuah pengakuan. Padahal ujung-ujungnya, kedua pihak bakal kembali menjalani kehidupan masing-masing. Tidak akan bersinggungan. Tidak bakal saling berhubungan. Setop sampai di situ.

Diiyain, bukan berarti setuju. Melainkan berusaha menghindari interaksi enggak penting yang bisa terjadi ke depannya.

Memang sih ya, bijaksana dan cuek itu seringkali cuma beda tipis. Jadi, silakan saja bersikap sebagaimana mestinya. Asal yang penting kita tahu apa yang baik untuk diri sendiri, serta paham dengan semua konsekuensi yang bisa terjadi. Toh, situasi semacam ini jadi lebih sering dihadapi saat kita sudah benar-benar dewasa; sudah belajar banyak dari pengalaman; dan punya kemampuan bertanggung jawab penuh atas semua perbuatan dalam kehidupan sendiri. Kita bukan lagi seperti balita, yang baru akan menangis setelah jarinya melepuh gara-gara menekan kenop dan ketumpahan air panas di dispenser air minum. Setuju, kan?

Jika ada pendapat yang benar, ya barangkali benar hanya untuk diri sendiri. Kalau ternyata salah, ya belajarlah dari kesalahan tersebut. Pembuktiannya dengan cara dijalani sendiri, bukan untuk dipertentangkan dengan orang lain. Sebab hidup ini merupakan kondisi sosial mahakompleks, bukan semacam konsorsium para cendekiawan yang memang harus diwarnai dengan perdebatan ilmiah.

Realitas ini terjadi tanpa terkecuali, termasuk di posting-an ini. Akan sangat wajar bila dipertentangkan, karena menjadi hak setiap pembaca untuk setuju, maupun menyangkal semua yang disampaikan. Selama masih ada ruang untuk diskusi, semua pasti bisa dibicarakan. Asal jangan berubah menjadi perdebatan. Akan tetapi sementara ini, iyain aja dulu deh! Biar cepat! 😀

cuhuey9vaaalael

[]

Iklan

2 thoughts on ““Iyain Aja Deh! Biar Cepat!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s