Bukan, ini bukan POV seperti yang ada di kolom web porno. Walau singkatannya sama dari Point Of View, atau dalam bahasa Indonesianya disebut Sudut Pandang. Sekitar 15 tahun yang lalu, seseorang pernah berkata “we may see the same thing but we will see it differently”. Konteksnya pada saat itu adalah mengenai disain grafis. Saat itu hasil keseragaman komputerisasi disain grafis mulai terasa. Bisa dibagi dalam berbagai ‘genre’: MTV style dan Lain-Lain. Apalagi pada saat itu Photoshop sedang kembang-kembangnya.

Banyak Disainer Grafis yang posisinya mulai naik, mengeluhkan bagaimana sulitnya mencari lulusan berkarakter. Dan pada saat itu, semua menyalahkan Photoshop sebagai penyebabnya. Di saat itulah, ucapan di alinea atas tadi terlontar. Dengan penjelasan lanjutan “Photoshop itu hanya alat. Yang kurang saat ini adalah point of view yang berbeda”. Perbincangan yang berlangsung sampai subuh itu pun mencerahkan. Salah satu kejadian hidup yang selamanya akan melekat dalam ingatan.

Pertanyaan saya saat itu, bukankah sudut pandang itu harusnya jujur dan bagaimana kalau sudut pandang saya ternyata sama saja dengan yang lain. Jawabannya sangat tak terduga. Sudut pandang, berbeda dengan keyakinan dan kepercayaan. Sudut pandang bukan hanya soal menemukan tapi juga mempertanyakan dan mencoba melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Ini diperlukan bukan semata-mata untuk jadi berbeda, tapi untuk menawarkan keragaman sudut pandang. Keragaman ini yang selamanya diperlukan agar manusia menerima kenyataan perbedaan itu akan selamanya ada dan menjadi alasan merayakan hidup. “Ini adalah tugas utama kita sebagai Disaner Grafis. Karena kalau hanya ingin melihat yang kita ingin lihat dan ketahui, jadinya keseragaman itulah yang kita terima”.

Bersekolah di Tanah Air, generasi saya diajarkan paham “berbeda-beda tapi tetap satu jua”. Sekilas terlintas di benak adalah soal perbedaan yang disatukan. Dan kata disatukan, lebih kental artinya dengan disama ratakan -agar menjadi satu, tunggal. Terus menerus bagai mantra, sehingga perbedaan tidak lagi dinilai sebagai kekayaan tapi sebagai yang harus disatukan. Sialnya, pemahaman menular sampai pada keseragaman sudut pandang. Sehingga saat ditawarkan dengan sudut pandang yang berbeda, kita cenderung untuk malas bahkan menolak.

Tenang, ini bukan hanya permasalahan bangsa ini, tapi juga masalah Amerika yang baru memiliki Presiden baru yang menulis namanya pun saya masih belum percaya. Namun ada satu artikel yang langsung mengingatkan saya soal sudut pandang. “At the end of the day, this is an opportunity to learn and grow and consider another world view. This is a wakeup call to get out of safe spaces, politically correct thinking, shatter echo chambers, and challenge yourself to consider the other side of the fence. This is an opportunity to reach out and truly learn to understand each other.”

Kalimat itu sepertinya merujuk bagaimana pada hasil pooling yang tadinya berpihak kepada kandidat yang ternyata kalah. Bagaimana kita, sering hanya ingin melihat, mendengar, membaca, menerima, hanya pada yang sesuai. Kemudian menutup diri dan menghabisi yang tidak sesuai. Apalagi sekarang ada tombol unfriend dan unfollow. Gampang kan? Linimasa seketika hanya akan menampilkan semua hal yang berkenan dan sukai. Demikian pula dengan berita. Sekarang kita bisa hanya membaca berita yang sesuai minat kita saja. Selamat datang keseragaman.

Mundur ke belakang, saat surat kabar menjadi satu-satunya sumber berita setiap pagi dan sore. Kita tidak bisa memilih berita apa yang ingin kita baca. Kita harus membeli semuanya. Buat generasi digital, hal ini tentu menjadi buang-buang waktu dan uang. Tapi kalau dipikir lagi, dari sinilah keragaman bisa dimunculkan. Saat kita membolak balik surat kabar itu, bisa dipastikan mata kita akan melihat berbagai tajuk berita. Yang kita sukai dan tidak kita sukai. Bibit-bibit rasa ingin tahu seperti disemai perlahan. Apalagi dilengkapi dengan foto-foto yang bisa menarik perhatian.

Menjadi belenggu tersendiri, saat kita berkoar hendak merayakan keragaman tapi di saat yang bersamaan kita berusaha melawan dan mematikan yang berbeda. Hanya karena, yang berbeda mungkin tidak sesuai dengan norma, agama dan keyakinan kita. Sebelum berteriak, ada baiknya mendengar. Lebih dalam lagi yaitu memahami.

Beberapa cuitan di Twitter sepertinya sepaham dengan ini:

screen-shot-2016-11-19-at-1-28-00-am

tygerd

Yakinlah, dibalik semua aksi ada motif. Dan motif itulah yang selamanya harus terus menerus digali. Boleh percaya atau tidak, dalam penggalian itu kita akan menemukan semua motif berujung pada hal yang sama. Misalnya, semua ingin dihargai, semua ingin didengar, semua ingin diakui, ingin makan, ingin kaya, ingin bebas, ingin cinta dan sebagainya. Keinginan dasar manusia yang kalau dituruti akan berujung pada ketamakan dan keserakahan.

Dalam sebuah diskusi kreatif beberapa minggu lalu, seseorang melontarkan konsep “challenging status quo” atau mempertanyakan keadaan sekarang yang sudah mengakar. Pertanyaan selanjutnya, kapan terakhir kali kita benar-benar melakukannya. Di ingatan saya baru ada demo 1998 lengsernya Suharto. Mungkin ada pembaca yang bisa menambahkan contoh kejadian lain. Diskusi semakin seru untuk kemudian membahas apakah benar bangsa ini lebih menikmati untuk memperkuat status quo ketimbang mempertanyakannya. Karena status quo dianggap memberikan rasa aman dan tenteram. Dan pertanyaan pamungkasnya, apa pentingnya mempertanyakan status quo?

Untuk pertanyaan terakhir, saya bisa menjawab dengan lantang hari ini: untuk merayakan keragaman. Bagi sebagian dari kita yang sudah hidup dengan kenyamanan dan keteraturan, tentu tak ingin ada perubahan. “Udahlah, gak usah macem-macem… Gini aja terus”. Manusiawi. Tapi jangan lupa, ada sebagian lagi dari kita yang sedang hidup dalam kesulitan. Tentunya ingin perubahan terjadi. Ingin hidupnya lebih baik. Manusiawi juga kan?

Semoga toleransi bukan lagi menjadi sebuah hari toleransi, tapi perlahan dilatih menjadi kebiasaan sehari-hari. Berkenalan dengan yang bukan sekutu. Berbincang dengan lawan. Mendengarkan yang berseberangan. Memahami yang sulit dipahami. Sehingga kita tak lagi masuk ke dalam lorong yang berisikan hanya orang-orang yang sepaham saja. sampai terwujudlah berbeda-beda tapi tetap beragam jua.

 

 

 

Posted in: @linimasa

5 thoughts on “POV Leave a comment

Leave a Reply