Jalan-Jalan Jelajah Jaman

Salah satu jenis tontonan seru di televisi yang paling suka adalah serial tentang time-traveling, atau perjalanan menjelajah waktu. Biasanya karakter-karakter utama di serial ini akan pergi dari setting masa kini ke masa lalu, atau ke masa depan. Misi yang diemban para karakter biasanya sama, yaitu memperbaiki masalah, agar sejarah tidak berganti (untuk yang pergi ke masa lalu), dan mengintip keadaan yang akan datang untuk memperbaiki situasi sekarang (untuk yang pergi ke masa depan).

Template cerita seperti ini sudah banyak digunakan di banyak serial televisi. Yang paling bertahan lama adalah serial “Doctor Who” dari Inggris, yang sudah ditayangkan dari tahun 1960-an, dan masih bertahan sampai sekarang. Dan bisa dipastikan semua serial atau cerita superhero pasti mengambil alur cerita time traveling ini. Tujuannya tentu untuk menyelamatkan korban. Mulai dari “Smalville” sampai “Supergirl”, apalagi “The Flash”, pasti ada bagian cerita para pahlawan rekaan ini pergi menjelajah waktu.

Doctor Who
Doctor Who

Saya mulai memperhatikan alur cerita ini waktu menonton serial “Star Trek” tahun 1960-an yang pernah ditayangkan ulang di salah satu stasiun televisi swasta kita. Lalu pernah ada juga serial “Time Trax” yang sempat ditayangkan sesaat. Kedua serial ini, dan banyak serial serupa lainnya, sama-sama memperlihatkan para tokoh utamanya pergi bolak-balik antara masa kini dan masa depan.

Namun perhatian saya baru benar-benar tercurahkan penuh saat serial “Quantum Leap” hadir. Serial ini menceritakan mis-adventure Dr. Sam Beckett atas malfungsi mesin waktunya, sehingga setiap hari dia bangun mendapati dirinya sebagai orang lain di masa lalu. Tak peduli dia lelaki, perempuan, anak kecil, orang tua, remaja, Caucasian, Asian, Black, dan di negara mana saja. Dia ditemani Al, pria dalam bentuk hologram yang hanya bisa dia lihat. Tujuan Dr. Sam Beckett dan Al berkelana adalah untuk memperbaiki hidup orang agar lebih baik, selama tidak mengubah sejarah. Sampai akhirnya saat Dr. Sam Beckett bangun sebagai dirinya sendiri, maka serial ini berakhir.

Quantum Leap
Quantum Leap

Saking sukanya sama serial ini, saya sampai hapal kalimat-kalimat pembuka di setiap episode. “Theorizing that one could time travel within his own lifetime, Dr. Sam Beckett led an elite group of scientists into the desert to develop a top secret project, known as Quantum Leap.” Saya rela memotong waktu tidur siang di hari Minggu supaya tidak ketinggalan menonton serial ini.

Sekarang, ada satu serial baru di televisi Amerika yang sedang menjadi kesukaan saya. Judulnya “Timeless”. Serial ringan, senada dengan “Quantum Leap”. Ceritanya sederhana: ada tiga orang, yaitu ahli sejarah, detektif, dan ilmuwan, yang direkrut untuk menangkap penjahat yang sering berpindah-pindah waktu.
Sejauh ini kita sudah dibawa mereka ke jaman penembakan Presiden Abraham Lincoln, rencana bom nuklir awal tahun 1960-an, skandal Watergate, sampai bertemu Ian Fleming, penulis serial James Bond, waktu masih menjadi agen rahasia di Perang Dunia ke-2. Benar-benar tontonan yang seru, tidak membuat kita mengernyitkan kening, namun banyak informasi trivial yang membuat kita tersenyum. Apa itu? Tonton saja sendiri.

Timeless
Timeless

Dan memang tema time travel sedang cukup digemari. Paling tidak ada beberapa serial baru dan tidak terlalu baru yang sejenis. Ada “12 Monkeys” dan “Outlander” yang sudah masuk musim penayangan ke-3, ada juga “Frequency” yang masih baru saja ditayangkan mulai beberapa bulan yang lalu, yang diangkat dari film berjudul sama.

Kadang-kadang saya suka penasaran, apa ya yang membuat tema time travel ini banyak digemari?
Satu yang pasti, adalah escapism. Cukup menyenangkan untuk pergi barang 1 jam keluar dari kenyataan kita sehari-hari. Memang sejatinya semua tontonan adalah karya fiksi, tapi dengan setting cerita yang berbeda dari keseharian kita, maka semakin terasa perbedaan antara kehidupan nyata dan yang kita lihat.

Frequency
Frequency

Lalu yang kedua, yang juga saya amini, adalah karena di setiap cerita perjalanan masa lalu, kita sudah tahu apa hasil akhirnya. Kita tahu bahwa JFK pasti ditembak dan meninggal. Kita tahu bahwa Hitler akhirnya mati dan Jepang menyerah di akhir Perang Dunia II. Yang menjadi seru pada akhirnya adalah cerita how to get to the end, and not about the ending. Petualangan mencapai tujuan akhir cerita yang akhirnya menjadi bagian dari sejarah yang seru untuk diikuti.

Dan yang termasuk dari petualangan itu adalah the look of certain period of time, apa yang menjadi tren saat itu, yang hanya kita bisa lihat di foto atau arsip, sekarang tampak hidup meskipun hanya di layar kaca. Membuat kita sebagai penonton semakin berandai-andai dalam menjalani hidup saat itu.

Is time travel possible?
Is time travel possible?

Kalau saya bisa time travel sesaat, sehari saja untuk bisa melihat langsung, menghirup napas dan menjalani hidup sebentar saja di masa lalu, maka secara acak, saya ingin mengalami langsung suasana-suasana berikut:
– malam minggu di pusat Jakarta tahun 1973 bersama anak-anak muda saat itu;
– pagi hari tanggal 1 Oktober 1965;
– siang hari tanggal 1 Oktober 1966;
– menikmati senja di Bali tahun 1959;
– hari pernikahan ayah dan ibu saya; dan,
– bertemu Naoko Nemoto tahun 1960 di Tokyo.

Kalau Anda?

14 thoughts on “Jalan-Jalan Jelajah Jaman Leave a comment

  1. seingatku, sudah ada tiga artikel di linimasa yang menanyakan pertanyaan yang kira2 sama. kalau bisa time travel, mau ke masa yang mana. tapi ya gapapa lhooo… ini cuma mau pamer saya pembaca setia. *eh

Leave a Reply