Cerita Yutaka

Hampir tepat dua tahun yang lalu, anak saya membuat request untuk hadiah ulang tahunnya; kucing. Setelah panjang lebar membuat MoU tentang siapa yang bertanggung jawab memastikan pemberian makan, pembersihan kandang, jadwal mandi dan sebagainya akhirnya kami sepakat. Karena kami sekeluarga kurang setuju jual beli binatang peliharaan, saya pun mulai bertanya kanan kiri mengenai kucing yang ditawarkan untuk diadopsi. Tak lama kami mendengar ada kucing bisa diadposi di Bandung, dan diimpor lah kucing yang kakak adik itu ke Jakarta. Permintaan dari empunya terdahulu, supaya jangan dipisahkan karena mereka kakak beradik, kasihan.

mtf_opglv_156-jpg
Yutaka menemani saya di kamar

Hadirlah kemudian dua kucing yang diberi nama Yutaka dan Mini oleh anak saya. Jika Mini dari awal sangat curiga dan jumpy, juga sangat suka sembunyi di tempat tempat aneh seperti lubang angin di atas jendela, atau di dalam guci, Yutaka justru sebaliknya. Yutaka suka sekali ikut berkumpul bersama manusia, minta dibelai, diajak bermain, malah menunggu kami bangun di depan pintu, dan terkadang ikut masuk ke kamar untuk tidur di tempat tidur.

Karena terlambat mensterilkan Mini, kucing kami pun bertambah satu, karena Mini ternyata buru buru dihamili kucing liar yang suka nongkrong di depan rumah. Anaknya Mini yang lahir bulan April ini kemudian diberi nama Prili (sangat suburban bukan?) kemudian semua orang baru ngeh kalau Prili ternyata punya biji, dan kami sempat pivot nama menjadi Prilo, tapi kok ya, kurang enak didengar. Akhirnya tetap kami panggil Prili.

img_20150723_084501
Yutaka dan Prili menemani anak buat PR

Walaupun sudah punya anak, Mini tidak lantas jadi dewasa, karena itu Prili atau Prilo lebih sering bermain dengan pamannya yang lembut hati dan baperan, Yutaka. Kalau mereka berdua sedang bermain, kami suka tertawa tawa melihatnya, karena begitu akrab dan lucu. Yutaka tetap menjadi kucing yang begitu penyayang, saya sering terenyuh melihat dia tertidur di samping anak saya yang juga sedang tidur. Walau terkadang saya suka jengkel karena dia di malam hari yang panas, sering waspada ketika saya membuka pintu kamar mau masuk, dia selalu mendahului saya untuk masuk kamar yang adem, dan sulit ditangkap untuk dibawa keluar.

Beberapa minggu terakhir ini memang Yutaka punya tempat nongkrong aneh, yaitu di jalan masuk mobil ke rumah saya. Saya, adik, anak saya sering kali harus turun dari mobil, memindahkan dia baru bisa masuk, karena bahkan dengan ancaman klakson dan ban mobil yang kian dekat, Yutaka tetap tak beranjak. Antara punya deathwish atau bloon, tapi ya begitulah dia. Selain di situ Yutaka juga sering ada di atas atap mobil saya ketika saya akan berangkat pagi, dan harus diangkat supaya pergi, karena tidak ada kata ancaman yang efektif. Terus terang saya punya perasaan kurang enak dengan kebiasaan ini, tetapi bagaimana cara melarang seekor kucing untuk tidak duduk di tempat favorit dia?

img_20150328_140629
Yutaka menemani anak bobo siang

Kemudian seminggu yang lalu, saya sedang meeting ketika ada dua panggilan yang tak terjawab dari rumah. Setelah saya bisa permisi, segera telepon balik, dan terdengar anak saya menangis. Rupanya Yutaka ditemukan tewas di tempat nongkrong favoritnya, tergilas mobil. Lemas rasanya mendengarnya. Lalu kemudian diselidiki bahwa tak ada mobil lewat kecuali ibu saya yang baru saja meninggalkan rumah, setelah mengunjungi cucunya. Semakin lemas rasanya. Saya menangisi Yutaka, membayangkan mukanya yang bloon ketika ban mobil ibu saya menggilasnya. Saya sempat marah ke ibu saya, kenapa tidak melihat kucing di depan mobilnya. Sungguh sulit ternyata menerima nasip kucing malang itu, sampai baru sekarang saya tega menulis tentangnya. Seminggu kemarin, bahkan membicarakannya pun membuat hati pedih. Mudah mudahan setelah ini saya bisa lebih legowo, juga dalam memaafkan ibu saya yang saya yakin tak sengaja melakukannya.

Selamat jalan Yutaka. Semoga kamu berada di surga kucing yang adem dan tidak kepanasan lagi.

93d67b0b898d46b984fac3d056893003
Mungkin Yutaka sedang di atas sana melihat ke bawah dengan kepo “Ibuk sedang ngapain sih?”

Posted in: @linimasa

13 thoughts on “Cerita Yutaka Leave a comment

  1. Turut berduka cita Kak Lei. Kucingku juga beberapa begitu, tertabrak mobil atau motor, ada yg tanggung jawab dengan bilang dan langsung menguburkannya, ada yang malah cuma minggirin ke trotoar depan rumah trus caw. Mau dikurung aja tapi ga tega kalau mukanya melas minta main keluar. Bye Yutaka, you’ll be missed.

  2. Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) (;﹏;) (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩-̩̩̩-̩̩̩) (´•̥̥̥д•̥̥̥̀ू๑)‧º·˚
    (*̩̩̩ᵋ *̩̩̩ ) ꒰⁎′̥̥̥ ⌑ ‵̥̥̥ ꒱ ( ͒ ˃̣̣̥᷄ꇵ͒˂̣̣̥᷅ ू ͒)
    ( ͒˃̩̩⌂˂̩̩ ͒) ฅ(⌯͒•̩̩̩́ ˑ̫ •̩̩̩̀⌯͒)ฅ (˃̩̩̥ɷ˂̩̩̥)
    ( -̩̩̩͡˛ -̩̩̩͡ ) Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) (;﹏;) (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩-̩̩̩-̩̩̩) (´•̥̥̥д•̥̥̥
    ̀ू๑)‧º·˚
    (*̩̩̩ᵋ *̩̩̩ ) ꒰⁎′̥̥̥ ⌑ ‵̥̥̥ ꒱ ( ͒ ˃̣̣̥᷄ꇵ͒˂̣̣̥᷅ ू ͒)
    ( ͒˃̩̩⌂˂̩̩ ͒) ฅ(⌯͒•̩̩̩́ ˑ̫ •̩̩̩̀⌯͒)ฅ (˃̩̩̥ɷ˂̩̩̥)
    ( -̩̩̩͡˛ -̩̩̩͡ ) Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) @&!*(&*(#!()!!!???!

  3. it is okay mba Leila. Nanti selanjutnya diinformasikan oleh orang rumah, setiap kali mau mengeluarkan mobil, starter dan panasin mobil dulu karena kucing ga suka bunyi mesin mobil.

Leave a Reply