Membuka Diri

Terus terang, saya bingung mau menulis apa hari ini. Makanya sampai jam makan siang ini, saya belum tahu harus menulis apa. Yang saya tahu hanya penyebab kebingungan ini. Apakah itu?

Negativity. Atau atmosfir negatif di sekeliling kita akhir-akhir ini.

Susah rasanya tidak melihat, membaca atau mendengar begitu banyak berita negatif yang mengepung kita belakangan ini. Saya sudah jarang, bahkan hampir tidak, menonton stasiun televisi lokal beberapa tahun terakhir ini. Namun begitu, kepungan berita negatif menyerbu ranah media sosial, yang lebih sering kita cek dibanding televisi lokal. Tentu saja, yang memperkeruh berita-berita yang sudah keruh ini adalah komentar-komentar dari pembacanya. Meskipun sudah berusaha di-skip, tak urung juga terlihat beberapa komentar yang membuat kita miris sambil berpikir, “Apakah benar kita sama-sama hidup di satu negara?”

Di salah satu kelompok pertemanan saya, seorang teman sudah menjadi korban cacian dari teman lain, yang kebetulan sebagian besar dari kami juga mengenal pencaci ini. Tidak menjadi isu kalau cacian tersebut ditulis dalam candaan. Namun ketika cacian tersebut sudah menyebutkan urusan hidup dan mati, maka perkaranya menjadi lain.

Yang membuat saya sedih dari banyaknya pemberitaan negatif ini adalah keengganan banyak kelompok masyarakat untuk maju. Di saat ranah-ranah negara lain sibuk menciptakan kemajuan baru dalam berbagai hal, mulai pangan, kesehatan sampai teknologi, kita malah menutup diri. Block sana-sini. Mengagungkan masa lalu. Berpaling pada ekstrimisme. Menutup mata pada perbedaan. Menjadi mayoritas yang menindas. Menolak ilmu baru. Merusak budaya.

(Courtesy of Huffingtonpost.com)
(Courtesy of Huffingtonpost.com)

Daftar di atas masih bisa jauh lebih panjang lagi. Semuanya membuat seakan-akan kita hidup dalam keputusasaan, seolah-olah tidak ada masa depan lagi.

Kalau berpikir jauh membuat pusing, maka mungkin kita memulai dari masa depan yang paling dekat dulu, yaitu esok hari.

Tulisan ini saya tulis di hari Kamis siang, tanggal 3 November, satu hari sebelum demo besar yang rencananya akan dilakukan di hari Jumat, tanggal 4 November. Pada saat saya menulis ini, saya sudah berencana melakukan beberapa hal untuk menghadapi esok hari, yaitu:
– bangun pagi, lalu membereskan tempat tidur,
– sarapan kopi dan buah-buahan,
– memanggil tukang AC,
– membaca novel yang belum selesai,
– menyelesaikan pekerjaan yang tertunda,
– memasak makanan sendiri,
– menonton serial televisi dan film, dan,
– sesekali mengintip sosial media, dan menahan diri untuk tidak menyebarkan berita yang belum pasti.

Apabila ternyata besok pagi ada kabar lain yang mengharuskan saya mengubah rencana-rencana di atas, maka mau tidak mau saya harus siap. Yang penting kita harus membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru. Karena mulai dari membuka diri terhadap rencana baru lah, baru kita bisa membuka diri terhadap ide-ide baru lainnya yang lebih besar, and eventually, to many differences ahead.

Yang jelas, despite the inescapable negativity, never give in. Pelan-pelan kita membuka diri, sesusah apapun itu, bahwa masih ada hal-hal lain dalam hidup that makes life worth living.

(Courtesy of pickthebrain.com)
(Courtesy of pickthebrain.com)

Mari.

Posted in: @linimasa

Tagged as: , ,

21 thoughts on “Membuka Diri Leave a comment

  1. Selamat datang… kebencian itu dipupuk dan dibiakkan dalam ranah kewajaran. Percaya buta terhadap guru akan membawakan kebaikan. Karena kamu tidak lagi menonton tayangan lokal, pikiranmu sudah diracuni oleh zionis.

    Jaman sekarang berpendidikan tinggi dan lulusan luar negri tidak serta merta membuat orang lebih terbuka…

Tinggalkan Balasan