Me on Bob Dylan: It’s Alright, Ma (I’m Only Mumblin’)

Penonton: “JUDAS!!”

Bob Dylan: “I don’t believe you. You’re a liar! “Play it fucking loud!”

dylan2

Lalu lagu “Like A Rolling Stone” pun mengalir seperti batu yang yang bergulir dan entah kapan akan berhenti. Kata “Judas” adalah teriakan dari penonton di Manchester, tahun 1966. Caci maki seperti: “Any bloody pop group can do this rubbish!”, “He’s a fake neurotic.”, “Dylan is prostituting his music.”, “Go home, you traitor!” banyak keluar dari penonton di rangkaian turnya di Inggris yang terkenal kritis. Tapi Bob Dylan merespon seadanya. Santai dan meneruskan bernyanyi. Teriakan itu bukan tanpa sebab. Tahun 1965-66 adalah periode penting di karir Bob Dylan sebagai penyanyi dan di dunia musik pop. Dia tidak ingin hanya menjadi penyanyi yang bermodalkan gitar akustik dan harmonika saja. Tapi memutuskan untuk memakai band dan memakai untuk memakai gitar listrik. Para pengikut setianya merasa dikhianati. Mereka kecewa. Mereka menginginkan Dylan yang dulu. Para sejawatnya di musik folk pun banyak yang tidak setuju dengan keputusannya. Pete Seegers, senior Dylan di musik folk pun dikabarkan ingin segera memutus kabel dan menghentikan show Dylan yang memutuskan untuk memainkan full band dan dengan gitar listrik di Newport Folk Festival di tahun 1965. Sesuatu yang haram dilakukan pada saat itu. Karena telah mencederai kemurnian musik folk. Beberapa bulan setelah rangkaian konser di Inggris, Dylan mengalami tabrakan motor yang cukup parah. Burnt out sepertinya. Dia bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja dan juga tur yang melelahkan. Dia memutuskan berhenti untuk melakukan tur setelah kecelakaan. Tapi dia tetap membuat album. Dia hanya menghilang dari sorotan publik selama sembilan tahun.

Padahal di situ adalah saya melihat kejeniusan seorang Bob Dylan sebagai penulis lagu. Secara sadar atau tidak dia baru saja menciptakan genre baru: folk-rock. Ini langkah yang radikal. Usianya baru 24. Tidak banyak musisi atau band yang berani keluar dari zona nyaman. Ada yang berhasil. Tidak sedikit yang gagal. Tapi lebih dari itu Dylan sedang menjadi Dylan. Seseorang yang tidak peduli dengan pendapat atau kritik. Dia melakukan apa yang ingin ia lakukan. Konsekuensinya berat. Dia bisa saja ditinggalkan penggemarnya. Tapi ternyata tidak. Sikap itu yang saya ambil dari seorang Dylan. Tidak mau didikte. DGAF attitude. Ada yang pernah mendengar Laura Marling? Berpindah dari akustik menjadi elektrik di album kelimanya, Short Movies. Dia sedang menigikuti jalur Dylan. Itulah kenapa saya juga mengagumi Laura Marling. Salah satu hal yang saya lihat dati musisi atau band. Sikap kadang lebih penting dari sekedar musik yang penting enak didengar. Musik enak didenger tapi kelakuannya gitu kan gimana ya.

bob-dylan_nobel

Kurang dari seminggu yang lalu, Bob Dylan diganjar hadiah sebagai peraih Nobel Prize for Literature. Mengejutkan? Buat saya tidak begitu. Memang sudah seharusnya. Bahkan saya menganggapnya Nobel atau The Swedish Academy telat memberikannya. Banyak yang menominasikan Dylan untuk mendapatkan Nobel sejak tahun 90an. Tapi ternyata tidak berapa lama dari pengumuman itu banyak kritikan pedas yang datang. Banyak yang mempertanyakan kenapa Bob Dylan, yang lebih terkenal sebagai musisi dan pembuat lagu menganggap tidak layak mendapatkan hadiah Nobel di Bidang Kesusastraan. Ini adalah mereka yang meneriaki judas, traitor, atau segala macam sumpah serapah ketika Dylan merubah haluan. Mereka yang lebih menjagokan Haruki Murakami lupa bahwa judul buku Norwegian Wood diambil darilagu The Beatles yang berjudul Norwegian Wood (And The Bird Has Flown) dari album Rubber Soul (1966). Mereka juga lupa bahwa The Beatles album era Help! dan seterusnya sangat terpengaruh oleh Bob Dylan. Tanpa Dylan mungkin kita tidak akan pernah punya album Sgt. Peppers And The Lonely Hearts Club Band. The Beatles menjadi lebih serius dalam mendalami lirik dari sekedar “love-love me do“, atau “she loves you yeah-yeah-yeah“. Mereka lupa bahwa Jimi Hendrix minder untuk bernyanyi di depan publik karena suaranya jelek tidak seperti penyanyi dari Motown. Tetapi setelah dia mendengarkan lagu “All Along The Watchtower” dari Bob Dylan, dia merasa mendapat dorongan untuk bernyanyi. Kalo Dylan yang suaranya biasa saja maka dia pun bisa. Mereka yang tidak setuju belum memahami lagu “The Times They Are A-Changing” itu tidak akan lekang oleh jaman. Waktu akan terus berubah. Penggalan dari stanza kedua menjelaskan kondisi ini : Come writers and critics / Who prophesize with your pen / And keep your eyes wide / The chance won’t come again / And don’t speak too soon / For the wheel’s still in spin.

Bob Dylan

Dylan membuat lagu ini di tahun 1964, usianya baru 23 tahun. Lirik lagu Bob Dylan sudah banyak dipelajari di universitas-universitas ternama di luar negeri sana. Entah kalau di sini. Kalau belum, ini saatnya. Bob Dylan sudah sejajar dengan Pablo Neruda, Orhan Pamuk, Gabriel Marcia Marquez, Samuel Beckett, T.S. Eliot dan mereka-mereka yang telah meraih Nobel di bidang Kesusastraan. Sir Christopher Bruce Ricks, seorang profesor dari Oxford University yang juga seorang kritikus sastra membuat buku berjudul Dylan’s Vision of Sin telah menyatakan bahwa lagu-lagu Bob Dylan adalah karya sastra. Dia bahkan menganalisa lagu-lagu Dylan dari sisi teologi dengan kategori Seven Deadly Sins, Four Virtues, dan Three Graces. Banyak buku yang sudah diterbitkan mengenai Bob Dylan.

Saya melihat Bob Dylan adalah seorang punk-rock sejati. Dia sudah menjadi punk-rocker sebelum istilah punk-rock ditemukan. Original hipster. Ketika saya betul-betul mencermati album-album awalnya periode 1963-1966. Album perdananya tidak begitu mengena di hati saya. Dylan pun tidak suka dengan album itu. Tapi ada lagu yang harus dicermati: “Song To Woody”. Itu adalah lagu penghormatan terhadap pahlawannya: Woody Guthrie. Dia mungkin penyanyi pertama yang menulisi gitarnya dengan pesan yang menohok dan sangat politis: This Machine Kills Fascists. Saya memulai dari album Freewheelin’ Bob Dylan, lagu pertama adalah “Blowin’ In The Wind”. Ketika lirik pertama mengalun: “How many roads must the man walk down / Before we call him a man?” Saya tertegun. Lirik ini begitu sederhana. Tapi maknanya begitu dalam. Dada saya seperti ditendang tentara bersepatu Doc Martens. Lirik yang membuat kita terhenyak. Ini adalah pertanyaan setiap manusia di muka bumi ini. Ini kenapa Sara Danius, dari The Swedish Academy, sebagai lembaga yang memutuskan untuk memberikan penghargaan Nobel, menyandingkan Bob Dylan dengan Homer dan Sappho. Kita tak akan pernah menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Karena jawabannya adalah di judul lagu tersebut. Bagaimana mungkin seorang anak muda berusia 22 tahun bisa membuat lirik seperti ini?

Singkat kata, lagu-lagu Bob Dylan bukan untuk dinyanyikan dengan lantang di kamar mandi. Dia bukan crooner. Memahami lagu Dylan adalah dengan membaca dan memahami liriknya. Di satu konferensi pers, Dylan pernah ditanya, apakah anda menganggap diri anda sebagai penyair atau penyanyi folk? Dylan menjawab sambil tersenyum, “I think of myself as a song-and-dance man, y’know“, sambil tersenyum. Jawaban ini disambut dengan tertawa para jurnalis di ruangan tersebut. Tapi lagi-lagi jawaban tersebut walau terkesan bercanda tetap membuat kita berpikir. Tapi di pertanyaan selanjutnya dia menjawab bahwa dia menulis lirik dulu baru musik menyusul. Di sini kita lihat bahwa dia adalah seorang penyair. Penulis puisi. Puisi yang dinyanyikan. Musikalisasi puisi. Sara Danius juga menjelaskan di pengumuman itu. Jika memang di antara kalian belum mencermati Bob Dylan. Bisa coba mulai dengan album Blonde on Blonde. Sara betul. Album itu lebih mudah dicerna.

Satu hal yang pasti adalah Bob Dylan adalah manusia yang kompleks. Arahnya tidak bisa ditebak. Dia seperti bunglon. Selalu berubah dari waktu ke waktu. Di film I’m Not There (2007) seorang Bob Dylan bahkan dibintangi oleh lima aktor dan satu aktris (Cate Blanchett). Tidak mudah untuk memahami seorang Bob Dylan. Tapi patut dicoba. Apakah penghargaan ini penting buat Bob Dylan? Saya rasa tidak. Dia sudah mendapat Grammy, Oscars, Golden Globe, Pullitzer, dan berbagai penghargaan penting lainnya. Tapi penghargaan ini penting buat Nobel dan The Swedish Academy. Kenapa? Karena keputusan ini termasuk berani. The Swedish Academy berani keluar dari jalur dengan memilih satu-satunya penyanyi yang pernah mendapatkan Nobel. Itu artinya apa? Ada harapan buat penyanyi-penyanyi lainnya yang mempunyai lirik yang bagus untuk mendapatkan Nobel. Bob Dylan telah membuka pintu untuk para lirikus lainnya. Jika Bob Dylan bisa maka yang lain pun bisa.

“The Nobel for Bob Dylan is like pinning a medal on Mount Everest for being the highest mountain.” – Leonard Cohen

Yang patut ditunggu adalah apakah Bob Dylan akan datang di perhelatan nanti tanggal 10 Desember bersama para peraih Nobel lainnya? Kalau ya apa yang akan dia katakan? Apa yang akan dia lakukan dengan uangnya? Dia sudah kaya. Banyak penulis berbakat yang lebih membutuhkan. Atau dia akan memilih tidak datang dan menolak Nobel seperti Jean Paul Sartre? Kemungkinan itu bisa terjadi. Karena sampai hari ini belum ada pernyataan resmi dari Bob Dylan. Dia belum berkomentar. Bahkan di konser terakhirnya di Las Vegas, Nevada pun dia tidak menyebut atau menyinggung kata Nobel. Leonard Cohen, teman dekat dan penyanyi folk seangkatan Dylan pun berkata, tidak butuh penghargaan untuk mengakui kehebatan seseorang yang telah telah mentransformasi musik pop melalui album Highway 61 Revisited. Pertanyaan yang lebih penting. Apakah pantas Bob Dylan mendapatkan Nobel di Bidang Kesusastraan? Saya jadi berpikir ulang. Mungkin yang lebih pantas itu Nobel khusus untuk Bob Dylan. Nobel Prize For Bob Dylan Being Bob Dylan.

Oya. Kayaknya gak komplit ya kalau tidak menyisipkan satu lagu dari Bob Dylan. Ini salah satu lagu favorit saya, yang sampai sekarang saya belum hapal liriknya. Saya lampirkan juga liriknya sekalian biar bisa sambil nyanyi dan mengernyitkan dahi. Selamat menikmati.

Desolation Row

They’re selling postcards of the hanging
They’re painting the passports brown
The beauty parlor is filled with sailors
The circus is in town
Here comes the blind commissioner
They’ve got him in a trance
One hand is tied to the tight-rope walker
The other is in his pants
And the riot squad they’re restless
They need somewhere to go
As Lady and I look out tonight
From Desolation Row

Cinderella, she seems so easy
“It takes one to know one,” she smiles
And puts her hands in her back pockets
Bette Davis style
And in comes Romeo, he’s moaning
“You Belong to Me I Believe”
And someone says, “You’re in the wrong place my friend
You better leave”
And the only sound that’s left
After the ambulances go
Is Cinderella sweeping up
On Desolation Row

Now the moon is almost hidden
The stars are beginning to hide
The fortune-telling lady
Has even taken all her things inside
All except for Cain and Abel
And the hunchback of Notre Dame
Everybody is making love
Or else expecting rain
And the Good Samaritan, he’s dressing
He’s getting ready for the show
He’s going to the carnival tonight
On Desolation Row

Now Ophelia, she’s ’neath the window
For her I feel so afraid
On her twenty-second birthday
She already is an old maid
To her, death is quite romantic
She wears an iron vest
Her profession’s her religion
Her sin is her lifelessness
And though her eyes are fixed upon
Noah’s great rainbow
She spends her time peeking
Into Desolation Row

Einstein, disguised as Robin Hood
With his memories in a trunk
Passed this way an hour ago
With his friend, a jealous monk
He looked so immaculately frightful
As he bummed a cigarette
Then he went off sniffing drainpipes
And reciting the alphabet
Now you would not think to look at him
But he was famous long ago
For playing the electric violin
On Desolation Row

Dr. Filth, he keeps his world
Inside of a leather cup
But all his sexless patients
They’re trying to blow it up
Now his nurse, some local loser
She’s in charge of the cyanide hole
And she also keeps the cards that read
“Have Mercy on His Soul”
They all play on pennywhistles
You can hear them blow
If you lean your head out far enough
From Desolation Row

Across the street they’ve nailed the curtains
They’re getting ready for the feast
The Phantom of the Opera
A perfect image of a priest
They’re spoonfeeding Casanova
To get him to feel more assured
Then they’ll kill him with self-confidence
After poisoning him with words
And the Phantom’s shouting to skinny girls
“Get Outa Here If You Don’t Know
Casanova is just being punished for going
To Desolation Row”

Now at midnight all the agents
And the superhuman crew
Come out and round up everyone
That knows more than they do
Then they bring them to the factory
Where the heart-attack machine
Is strapped across their shoulders
And then the kerosene
Is brought down from the castles
By insurance men who go
Check to see that nobody is escaping
To Desolation Row

Praise be to Nero’s Neptune
The Titanic sails at dawn
And everybody’s shouting
“Which Side Are You On?”
And Ezra Pound and T. S. Eliot
Fighting in the captain’s tower
While calypso singers laugh at them
And fishermen hold flowers
Between the windows of the sea
Where lovely mermaids flow
And nobody has to think too much
About Desolation Row

Yes, I received your letter yesterday
(About the time the doorknob broke)
When you asked how I was doing
Was that some kind of joke?
All these people that you mention
Yes, I know them, they’re quite lame
I had to rearrange their faces
And give them all another name
Right now I can’t read too good
Don’t send me no more letters, no
Not unless you mail them
From Desolation Row

Adakah penyair paling hebat di dunia ini yang bisa membuat puisi dimana ada kata Cinderella, Bette Davis, Romeo, Cain dan Abel, Hunchback of Notre Dame, Good Samaritan, Ophelia, Noah, Casanova, Einstein, Robin Hood, Titanic, Phantom of The Opera, Holocaust, Nero, Ezra Pound, dan T.S. Eliot dalam satu rangkaian puisi? Saya kira tidak ada. So, how does it feel? 

Iklan

5 thoughts on “Me on Bob Dylan: It’s Alright, Ma (I’m Only Mumblin’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s