A Waltz For a Night

tumblr_static_tumblr_mo01pemnzr1spxeqio1_1280

“Berdiri disini. Kamu diam.”

“Ahaha. Untuk apa?”

“Aku ingin memotretmu. Juga suasana ini. Wajah kamu. Rambut kamu. Senyum kamu.”

Ada saja cara kamu untuk membuatku kagum. Pertama, saat kamu bersamaku dengan syarat yang selalu sama. Tak perlu membawa hape. “Pakai perasaan aja“,  katamu. Dan suatu ketika kita kena getahnya. Kamu lupa aku dimana. Aku juga sibuk mencari kamu. Iya. Hanya bersandarkan pada perasaan itu membutuhkan dua jam untuk mempertemukan aku dan kamu di sebuah mal.

Kedua, dikira aku kamu akan mengajakku nonton atau makan siang. Kamu malah sudah bawa bekal. Itupun makanan ikan. Kamu menarikku dan mengajak ke halaman mal dan memberi makan ikan. Aku, seumur-umur belum pernah dikerjain seperi ini. Untuk apa aku dandan jika kencan pertama kita adalah MEMBERI MAKAN IKAN???

Ketiga, ya itu tadi. Kita tak pernah selfie. Setiap pertemuan kita akan diakhiri dengan saling berdiri. Saling pandang. Lama. Terkadang kamu iseng menghembuskan abab-mu. Kamu sering meniup rambut depanku. “Berdiri. Sini. Kupotret kamu dalam ingatanku. Kalau kangen, aku tinggal pejamkan mata. Keren kan? Melihat kamu malah harus dengan mata tertutup?” Menyesal kenapa aku nurut aja sama kamu.

Keempat, kamu apa adanya. Saat aku ulang tahun, sama seperti kebanyakan perempuan, berharap kejutan. Apa, kek. Hadiah kecil. Tapi karena kamu adalah KAMU, maka empat kali ulang tahun aku sama sekali tanpa kejutan. Tahun kemarin, kamu malah mengajak aku ke toko sepeda dan menunggu sepedamu yang rantainya copot, bannya bocor dan jeruji yang bengkok. Empat jam di toko sepeda. AKU ULANG TAHUN. Kamu sibuk berbicara dengan Koh Iwan, Lala dan Marto untuk membicarakan sepeda seperti membicarakan betapa mahalnya biaya pendidikan anak zaman sekarang. PADA HARI AKU ULANG TAHUN dan aku menghabiskan dua chesse burger, satu pepsicola, dan satu botol aqua di ruang tunggu toko.

Kelima, aku cinta kamu. Jika bukan karena hal ini, nomor satu, dua, tiga, dan empat akan menjadi alasan aku untuk mencari pria lain. Apalagi kamu bau. Ini serius! Kamu jarang mandi dan tentu saja gosok gigi. Kamu juga gak pandai dandan. Tapi kamu istimewa. Ndak pernah sedikitpun “gampangin” aku. Iya. Itu yang bikin aku makin jatuh cinta. Kita selalu saja tak ada yang mau duluan menutup telpon. Klasik. Sudah biasa. Tapi aku suka! Aku ingin mengulangi hal ini setiap hari.

Saat aku bobo, eh kamu menulis satu-dua kalimat lewat path atau WA. Sok puitis dan lebih banyak garing. Setiap bangun pagi dan kubuka hape, selalu saja ada sapa pagi darimu. Tapi aku suka! Aku tahu itu untuk aku. Suka banget! Walau aku tahu kamu selalu begadang. Hih! Dasar bandel!

Tau gak, Nes. Kenapa helm taruhnya di kepala?”

Aku ingin menjawab karena kepala adalah organ paling vital. Tapi aku tahu kamu. Selalu saja punya jawaban aneh dan tak terduga.

Hmmm.. Apa ya?“– dan aku memilih untuk tak menjawab.

Beneran ini, jawab aja. Aku nanya serius“.

Aku menggelengkan kepala. Eh, mata kamu lucu banget kalau sedang begini. Ya, Tuhan.

Karena H-E-L-M itu H dan E-nya adalah head. Jadi, ya di kepala. Kalau di kaki, namanya F-O-O-L-M.”

Tuh kan. Kamu banget. Garing tudemaks. Tapi entah kenapa cara kamu bicara, cara kamu memperlakukan aku, cara kamu memandang aku, cara kamu dan cara kamu dan cara kamu yang semuanya selalu membuatku nyaman.

2a1285761bcf7783f256a6567e0956f7

Kamu selalu jorok. Kalau ngentut kamu seringkali tipu aku. Diminta mendekat. Pura-pura gatal dan tak bisa menggaruk punggung. BLAH! Dari baunya aku yakin kalau kamu selalu sarapan keset atau lap kanebo. Apek, lembab, mematikan!

Juga soal ngupil sembarangan. Lalu upilnya menempel kemana-mana. Stir mobil, mouse, jepit rambut, dan paling takjub adalah saat kamu pura-pura kaget karena tiba-tiba punya kutil di dahi. Ahahaha. K-A-M-U  S-U-N-G-G-U-H  T-A-I!

Juga aku paling gak suka pas kamu selalu merokok. Bukan soal asapnya yang mengenaiku. Ini soal kesehatan. Setiap mau bayar gojek, dengan alasan menukar uang kecil kamu mampir di warung burjo depan dan membeli sebungkus marlboro. Kamu harusnya sadar sendiri bahwa merokok itu gak baik. Harusnya kamu sendiri yang tahu batasan kapan kamu stop merokok. Bukan aku. Percuma kalau aku larang kamu. Toh, saat tak ada aku, kamu bakalan merokok estafet hingga tiga batang tanpa henti. Sama aja kan?

Setiap kamu mulai batuk, aku sebetulnya ingin nangis, tapi kutahan. Sebal! Apalagi kalau aku marah dan kamu malah tertawa. Gak lucu tauk! Tapi, sejujurnya aku sayang banget. Gak mungkin aku cegah kamu.

Apalagi sekarang.

Kamu malah boleh merokok sepuasnya. Jika boleh aku bantu bakar dari sini, aku mau yang sulut apinya. Aku gak bakal kesal. Aku gak sebal lagi. Apalagi marah. Kamu juga gak perlu repot cari asbak. Kan di surga, kamu boleh buang abunya dimana aja?

Sekarang, aku berdiri disini, sudah dandan rapi. Biasanya kamu akan menyeka rambutku, memegang pundakku supaya ndak gerak.

Nah gitu. Diam ya, Nes. Aku potret dulu pakai ingatanku“.

Lalu berlama-lama menatap aku.

Hey, selamat ulang tahun kamu. Doain aku cepet nyusul ya…

tumblr_nm24nxa8ov1rcldplo1_500

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[]

Jakarta, 8 Oktober 2016

RoySayur

Iklan

23 thoughts on “A Waltz For a Night

  1. Salah banget baca ini ketika udah berdandan lengkap mau berangkat kerja. Oh…Gusti!

    Benar juga ya kalo ada kata bijak tentang “don’t collect things but collect moments” coz in the end of the day these colected moments will stay in mind and heart.

    Makasih sudah membuat Sabtu pagi saya berwarna, mas Roy!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s