Kuliner di Bali adalah Koentji

Mungkin saya kurang gaul, tapi baru ngeh kalau dalam hal kuliner, Bali ternyata maju beberapa langkah dibandingkan Jakarta. Tidak hanya toko bahan makanan sehat yang sepertinya lebih menjamur di sana, bahkan sudah memiliki nama yang cukup besar dan memiliki brand sendiri, seperti Bali Buda dan Big Tree Farms. Memang sering melihat di social media kalau banyak restoran trendy di Bali, tetapi tidak paham kalau trennya juga mencakup makanan. Dari segi servis juga, standarnya lumayan tinggi; membuat saya berharap kalau semoga suatu hari ada restoran di Bali yang bisa mendapatkan Michelin Star. Sedih rasanya, hampir semua Negara di Asia Tenggara memiliki restoran Michelin Star, tetapi Indonesia belum juga. Dari beberapa menu yang termasuk masih jarang saya dengar di Jakarta, berikut ini favorit saya. Siapa tahu Anda juga ingin coba.

img_20161001_152504

  1. Smoothie bowl. Sebenarnya ini smoothie yang biasa kita sruput dari gelas. Hanya diletakkan di mangkuk dan dimakan seperti bubur. Lalu diberi topping buah, granola (yang agak capek mengunyahnya), kepingan kelapa kering, dan tidak jarang kacang-kacangan. Tempat yang spesifik menjual ini di Bali, Nalu Bowls, baru saja buka satu dua minggu yang lalu di Kemang Timur, jika Anda ingin coba. Juga ternyata restora Mangia juga menjual smoothie dalam mangkuk seperti ini, tapi saya belum coba.

img_0717

2. Corn fritter alias perkedel jagung as entrée. Ini agak ajaib tapi enak sih. Menurut rekan foodie saya, tren ini dimulai dari Melbourne, asal muasal tren foodie hipster Asia Pasifik. Tetapi ketika diadaptasi di Bali, (menurut rekan saya ini) jatuhnya malah lebih lezat di sini. Ya tentu saja, siapa lagi yang paling jagoan membuat perkedel jagung daripada orang Indonesia? Buatan Mbak Sum saya tercinta saja enak buanget. Perkedel jagung fancy ini ditumpuk dan diberikan guacamole dan satu atau lebih jenis cured meat di tengahnya; seperti bacon, ham atau sebangsanya.

img_20161001_153758
3. Coconut latte. Mungkin ini bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi saya terharu kalau di Bali, restoran banyak yang memiliki RESPECT TO THE LACTOSE INTOLERANT. Sebagai pemilik perut yang semakin tua semakin perut terasa sungkan jika minum susu, saya tadinya memesan coconut latte hanya karena penasaran. Ternyata bentuknya persis seperti latte pada umumnya, hanya yang digunakan susu kelapa alias santan sebagai pengganti susu. Rasanya enak sekali, apalagi buat pencinta produk kelapa seperti yours truly. Saking sedapnya, saya ingin eksperimen membuat latte ini di rumah akhir pekan ini.

 

festive-roast-pumpkin-salad-500
dari Google.

 

4. Roasted pumpkin salad atau roasted pumpkin di makanan lain. Menurut saya, labu (bukan labu siam) adalah salah satu bahan makanan yang underrated dan underutilized. Padahal banyak tersedia dan tidak mahal. Ternyata oh ternyata, labu yang dipanggang itu enak sekali ya! Manis dan menyenangkan. Ini sudah saya coba bikin sendiri di rumah dan hasilnya yum!

(Semua foto dari ponsel sendiri kecuali roasted pumpkin salad.)

 

Iklan

4 thoughts on “Kuliner di Bali adalah Koentji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s