Berantakan, tapi Enak

ORANG Indonesia mengenalnya sebagai salah satu varian gorengan. Iya, gorengan yang biasa dijajakan bersama singkong goreng, ubi goreng, sukun goreng, pisang goreng, tahu isi, Pisang Molen, Pilus, Jemblem, dan beraneka jenis lainnya, yang kadang-kadang minyak gorengnya dicampur plastik biar renyah lebih lama. /swt

Satu jenis makanan, bahannya sama-sama berupa adonan tepung kental yang dicemplungi cacahan sayuran, namun dengan beragam nama dan tampilan. Kacau balau, tapi jadinya relatif enak.

Orang-orang di sisi kanan pulau Kalimantan, Surabaya dan Jawa Timur secara umum, mengenal gorengan ini sebagai Ote-ote. Bentuknya seperti koin, tapi sisi bawahnya cembung, seperti penampang sendok kuah soto. Seekor udang (biasanya udang laut yang badannya pipih dengan ukuran agak kecil) ditempatkan di atas adonan, dan merah matang berbarengan. Jadi semacam topping. Kalau ada udang gorengnya, walau hanya ada seekor, Ote-ote tersebut tergolong premium. Bukan sekadar gorengan yang bisa dibeli di pinggir jalan.

img_1569
Ada udangnya, kan? Tapi ini kegedean sih.

Di Samarinda, masih di Kalimantan, ada pula menu serupa yang disebut Unci-unci. Sama-sama berupa adonan sayur, namun kali ini tanpa udang, dan bentuknya tidak rapi teratur karena digoreng sekadarnya tanpa menggunakan spatula tadi. Sepintas, Unci-unci mirip banget dengan Bala-bala Bandung. Bentuknya awur-awuran.

Masih serupa tapi tetap tak sama, Ote-ote yang tersedia di seantero Kalimantan sebelah kanan (utara, timur, selatan, tengah) terkesan lebih kering. Adonannya digoreng sampai kering, hingga memunculkan pinggiran yang renyah. Sementara lapisan adonan tepung pada Bakwan Sayur terkesan lebih tebal, mirip seperti selimut pada Mendoan Banyumas. Cenderung lunak, bukan renyah.

Di Samarinda, dan Kaltim pada umumnya, Ote-ote disantap dengan sambal petis. Foto: jalansambiljajan.blogspot.com
Di Samarinda, dan Kaltim pada umumnya, Ote-ote disantap dengan sambal petis. Foto: jalansambiljajan.blogspot.co.id

 

Nah, di Samarinda, Ote-ote maupun Unci-unci tidak disantap begitu saja, tidak pula hanya dengan rawit. Masing-masing punya jenis bumbu cocolannya. Ote-ote disantap dengan sambal petis pedas berwarna kecokelatan, sedangkan Unci-unci dengan bumbu sambal berwarna merah. Keduanya pedas. Sedangkan Bala-bala dan Bakwan Sayur dimakan dengan rawit hijau, ya kan?

Ada satu lagi yang berbeda. Bagi kamu yang pernah melakukan perjalanan darat dari Surabaya ke Malang, atau ke beberapa daerah sekitarnya, pasti pernah dengar nama Ote-ote Porong. Ote-ote yang dijual di daerah Porong. Punya restorannya sendiri, dan cukup besar.

Ote-ote Porong tidak hanya terbuat dari adonan tepung, rajangan wortel dan kol, namun menjadi tebal karena cincangan daging, dan gurihnya rumput laut, bahan yang terlihat seperti lembaran berwarna hitam. Akan tetapi tanpa udang goreng di bagian atasnya. Untuk beberapa varian resep, juga menggunakan daging tiram.

img_1567
Tampilan Ote-ote Porong. Foto: bumbubalado.com

 

Ote-ote, Bakwan, Bala-bala, Unci-unci sejatinya adalah/berasal dari satu entitas. Lingkungan di mana mereka digoreng yang memunculkan perbedaan. Entah itu pada tampilan, bahan yang digunakan, condiment yang disiapkan, serta ciri khas utama lainnya.

Dalam bahasa Hokcia (福清; Fuqing), salah satu sub suku Hokkian (福建; Fujian), gorengan ini disebut Tia Piang* (蝦餅; xia bing). Secara harfiah berarti “Kue Udang”. Sebutan Tia Piang hanya populer dalam lingkup Hokcia saja, sedangkan dalam bahasa Mandarin, nama 蝦餅 digunakan untuk menyebut kerupuk udang. Selain Tia Piang, orang Hokcia juga punya jajanan serupa dengan bahan berbeda: 海蠣餅 (haili bing), berisi tiram. Bayangin aja, Ote-ote isi daging tiram. Mewah banget!

Haili bing, alias bakwan isi tiram. Foto: weijunkj.cn
海蠣餅, haili bing, alias bakwan isi tiram. Foto: weijunkj.cn

Cukup susah menemukan Tia Piang di Indonesia. Tidak ada yang menjualnya. Saya mencicipi Tia Piang pertama kali di aula Sritex Solo beberapa tahun lalu, dalam semacam acara gathering paguyuban warga Hokcia se-Indonesia. Jarang-jarang, dan belum pernah makan lagi sampai sekarang. Apalagi yang isinya tiram.

Sama sekali tidak diketahui siapa yang menemukan makanan semodel ini, yang berupa adonan tepung dan sayur digoreng secara intens (deep-fried). Tidak diketahui pula bagaimana bentuk awalnya, yang pasti Hokcia adalah semacam kota madya atau keresidenan yang berada di pesisir tenggara Tiongkok. Warganya tentu akrab dengan udang, tiram, dan rumput laut.

Apakah Ote-ote, Bakwan, Bala-bala, dan Unci-unci merupakan turunan dari Tia Piang? Barangkali.

[]

Iklan

13 thoughts on “Berantakan, tapi Enak

  1. Tebakan di akhir tulisan nya sangat “misleading”, mas.
    Kalau pengaruh mungkin iya, dan itu sangat wajar mengingat orang tiongkok selalu datang ke nusantara.
    Tapi istilah “turunan” itu sangat spekulatif.

    Suka

    1. Hmmm… Mengambil perbandingan kasus “Bakpia vs. Bing”, “Lumpia vs. Run-bing”, atau “Bakcang vs. Lemper”, asumsinya lebih dulu dibuat di Cina untuk kemudian diperkenalkan di Indonesia. Memang masih asumsi sih, karena mesti dilihat di mana yang paling dulu membuat menu ini.

      Terlepas dari itu, Ote-ote enaknya ya dimakan. Hahaha…

      Suka

  2. kalo di Malang, lebih dikenal dengan nama Weci.
    pdahal malang juga bagian dari jawa timur, tapi punya istilah sendiri buat gorengan legendaris ini. hehe.
    pake both of sambel petis & cabe rawit. nyammm. maknyuss..

    Suka

          1. Kalo di betawi bala bala itu dibanjur sambel kacang.. Bujug dah!!

            Tapi Kalo saya sih, makan bala bala itu ritualnya harus pake indomie kuah cabe rawit.. seketika turun hujan

            Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s