Midodareni

Besok adalah hari pernikahannya. Semua teman dekat dan beberapa keluarga berkumpul di dalam kamar. Dia tak boleh turun dari ranjangnya. Sambil berbincang hangat, mengenang masa lalu mereka dan kisah cinta yang esok akan diresmikan. Aroma melati, mawar dan pandan memenuhi ruangan. Adat Cina Kejawen dipilih karena sebuah alasan sederhana, itu yang paling mereka pahami. Tak semua tata krama runut dilakukan. Hanya beberapa cuplikan yang menurut keluarga mempelai memiliki arti.

c273c6ac_motheremma

Seorang tante yang sudah janda bersama anak perempuannya yang SMA masuk ke dalam ruangan. Sambil tersenyum kecil, tante itu melihat ke keponakannya. Tanpa perlu banyak komando, semua yang ada di ruangan itu seketika meninggalkan kamar. Meninggalkan mereka bertiga. Mengenakan kebaya dan kain, serta untaian melati di kepalanya, tante itu mendekat dan duduk di ranjang. Belum lagi sempat keluar sepatah kata pun, mereka berdua langsung berpelukan dengan eratnya. Sedetik sebelum air mata menitik, tante itu menjauhkan tubuhnya dan kemudian berkata “besok mau kawinan, gak boleh nangis…”

Tante itu kemudian mengeluarkan sebuah kantong merah dari dalam tasnya dan memberikannya kepada keponakannya itu. Sambil saling bergengaman tangan, keponakannya itu berkata “terima kasih ya-”

“Suamimu gak perlu tau…” lanjut tante itu.

“Kenapa? Kan dia akan menjadi bagian dari hidup aku…” tanyanya sambil membuka kantung merah itu yang berisi beberapa perhiasan emas dan batu giok.

“Kita perempuan, mesti selalu siap kalau nanti sendiri.”

Keponakannya melirik belum paham sepenuhnya.

“Harusnya sih memang cinta sehidup semati… Tapi siapa yang bisa tau?” Lanjut tante itu lagi.

Keponakannya kemudian menunduk mendengarkan dengan seksama.

“Bisa jadi dia pergi duluan karena maut… bisa jadi karena ada cinta yang lain… atau mungkin malah kamu yang meninggalkannya…”

“Terus kenapa dia gak boleh tau pemberian ini?” tanya keponakannya lagi.

Tante itu terdiam sejenak, menarik napas, mengigit bibirnya sendiri, sebelum akhirnya melanjutkan.

“Tante ini kan janda ya… tante pernah gagal di pernikahan. Tante pasti ingin pernikahanmu langgeng. Soal mengapa suamimu tak boleh tau semuanya tentang hartamu, sepertinya hanya akan bisa dipahami saat pernikahanmu sudah berjalan dan saat itu datang.”

“Kalau nanti suamiku tanya dari mana?”

“Bilang aja, ini rahasia sesama perempuan.”


Rumah tangga keponakan itu telah berjalan 4 tahun lamanya. Di suatu siang, dia mendatangi tantenya. Mereka berencana makan siang bersama sekalian membawa anak pertamanya yang baru berusia setahun lebih jalan-jalan keluar rumah. Sambil makan siang, keponakannya itu bercerita soal suaminya yang baru saja berhenti bekerja. Perusahaan tempat suaminya bekerja bahkan jauh sebelum menikah, gulung tikar. Pesangonnya akan dicicil.

Di suatu malam keponakan itu menemui suaminya yang sedang duduk tertunduk di depan televisi yang menyala. Dia pun mendekat. Dan beceritalah rencana suaminya untuk memulai bisnis bersama teman-temannya. Untuk itu memerlukan modal yang tak sedikit. Menurut hasil perhitungan suaminya, dana dan harta cair yang dimiliki keluarganya, kurang. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya sang istri mengeluarkan kantung merah pemberian tante itu. “Pakai ini… Mulai aja usaha… Gak apa-apa… Aku masih ingat salah satu alasan mengapa aku memilihmu menjadi suamiku, karena kamu pekerja keras. Pakailah… Ini kado pernikahan dari tanteku”.

Suami itu tak hanya terkejut tapi dia seperti menemukan sisi lain dari perempuan yang sudah dinikahinya. Seperti ada misteri baru terkuak yang memberikan pandangan baru mengenai istrinya yang dikira sudah dikenalinya luar dalam. “Kenapa selama ini kamu gak pernah cerita soal ini?” Dengan tenang sang istri kemudian berkata “Kata tante, ini rahasia sesama perempuan”.


1c40d5b434c0f9a600cffbe800d3944a

Minggu depan adalah hari pernikahannya. Sore itu pembantu rumah tangga yang telah bekerja lebih dari sepuluh tahun bermaksud untuk pamit ke majikannya. Majikan yang sebenarnya sudah seperti keluarga sendiri itu adalah anak dari tante cerita di atas.

“Ini buat kamu, Mbak” kata majikannya sambil memberi sebuah kantung merah berisi perhiasan.

“Terima ka-”

“Suami kamu gak perlu tau…”

Mbak itu terkejut sesaat. Melihat itu, majikan pun melanjutkan:

“Kita perempuan, mesti selalu siap kalau nanti sendiri.”

Pembantu itu terus menunduk mendengarkan.

“Maunya kita memang cinta sehidup semati… Tapi siapa yang bisa tau?

Bisa jadi dia pergi duluan karena maut… bisa jadi karena ada cinta yang lain… atau mungkin malah kamu yang meninggalkannya…”

“Terus kenapa dia gak boleh tau pemberian ini?” tanya pembantunya lagi.

Majikan itu terdiam sejenak, menarik napas, mengigit bibirnya sendiri, sebelum akhirnya melanjutkan.

“Aku ini kan sudah menikah lebih dulu dari kamu. Bisa dibilang aku punya pengalaman sedikit banyak, lebih banyak lah dari kamu… Soal mengapa suamimu tak boleh tau semuanya tentang hartamu, sepertinya hanya akan bisa dipahami saat pernikahanmu sudah berjalan dan saat itu datang.”

“Kalau nanti suamiku tanya dari mana?”

“Bilang aja, ini rahasia sesama perempuan.”


Umur pernikahan pembantu itu belum lagi setahun saat pembantu itu hamil. Saat penantian anak pertama yang harusnya membahagiakan itu, terguncang oleh banyak kenyataan yang tak pernah dikira sebelumnya. 

Soal suaminya yang ternyata hanya bekerja paruh waktu dan sekarang sedang menganggur. Soal bapak dan ibu mertuanya yang setelah hidup bersama, menganggap menantunya sebagai tulang punggung keluarga itu. Harapan dan impian pembantu itu mengenai indahnya kehidupan berumah tangga, sirna seketika. Dia yang tadinya menghidupi dirinya sendiri, mendadak harus menghidupi tiga orang dewasa dan seorang janin dalam kandungannya.

Anak pertama lahir dengan susah payah. Kondisi bayi dalam kandungan memaksanya harus melahirkan di rumah sakit. Setelah lebih dari 9 jam bayi itu lahir.

Tengah malam sebelum dia diizinkan keluar dari rumah sakit, suaminya mendatanginya dan menceritakan soal kesulitan biaya yang harus mereka lunasi besok. Sambil terus menatap ke langit-langit kamar, sang pembantu itu meminta suami itu untuk mengambil tasnya. Dikeluarkannyalah kado pernikahan pemberian majikannya. “Besok kamu ke toko emas, jual… Pengasih majikanku.” Suami itu terkejut melihat segenggam perhiasan emas yang nilainya lebih dari cukup untuk menebus biaya persalinan di rumah sakit.

“Kok kamu gak pernah-” tanya suaminya.

“Ini rahasia sesama perempuan” jawab pembantu itu tegas.

Suami itu terdiam dibuatnya. Seketika dia merasa perempuan yang selama ini lemah di hadapannya, memiliki keris sakti yang tersimpan di punggungnya.

“Tapi aku ingin membuat perjanjian denganmu…” lanjut pembantu itu sambil melihat langsung ke mata suaminya.

“Selama ini aku yang bekerja. Aku yang menafkahi kamu dan keluargamu. Aku yang hamil 9 bulan. Aku yang melahirkan. Dan sekarang aku yang membayar biaya rumah sakit…”

Suaminya hanya bisa terdiam dan menunduk.

“Kalau suatu saat kita bercerai, maka anak kita akan ikut aku” kata pembantu itu.


Berbekal dua kisah nyata di atas, segeralah menonton film Athirah. Semoga bisa menambah keindahan dan kedalaman maknanya. “Usually when you see females in movies, they feel like they have these metallic structures around them, they are caged by male energy” – Bjork

6 November 2016


 

Posted in: @linimasa

14 thoughts on “Midodareni Leave a comment

  1. cari istri tuh yang gesit di dapur, genit di kasur.
    masalah dia punya sesuatu yang disimpan dalam hati,
    ya wajar.

    yakin ah, suami jauh lebih banyak yang disimpan diam-diam. ahahaha
    🙂

Leave a Reply