The (Not So) Magnificent Seven

Baru beberapa hari lalu saya nonton The Magnificent Seven. Film bergenre western ini adalah remake dari film dengan berjudul yang sama yang dibut di tahun 1960. Kedua film ini terinsipirasi dari film Seven Samurai besutan Akira Kurosawa yang dibuat tahun 1954. Versi Yul Brynner yang dibuat tahun 1960 sudah menjadi film yang klasik dan ikonik. Kenapa demikian? Karena Marlboro sempat membuat iklan dari film tersebut. Iklan rokok yang kalau tidak salah dibuat ketika TV swasta mulai bermunculan di Indonesia pada awal tahun 1980an. Iklan rokok dengan para koboy yang sedang mengendarai kuda dengan balutan musik dari komposer Ermer Bernstein. Merokok Marlboro merah seakan keren pada saat itu. Bagaikan koboy yang membasmi kejahatan dan melindungi mereka kaum yang tertindas.

magnificent6Film Magnificent Seven tahun 1960 pun mendapat pujian dari Akira Kurosawa, sutradara legendaris dari Jepang yang banyak menginspirasi para sineas Hollywood pada tahun 60-70an. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa George Lucas pun membuat Star Wars di tahun 1978 sangat terpengaruh oleh filmnya Akira Kurosawa yang berjudul The Hidden Fortress. Sebagai rasa hormat terhadap film The Magnificent (1960), beliau memberi sebuah katana kepada John Sturges, sutradara film tersebut. Karena beliau menganggap bahwa film tersebut memang mewakili film Seven Samurai versi Hollywood, khususnya film western. Atau film koboy.

magnificentDi tahun ini. The Magnificent Seven dibuat kembali. Entah apa pertimbangannya. Mungkin membangkitkan kembali agar film western bisa digemari. Setelah Django Unchained (yang tidak original juga) hasil karya Quentin yang tidak original juga lumayan mendapat apresiasi. Lalu dilanjutkan oleh Hateful Eight yang juga mendapatkan sambutan positif. Walaupun saya tetap tidak melihatnya sebagai film koboy. Tapi lebih ke film misteri yang settingnya western. Tapi apa persamaan dari kedua film tersebut? Tokoh kulit hitam menjadi tokoh utama. Di Django Unchained, Jamie Foxx menjadi sorotan. Lalu di Hateful Eight, Samuel L. Jackson yang menjadi tokoh utama. Antoine Fuqua, sutradara yang terkenal dengan film Training Day, Brooklyn’s Finest, The Equalizer, dan terakhir Southpaw berusaha mengangkat kisah jagoan yang berjumlah tujuh orang ini dengan tokoh utama Denzel Washington. Di sini saya mulai bingung. Padahal sudah pegangan. Apakah mungkin seorang koboy berkulit hitam? Jamie Foxx adalah mantan budak di Django Unchained. Samuel L. Jackson latar belakangnya jelas. Sementara di film ini, Denzel yang berperan sebagai dedengkot dari Magnificent Seven latar belakangnya tidak jelas. Saya tahu ini fiksi. Tapi tetap harus masuk akal. Adanya Byung-hun Lee (liat aksinya di film I Saw The Devil) sebagai koboy yang mahir bermain dengan pisau juga menjadi pertanyaan. Apakah mungkin seorang Korea menjadi koboy? Bahkan Denzel pun di salah satu adegan bahwa dia dari Shanghai. Walaupun itu guyonan atau koboy pada saat itu belum belajar geografi tapi terdengar rancu. Peran Ethan Hawke sebagai jago tembak lulusan Perang Sipil yang pensiun dini pun kurang digali lebih dalam oleh Fuqua. Padahal saya melihat dia berpotensi menjadi seperti Doc Holliday di film Tombstone yang juga bergenre koboy dengan tokoh Wyatt Earp yang dibintangi Kurt Russell. Yak. Saya yakin itu alasan Quentin Tarantino mengajak Kurt Russell bermain di Hateful Eight. Walaupun ini bukan pertama kalinya mereka bekerja sama.

magnificent3

Dari segi cerita pun film ini terasa tergesa-gesa untuk menceritakan ketujuh tokoh yang ada. Padahal dengan durasi film yang hampir dua jam setengah, film ini bisa fokus di beberapa tokoh sentral. Beberapa gaya teknik pengambilan kamera dengan extrem close-up yang mengadopsi Sergio Leone di film-film spagheti westernnya pun terlihat memusingkan. Komposisi musik yang dibuat oleh James Horner dan Simon Franglen pun tidak membantu. Yang menonjol di film ini justru Chris Pratt, yang berperan sebagai koboy paling nyantey. Mungkin belum saatnya film western merajai kembali bioskop. Toh True Grit yang banyak dibintangi bintang film ternama Hollywood tidak begitu berhasil. Begitu pula dengan The Assassination of Jesse James yang tidak begitu terdengar gaungnya. Kita harus sedikit sabar menunggu momen The Unforgiven datang. Sambil menunggu momen tersebut itu datang mari kita segarkan kembali ingatan kita ke iklan di mana TV-TV swasta masih memiliki acara yang berkualitas dan tidak ada belahan dada yang diburamkan KPI.

 

 

Posted in: @linimasa

1 thought on “The (Not So) Magnificent Seven Leave a comment

Leave a Reply