Papa

​”Papa tumben nggak ngabarin dulu?”
“Papa rindu cucu-cucu.”
“Udah tidur dong Pa, jam segini. Jam berapa tadi dari Bandung?”
“Papa mau liat cucu Papa.”

Aku antarkan Papa ke kamar Lina dan Via. Papa berjalan pelan. Melihat seisi ruangan dan mengecup kening cucu-cucunya satu-satu. Padahal baru minggu lalu kami ke Bandung merayakan ulang tahun Via.


“Lina nanti jadi orang sukses. Tapi kamu harus banyak maklum. Jangan dijadikan beban. Via, pemberani. Dia yang akan merawat keluarga kita nanti.”
“Apa sih Pa, maen ramal-ramalan. Teh panas Papa aku taro di kamar ya?”
“Papa mau makan. Kamu masak apa?”
“Aku masak sayur asem sama ayam goreng. Yaampun kebetulan banget deh Pa! Aku panasin dulu ya, udah masuk kulkas soalnya. Papa istirahat dulu deh, nanti aku panggil kalo udah siap.”

Entah wangsit apa aku bikin masakan kesukaan Papa hari ini. Lina dan Via harus tau resepnya. Biar mereka bisa masak untuk kakeknya.

“Halo Ma? Missedcall ya? Aku lagi manasin makan buat Papa tadi. Laper kayaknya. Kok tumben sih Mama nggak ikut?”
“Maya. Mobil kami kecelakaan menuju Jakarta tadi. Papa kamu meninggal di RS Padalarang…”

Iklan

8 thoughts on “Papa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s