Mendengar Suara Warga 


Saya warga Jakarta sejak tahun 2004. 

Sejak 12 tahun lalu hingga sekarang, saya tergolong warga yang beruntung karena pernah merasakan naik ojek, kopaja, taxi,  bus kota baik yang ac maupun non-ac, commuter line, motor pribadi, mobil pribadi, mobil pakai sopir, gojek, grab, uber, hingga sekarang menggunakan sepeda untuk bekerja. 

Jadi tulisan ini bukan bicara jakartanisasi linimasa, tapi sekadar bercerita kota tempat saya tinggal terakhir lebih dari satu dekade.

Saya tak perlu bingung memilih siapa calon gubernur saya. Saya lebih berharap mengetahui seberapa jauh calon pemimpin saya memahami warganya. 

Saya tidak perlu memilih mana yang terbaik, akan tetapi pilihlah kami dan dengarkan suara kami. 

Bapak-bapak para Pemimpin, eh ralat, Pemimpi(n) yang ingin jadi pemimpin, dan sudah mau mendaftarkan diri, maka dengarkanlah baik-baik suara warga yang akan Bapak-bapak pimpin.

Warga Jakarta adalah kami. Apa yang ada di benak Bapak-bapak sekalian? 

Siapa sih warga Jakarta itu? 

  • Apakah para pekerja kantoran dengan gelar pendidikan sarjana? 
  • Atau mereka yang berjualan di pinggiran jalan Thamrin saat CFD berlangsung setiap minggunya? 
  • Atau para creme de la creme yang bolak-balik Jakarta, Kediri, Jakarta, Kudus, Singapura, Wina, Jakarta, Melbourne, saat liburan tiba dan menengok toko cukup lewat anak menantu?

Warga Jakarta adalah itu semua. Apa resep jitu Bapak-bapak untuk membawa kami menjadi lebih baik.

Apakah kami ingin MRT? bukan! Kami ingin hilir mudik kemanapun tanpa macet. Jika bagi para ahli MRT adalah resep jitu mengatasi kemacetan, saya akan ikut memeriahkan dan mendukung.

Baiklah, mari kita tengok demografi Jakarta. Berdasarkan angka BPS DKI, per 2015 Jakarta terdiri dari 10,2 juta jiwa. Adapun angkatan kerja sebanyak 5,2 juta jiwa. Jika ditambah usia pensiun, katakan saja 300 ribu jiwa maka 5,5 juta calon pemilih gubernur nanti. 


(selengkapnya bisa baca disini)

Apakah pembangunan yang akan ditawarkan para pemimpi(n) ini? Demi janji-janji semasa kampanye, maka akan banyak sekali program kerja pembangunan sarana dan prasarana fisik. Tujuannya satu: proyek dapat dibagi-bagi. 

Tapi apakah cukup soal ini saja? Selama pembangunan ini berkaitan dengan kelancaran transportasi, memperbanyak sarana publik, dan fasilitas pendidikan, kesehatan dan sosial budaya, saya juga akan mendukung dan merayakannya.

Bagaimana dengan pembangunan sosial?

Sebaiknya jangan lupa, walau berserikat dan berkumpul dijamin undang-undang, apakah pengrebekan atas nama adanya diskusi “sesat” masih dibiarkan? Apakah pihak minoritas, seperti LGBT masih teracam untuk mengekspresikan diri mereka? Apakah diskusi dalam forum akademik berkaitan dengan agama, apapun itu, masih rentan dibubarkan paksa? 

FP*, FB*, dan Fckin’ Fckin’ lainnya apakah tetap dapat bertingkah dengan melanggar koridor hukum? Jika Iya, kami akan urungkan niat untuk mendukung Bapak-bapak.

Dengan anggaran Rp60 trilyun setahun, Pak Anies atau Pak Ahok, apa yang bisa diberikan kalian kepada kami? 

Kita bagi tugas saja. Kami akan belajar lebih tertib dalam berlalu lintas. Kami akan sering saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan. Kami nuga ndak akan pamer dengan banyaknya mobil di rumah dengan keliling jakarta setiap saat. Kami akan lebih sering naik kendaraan umum. Tapi, coba tertibkan armada bus yang asapnya mengerikan itu. Juga tindak tegas kopaja yang mengoper penumpang seenak tititnya. 

Gubernur yang baik, adalah yang menjadi mitra warga. Ndak perlu sok tegas dan arogan. Atau sok bijak dengan segala petuah bagaimana memperlakukan anak di sekolah dan di rumah. 

Kami butuh pemimpin yang hangat. Pemimpin yang mengayomi tapi siap diturunkan jika memang tak becus mengurus kami. 

Silakan Bapak-bapak mendengarkan kami. Banyak mendengar. Banyak mendengar dan banyak mendengar. 

salam anget,

RoySayur

*Om, kok Agus gak disapa?

Lihatnya aja udah eneg, ngapain dibahas. 💅🏻

Posted in: @linimasa

3 thoughts on “Mendengar Suara Warga  Leave a comment

Tinggalkan Balasan