Pesan dari @perempuansore

img_7557

Apakah kamu pernah ingin bunuh diri? Setidaknya sesekali keinginan itu hinggap di kepalamu bukan? Sangkaku setelah itu kamu makin merasa buruk: menyesal, merasa berdosa, tidak berguna, berasa aneh, dan ingin bunuh diri lagi. Haha, bisa kok. Kalau rencana bunuh dirimu yang pertama gagal atau keburu ketahuan orang. Ih menyebalkan ya? Orang mau bunuh diri kok dipakai becandaan.

Kuberitahu kau sesuatu. Menurutku, nyaris setiap orang hidup itu pernah ingin bunuh diri. Mengapa? Berikut ini beberapa alasan yang kuketahui mulai dari yang lebay sampai yang pelik. Tapi ingat ya, jangan pernah bilang pada orang yang ingin bunuh diri kalau alasan mereka lebay. Nanti mereka jadi ingin bunuh diri (hehe damai damai)….

Aku pernah mengenal seseorang yang ingin bunuh diri karena cintanya ditolak. Dan kau tahu, menurutku film-film drama India yang diputar salah satu stasiun televisi itu justru memberi contoh. Bagaimana seorang mantan pecandu narkoba yang sudah dinyatakan sembuh, bisa langsung kambuh karena cintanya ditolak calon mertua. Dia juga bisa langsung sehat kalau gadis pujaannya datang dan menyuapinya obat. What the, banget kan?

Ok, kita lanjutkan. Kasus percobaan bunuh diri berikutnya dipicu karena isteri kabur dengan pria idaman lain dan meninggalkan empat anak yang semuanya masih balita. Kita tak tahu apakah keinginan bunuh dirinya itu akibat pengkhianatan yang tak tertanggungkan perihnya. Atau karena kebingungan bagaimana nanti mengurus empat anak balita itu. Kita tak tahu, apakah seseorang mencintai orang lain karena memang mencintai pasangannya atau karena kita sesungguhnya mencintai diri kita sendiri?

Kasus ketiga yang kutahu yaitu percobaan bunuh diri seorang isteri yang selama ini merasa hidupnya sangat beruntung: bersuami tampan (mantan model majalah ibukota) dan mapan (direktur utama di perusahaan ayahanda). Tiba-tiba tanpa sebab musabab suaminya pergi dan memilih pria lain yang disebutnya sebagai cinta sejati. Perasaan beruntung yang selama ini memenuhi rongga dada mengempis dan berubah menjadi rasa pedih tiada tara. Ternyata semua yang dia rasakan selama ini palsu belaka, fatamorgana.

Tunggu, masih ada beberapa kasus lain yang tak kalah dramatik. Seorang teman lama curhat panjang via whatsapp ingin bunuh diri karena tak kunjung dapat promosi. Sementara rekannya yang baru bekerja, sudah menduduki level manajerial meski hasil kerjanya tak ada yang beres. Ia bilang ingin bunuh diri karena merasa hidup tak adil kepadanya. Bagiku, keinginan bunuh dirinya itu lebih karena ia bingung memutuskan sebaiknya ia akan menjadi bagaimana. Sebab ukuran segala sesuatu selalu materi, yang tampak. Jadi orang baik, idealis, pekerja keras ternyata justru sulit jadi kaya dan naik pangkat. Tapi berubah menjadi jahat, bermalas-malasan, sungguh beban yang sulit dipikul orang-orang yang memang sejatinya baik. Bingung kan?

Nah, dari semua kasus-kasus percobaan bunuh diri itu sebagian besar disebabkan oleh alasan ekonomi. Dijerat utang kartu kredit misalnya. Atau ditipu rekan bisnis yang bermulut manis tapi berhati bengis. Atau ditinggal mati suami yang ternyata meninggalkan warisan berupa utang ratusan milyar plus istri simpanan beranak tiga.

Jangan! Jangan bunuh diri dulu. Itu semua yang kutulis cuma contoh. Supaya kau tahu bahwa di dunia ini yang punya masalah dan ingin bunuh diri bukan cuma kamu. Bahwa di luar sana keinginanmu jadi keinginan orang lain juga. Atau kata filsuf, bunuh diri itu hasrat manusiawi. Menurut data yang kutelusuri di internet, versi WHO setiap detik sekitar 40 orang melakukan bunuh diri di seluruh dunia. Tekanan karir dan pendidikan adalah alasan terbesar di negara industri. Adapun di negara berkembang, kemiskinanlah faktor utama.

So what?

Begini, aku tidak berani menasihatimu. Aku kan bukan ayah ibumu. Juga tak mau mengguruimu dengan dalil-dalil agama bahwa “bunuh diri itu dosa, besar pula”. Tidak. Itu biar jadi wilayah ustazah atau ustad saja. Tapi, kalau yang pernah kurasakan keinginan bunuh diri itu muncul karena dunia yang kita huni terasa tak nyaman lagi untuk hidup apalagi bertumbuh. Lalu bunuh diri menjadi semacam katastropi[1] menuju dunia lain yang (dibayangkan) lebih indah. Dunia di mana setiap orang dianggap penting. Dunia di mana teks-teks GBHN[2] diterapkan dan bukan paraphernalia[3] belaka. Kalian yang generasi net tentu tak tahu lagi apa itu GBHN. Lekas-lekaslah kau cari di internet. Itu peninggalan sejarah paling patriotis dari abad orde baru.

Dunia lain itu sungguh ada pren. Hampir sebagian besar orang yang ingin bunuh diri kini sudah ke sana. Sebagian kecil masih ada yang hanya sebentar di sana. Sebagian lagi sudah berdiam di sana dan hanya sebentar-sebentar saja di dunia kita. Iya, sungguh. Termasuk mereka yang mengakunya tidak pernah punya niat bunuh diri (ingat, pengakuan itu belum tentu benar). Tinggal mereka yang jauh dari peradaban saja yang tidak mampu pergi ke sana walaupun mungkin sebenarnya mereka ingin juga.

Apakah ceritaku mulai meyakinkan? Kalau belum lanjutkan dulu membacanya baru nanti kau putuskan, oke?

Nah, dunia lain itu banyak sekali pintunya. Ada yang semacam reinkarnasi. Kamu hanya perlu duduk manis, mengetuk pintu dan menyebut identitasmu maka voila… kamu yang selama ini putus asa mencoba segala macam diet sekadar supaya bisa memakai baju pestamu dua tahun lalu tiba-tiba menjelma menjadi kamu yang baru, the new one: kasual tapi modis, langsing dan elegan, atau kurus laksana model rahasia piktoria? Ini dunia yang sangat indah sehingga tidak ada pilihan untuk menjadi seseorang yang tidak kau inginkan: gembrot dan pendek, lengan berotot yang membuatmu semacam gadis perkasa yang tidak membutuhkan kasih sayang pria, atau hidung pesek dan rambut bercabang yang kusut walau diapa-apakan. Nggak ada bro, sis.

Jika selama ini prestasimu di dapur sebatas mendidihkan air dan merebus mi instan, kamu bisa berubah jadi chef hebat. Mau pizza, burger, spaghetti, lasagna, atau masakan-masakan Italiano dengan gampang bisa kau buat (ssst… kalau yang ini sih nggak berhasil di aku karena perutku lebih condong selera Jawa).

Di dunia baru ini kamu juga bisa ganti profesi menjadi siapa saja yang kau inginkan. Iya seperti kata motivator yang bilang bukunya dicetak terbatas tapi ternyata bisa kau temui kapan saja di toko buku. Aku tahu kau bosan kan setiap saat dipaksa hati nuranimu untuk bersikap adil, mementingkan orang lain, berbuat jujur sementara kamu sendiri ditindas dan diabaikan? Di sini, kamu bisa memilih peran antagonis. Atau bahkan bermutasi jadi monster yang menghabisi orang-orang di dunia nyata yang menindasmu. Aha, kamu ingin menjadikan bosmu sebagai sasaran pertama kan?

Tapi nih, seenak-enaknya di sana, sepertinya tidak ada atau belum ada manusia yang sungguh-sungguh ingin tinggal di dunia itu selamanya. Mereka memang betah berlama-lama di sana. Ada yang hampir 24 jam bolak-balik ke sana. Tapi tetap saja mereka masih sesekali datang dan kembali lagi ke dunia nyata kita ini. Jadi mungkin seburuk apapun kondisimu, mungkin dunia kita ini tetap lebih baik. Kita hanya perlu pergi sesekali dan kembali lagi. Seperti kata pepatah. Kita menyukai pergi tetapi kita lebih menyukai pulang. Ya. Mungkin begitu. Mungkin.

NB: aku mendapat pesan dari seseorang yang menyebut dirinya @perempuansore. Ada satu tempat tujuan jika kau ingin bunuh diri. Tempat itu sangat tenang, damai, menentramkan. Tempat di mana hasratmu untuk bunuh diri berubah menjadi energi yang membuatmu kembali hidup. Satu tempat yang semua orang memiliki kuncinya: menulislah. Ya, menulislah dan buatlah dirimu menjadi apa saja yang kau inginkan. Ciptakan hanya apa yang menurutmu baik; dunia yang lebih ramah bagimu atau bagi semua orang seperti impian di dasar hatimu. Ya. Menulislah, dan jangan bunuh diri.

 

Buduran, 4 Januari 2016

Titien Soe.

Sementara ini berkarya sebagai dosen di salah satu kampus komunikasi di Surabaya, Stikosa-AWS. Menurutnya, semoga cerpen ini bisa menginspirasi, setidaknya menunda atau jika bisa menggagalkan rencana bunuh diri.

 

[1] Dari KBBI online, katastropi dapat diartikan sebagai penyelesaian (akhir) suatu drama

[2] GBHN: Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah haluan negara tentang penyelenggaraan negara dalam garis-garis besar sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan terpadu. GBHN ditetapkan oleh MPR untuk jangka waktu 5 tahun. Dengan adanya Amandemen UUD 1945 di mana terjadi perubahan peran MPR dan presiden, GBHN tidak berlaku lagi.

[3] Dianalogikan sebagai dekorasi atau pajangan

Iklan

One thought on “Pesan dari @perempuansore

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s