Tax Anarchy

WMAG_ALESSIACARA0113_FINAL_IG

Sebelum membaca tulisan hari ini, coba dengarkan baik-baik suara emas Gandrasta Bangko, menyanyikan lagu Alessia Cara, Wild Things.

Nah, jika sudah ada musiknya, mari baca tulisan di bawah ini.

Tersebutlah sepasang kekasih yang saling mencintai sehidup semati. Prianya ganteng agak biasa. Eh jelek ding. Perempuannya, hmmm.. cantik.

Si Pria doyan banget ngomong kalau lagi pacaran. Di atas sepeda ontel tua, mereka bercakap-cakap.

Relasi antara aku dan kamu adalah relasi sepihak. Aku cinta kamu tanpa bukti, namun kamu harus cinta aku dengan nyata. Caranya, bayari aku dalam setiap aktivitasmu. Aku mau mamam pecel lele. Kamu yang bayar. Aku mau Udon panas. Kamu yang keluarkan kartu debitmu. Aku mau nge-gym. Biaya keanggotaanku kamu yang bayar. Semua adalah semata-mata wujud kamu sayang aku. Rela? Ikhlas? Aku cinta kamu. 

Aku akan melindungimu. Kamu aku beri status: Pacar kesayangan aku. Tapi ini hanya sementara. Aku masih mengejar karir. Nanti kalau aku sudah menjadi pria sukses, kamu akan merasakan hasilnya. Jangan tengok pria lain yang senang membelanjakan pacarnya dengan hape teranyar, sepatu terbaru, dan pulsa berlimpah. Sabar. Kita akan indah pada waktunya. Sekarang waktunya kamu dukung aku dulu. Kalau kamu ada rejeki, sudah selayaknya sebagai tanda cinta kamu biayai aku kuliah. Biayai kredit motor aku. Soalnya kan aku kuliah sembari mengejar karir. Kamu bakal bahagia sama aku.

Kamu masih sayang aku kan? Coba kamu inget-inget, kamu menabung dimana aja? Kamu masih punya simpanan emas antam berapa gram? Atau malah berapa kilo? Sebulan dari kerjaan kamu sebagai penyiar radio, dapat berapa? Tanah kamu di Serang, itu warisan atau hibah, Sayang? Oiya, kamu kemarin kan beli BMW, terus  Louboutin, juga Brompton, jadi kamu ada uang dong ya. 

Puan jelita itu hanya tersenyum. Matanya selalu tertuju pada hamparan luas sawah yang menguning. Duduknya memang menyamping. Jadi seraya dibonceng Pria, Puan Jelita ini mendengarkan perkataan Pria dan memandang alam sekitar. Gunung menjulang. Awan putih berarak. Semilir angin menerpa telinga kanannya, bercampur dengan petuah si Pria.

Jadi, kalau aku cari tau sendiri kamu punya apa aja, kan aku repot dek. Aku kudu banyak baca modul. Aku juga masih harus kerjakan tugas kuliah. Apalagi pekerjaanku yang menumpuk. Aku banyak banget deh yang harus dilakukan. Kamu harus paham dan mengerti bahwa aku sekarang ini sedang on fire. Tapi itu semua percuma tanpa dukungan kamu. Masak aku harus ngutang sama omku, tanteku, atau kaka ipar aku lagi. Malu dek. Ga enak sama tetangga. Aku love you deh. 

Jadi mulai sekarang aku semingguan ini gak bakalan minta ditraktir dulu deh. Aku sibuk menghadapi ujian. Sementara itu, coba kamu luangkan waktu ingat-ingat apa saja yang kamu miliki. Selain untuk bayar zakat, ini juga soal masa depan. iya. KITA. MASA DEPAN KITA. Apa iya aku harus nanya selalu tiap kita jalan bareng kamu bawa dompet nggak. Bawa uang berapa. Jam tangan kamu kok gak dipake. Kemarin habis retouch sulam alis habis berapa? Kenapa gratis. Terus biaya jalan-jalan ke Papandayan kemarin habis berapa. Penghasilan jualan tas brendid berapa? Setiap minggu laku berapa? 

Apa kamu gak bosen dengan pertanyaan aku. Aku sayang kamu.

Gini aja deh. Mas sayang Kamu. Mas akan persilakan kamu cerita apa aja yang kamu miliki. Mas capek kalau kudu nanya kamu lagi. Ini penting dek! Apa yang kamu punya akan menunjang karir Mas. Akan juga membuat Mas tenang saat studi. Aku cinta kamu!

Tahu sendiri ekonomi sekarang lagi ngawur. Panen juga susah jualnya. Harapan kita ya bisnis saja. Tambak. Tembakau. Atau kita bercocok tanam. Tapi itu nanti Dek. Kamu mau kan punya mobil mewah? Kamu mau kan punya rumah gedong. Kamu mau kan anak-anak kita kelak bahagia? Makanya dukung Mas. Iya Mas belum bisa kasih apa-apa ke kamu. Tapi sabar. Selain cinta, kamu juga harus bisa memberikan sedikit bukti nyata. Apa? Ya materi. Kamu dukung Mas kursus sana-sini. Mas harus aktif organisasi. Mas juga harus bayar hutang di kantin. Bayar kos. Juga beli buku. Penting juga lho traktir teman-teman aku. Ini demi posisi mas di mata rekan sejawat. Oiya, tadi duit kembalian Mas beli rokok mana? Aku sayang kamu deh!

Puan jelita itu hanya tersenyum. Matanya kali ini  tertuju pada hamparan tanaman tembakau yang menguning. Sebentar lagi panen, pikirnya. Duduknya masih menyamping. Seraya dibonceng Pria, Puan Jelita ini membayangkan akan menikah dengan Pria. lalu punya anak. Lalu mereka habiskan sepanjang waktu duduk di beranda setiap senja. Gunung masih menjulang. Awan putih masih berarak. Semilir angin terus menerpa telinga kanannya.

Akankah mereka akan melanjutkan ke jenjang pernikahan? Apakah si Pria benar-benar akan sukses dan dapat membahagiakan si Puan Jelita?

Si Pria bernama Negara. Si Puan jelita bernama Warga.

Let me tell you how it will be
There’s one for you, nineteen for me
Cos I’m the taxman, yeah, I’m the taxman

Should five per cent appear too small
Be thankful I don’t take it all
Cos I’m the taxman, yeah I’m the taxman

If you drive a car, I’ll tax the street
If you try to sit, I’ll tax your seat
If you get too cold I’ll tax the heat
If you take a walk, I’ll tax your feet

Taxman!
Cos I’m the taxman, yeah I’m the taxman

Don’t ask me what I want it for (Aahh Mr. Wilson)
If you don’t want to pay some more (Aahh Mr. Heath)
Cos I’m the taxman, yeah, I’m the taxman

Now my advice for those who die
Declare the pennies on your eyes
Cos I’m the taxman, yeah, I’m the taxman

And you’re working for no one but me
Taxman!

  • The Beatles

 

Salam anget,

Roy

Posted in: @linimasa

12 thoughts on “Tax Anarchy Leave a comment

Tinggalkan Balasan