Cinta Non-Instagrammable?

Di sebuah masa jauh ke belakang, untuk seseorang menjadi model ditentukan oleh media. Makanya ada istilah Cover Girl/Cover Boy. Sebutan untuk model yang wajahnya dinilai pantas untuk menjadi sampul sebuah majalah. Ini adalah posisi prestise karena tidak semua orang bisa. Di masa itu banyak sekali ajang pemilihan yang juga kebanyakan diselenggarakan oleh media. Pesertanya berebutan dari seluruh penjuru tanah air. Ada yang berhasil menang dan tentu lebih banyak yang tidak berhasil menang. Apa yang acara ini hasilkan sebenarnya? Legitimasi akan makna cantik dan ganteng. Kita didikte, syarat dan ketentuan cowok ganteng dan cewek cantik. Di luar dari itu, maka (bisa dibilang) tidak atau kurang cantik dan ganteng. Pun sebenarnya berwajah cantik ganteng, tapi kalau bukan model, maka manusia biasa.

Hasil diktean media ini kemudian menjadi panutan. Wajah cantik dan ganteng adalah seperti yang ada di sampul majalah. Berkulit putih, kuning langsat, sampai hitam pun bisa berubah-ubah sesuai dengan yang ditampilkan media. Kalau ingin lebih luasnya lagi, selain media juga ada budaya pop seperti bintang film dan penyanyi yang ikut menentukan. Bedanya, di film dan musik, bakat juga menjadi syarat. Banyak bintang film dan penyanyi tak berwajah menarik tapi tetap bisa menonjol. Khusus tulisan ini, kita hanya membahas media konvensional.

Bagaimana dengan orang-orang berwajah “biasa” yang wajahnya tidak sesuai standard media? Ya selamat bergabung dengan rakyat kebanyakan. Tekanan-tekanan yang terus menerus diberikan, sering membuat orang terutamanya anak muda, merasa rendah diri. Saya tidak cantik maka saya tak pantas mendapatkan yang ganteng, dan sebaliknya. Makanya kemudian muncullah usaha lain untuk menutupi dengan keterampilan, kebaikan hati, kekayaan dan lain sebagainya. “Kecantikan fisik itu sementara, kecantikan hati itu abadi” bermunculan di mana-mana. Atau “kalo laki mah yang penting berduit lah, ganteng tapi kere siapa yang mau?” Maka berlomba-lombalah kaum non-model ini mencari prestasi dan karir. Selain untuk eksistensi diri juga untuk mendapatkan pengakuan dari lawan jenis atau sejenis, sesuai orientasi seks masing-masing.

Kemudian Instagram datang. Doktrinasi media akan makna cantik dan ganteng kemudian memudar perlahan. Yang ditampilkan di sampul majalah, tak lagi menjadi panutan. Karena di Instagram, dengan mudah ditemukan yang lebih cantik dan ganteng daripada pilihan media. Tanpa perlu melakukan pemilihan wajah sampul, Instagram telah melakukan seleksi alam yang dibuktikan oleh jumlah followers. Bermunculanlah CelebGram dan InstaModel yang kemudian menjadi idola. Jumlahnya tentu jauh lebih banyak dari pilhan media. Sangat banyak dan semakin banyak. Para InstaModel ini pun sekarang menjadi “media mini” yang memberikan banyak hal untuk followersnya. Mulai dari inspirasi gaya hidup, fashion, olahraga, diet dan lain sebagainya. Seru kan?

nolikesyet_01Artinya, makna cantik dan ganteng kini tak hanya ditentukan oleh media, tapi oleh sesama kita. Yang dilegitimasi oleh Instagram. Maka berlomba-lombalah orang menampilkan sisi terbaik fisiknya di Instagram. Ada yang berhasil dan lagi-lagi lebih banyak yang tidak. “Duh kalo ngarep jadi Instaceleb badan kotak-kotak gitu, bisa keburu mati gue” celutukan seorang teman kaum Gen-Z. Dia tidak sendirian. Semakin bermunculan remaja bahkan dewasa yang berupaya mempercantik dan memperganteng tampilannya, supaya bisa ditampilkan di Instagramnya. Merak yang mengembangkan bulu-bulu indahnya untuk menarik perhatian yang ditaksir. Atau tebar jala, kali-kali ada yang nyantol.

Nyantol di sini memang beragam. Ada yang cukup senang kalo digandrungi, ada yang bermotivasi bisnis menjadi CelebGram, ada yang mencari cinta semalam, tapi tentu banyak yang mencari cinta sejati. “Ah, cari cinta sejati mah jangan di Instagram lah!” Benar, tapi Instagram kini terlanjur jadi panutannya. Tak hanya wajah, tapi juga gaya hidup. Instagram menjadi kiblat trend yang dimunculkan oleh sesama kita. Salah satu syarat penjualan barang konsumsi bisa laku zaman sekarang adalah kalau barang atau makanannya instagrammable.

Tak hanya baju, sepatu dan tas, tapi juga kebahagiaan dan keberhasilan hidup. Foto diri sedang meloncat bahagia di pantai biru indah, menjadi pernyataan “aku bahagia”. Atau foto boarding pass kelas bisnis, menjadi pernyataan “aku berhasil”. Foto gandengan tangan dengan pasangan di atas sprei pada kamar hotel, menjadi pernyataan “aku laku”. Walau pernyataan-pernyataan itu mengundang pertanyaan-pertanyaan, bukan masalah. Yang penting, bisa meraup tanda “like” yang sialnya disimbolkan dengan bentuk hati. Ini pokok permikiran tulisan kali ini.

Karena like tak berarti hati (cinta). I like you, tak berarti i love you. I like your photo on Instagram tak langsung berarti I like you as a person. Tapi ini hanya bisa dipahami oleh yang sudah dewasa. Apalagi yang sudah kena patah hati berkali-kali. Bagi remaja berbeda. Mereka bisa saling gontok-gontokan karena incerannya meng’like’ foto orang lain tapi tidak foto dirinya. “Kok kamu ngelike fotonya dia terus sih? Naksir ya?” kata seorang remaja perempuan pada pasangannya. Bukti lain betapa pentingnya Like dan Followers di Instagram adalah postingan ucapan terima kasih karena sudah mencapai followers atau like dalam jumlah tertentu. 

Sudah banyak tulisan dan upaya yang mengingatkan remaja untuk tak terlena pada cinta di Instagram. Hasilnya sama seperti usaha membungkam burung pipit untuk bernyanyi. Kau dapat mematahkan paruhnya, tapi tidak nyanyian hatinya.

Lalu, bagaimana dengan sebagian besar dari kita yang fisik dan kehidupannya tidak instagrammable? Masih adakah like (baca: cinta) untuk kita? Belakangan ada banyak tulisan berdasarkan survery ditemukan bahwa remaja masa kini tak mencari cinta. Atau lebih tepatnya, cinta tak lagi menjadi dambaan hidupnya. Remaja masa kini lebih mementingkan karir, duit dan hidupnya. Kalau mau ditarik lebih jauh karena karir dan duit bisa mendatangkan barang-barang yang diinginkan, liburan sesuai impian, kendaraan pribadi dan lain-lain yang lebih Instagrammable ketimbang cinta. Lebih jauh lagi, remaja tak lagi menggilai seks. Cenderung tak suka seks. Bahkan banyak yang merasa seks bukan kebutuhan hidup dan buang-buang waktu. Atau seks bisa digantikan dengan kegiatan lain yang lebih Instagrammable. Berolahraga, misalnya. Posting diri sedang berlari atau beryoga di pegunungan akan mengundang banyak Like. Sementara cinta? Foto bersama pasangan lebih sering mengundang gunjingan. Atau lebih jauh, mematikan pasaran 🙂

4 Types Of Love Millennials Settle For Instead Of The Real Thing

‘There isn’t really anything magical about it’: Why more millennials are avoiding sex

Millennials Are Having Less Sex Than Other Gens, But Experts Say It’s (Probably) Fine

Kemudian sebagian besar lagi ada yang mempertanyakan soal ketulusan di media sosial. “Jangan cari cinta lah di Instagram mah, gak real!” Pernyataan ini melahirkan pertanyaan lagi, apakah kehidupan di luar Instagram lebih real? Cinta di kehidupan nyata lebih tulus? Bukankah kita sering bertemu dengan yang di depan mata adalah teman di belakang ternyata lawan? Di depan bilang “cinta”, di belakang selingkuh? Manis di depan, menusuk dari belakang? Dan akhirnya sampailah kita pada kegamangan baru, di mana yang real dan di mana yang superficial? Kegamangan yang membuat manusia dari berbagai generasi hidup dalam keresahan. Kalau benar dunia sedang hidup dalam dunia yang superficial, maka bisa dipastikan semua yang dihasilkan adalah artificial. Termasuk cinta.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Cinta Non-Instagrammable?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s