Panutan Kita

Beberapa minggu lalu, ada satu artikel di harian The New York Times yang membuat saya trenyuh saat membacanya. Artikelnya sangat pendek. Isinya tulisan singkat dari Anderson Cooper, pembawa acara berita di CNN kenamaan, mengenai almarhum ayahnya, penulis ternama Wyatt Cooper. Wyatt Cooper meninggal dunia di tahun 1978 di umur 50 tahun, saat Anderson baru berusia 10 tahun.
Satu bagian yang membuat saya tersentak adalah:

“If I could see my father just once more … I would give anything for that. I’d ask him what he thinks of me? Is he proud of me? Does he approve of man that I’ve become?”

Membaca lagi sekarang, saat menulis tulisan ini, rasa penasaran Anderson seperti menyerang lagi perasaan kita.

Sebagai anak lelaki, tentu saja lelaki pertama yang kita jumpai saat kita tumbuh dan berkembang sehari-hari adalah ayah kita. Demikian pula dengan anak perempuan, yang mematut contoh dari ibu sebagai perempuan lain pertama yang paling dekat. Kita melihat gerak-gerik dan perkataan mereka, merekamnya dalam memori kita, menyerap ke dalam diri, sebelum kita berkenalan dengan dunia luar, lalu menyerap temuan dari dunia luar, membentuk diri kita seperti sekarang.

Namun di sisi lain, terlebih dengan kebiasaan kita sebagai anak di budaya yang mendoktrin kita untuk patuh dan tunduk kepada orang tua, apakah mungkin bisa sekedar mengusik pertanyaan, bahwa seorang ayah telah memberikan approval terhadap jati diri anak laki-lakinya?

Saya teringat kembali film lama yang pernah saya tonton bertahun-tahun lalu. Judulnya I Never Sang For My Father. Tentu saja film ini begitu berkesan sehingga kenangannya membekas dengan kuat, karena film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang berusaha lepas dari bayang-bayang ayahnya. Namun saat ibunya meninggal, sang anak berusaha merawat ayahnya, yang kemudian menjadi bumerang bagi satu sama lain: sang ayah tidak pernah menyetujui tindakan anaknya, sang anak pun hidup dalam rasa frustrasi, karena dia takut akan menjadi seperti ayahnya. Perdebatan dan argumen mereka menjadi bagian menarik yang membuat saya betah menonton film ini, sambil menyeka air mata.

I Never Sang For My Father
I Never Sang For My Father

Sekaan air mata saya mungkin karena menyadari, bahwa di medium film yang bukan dunia nyata, akan mudah mengeluarkan segala unek-unek di hati dalam bentuk dialog. Toh memang itu tujuannya film atau karya seni dibuat.

Sedangkan dalam dunia nyata, ada pembatas tak terlihat yang membatasi komunikasi antara anak dan orang tua, terlebih ayah dan anak laki-lakinya. Men are not supposed to talk their hearts out, begitu mungkin yang sering kita dengar, dan diam-diam yakini.

Saya bukan orang tua. Tapi selamanya saya akan menjadi anak dari ayah dan ibu saya. Dan mungkin seperti Anda juga, kita akan terus mencari tahu dalam diam, apakah orang tua kita telah memberikan restu mereka atas pilihan hidup kita.

Ada hal-hal yang tak bisa kita tahu dengan pasti.
Kekecewaan orang tua kita terhadap kita, demikian pula sebaliknya, acap kali tertutup dengan doa dan pengharapan.
“Yang penting kamu sehat. Yang penting kamu bahagia.”

Dan mungkin, dalam doa itu ada keinginan kuat untuk menerima, tanpa pernah mempertanyakan.

As a kid, and forever as one, we will never stop looking for our parents’ approval and guidance in life. Be it in sentences, or in prayer.

And that’s how we keep on living.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s