ASUmsi

Jangan karena kamu (merasa) telah bersikap baik padanya, maka ia pun mau bersikap baik padamu.

Sebaliknya, meskipun kamu sudah bersikap luar biasa buruk padanya, belum tentu ia juga akan bersikap yang serupa padamu.

Jangan karena dia kaya dan berada, dia pasti sombong dan tidak sudi berurusan denganmu.

Sebaliknya, tetap akan ada yang congkak, memandang sebelah mata, dan bersikap angkuh terhadapmu, meskipun sama-sama kere dan tak punya apa-apa.

Jangan karena kamu (merasa) cakep, cantik, tampan, maka semua orang bisa memaklumi dan menerima sikapmu.

Sebaliknya, ada banyak orang yang justru mendapatkan pengakuan, pujian, dan penerimaan karena sikap dan tindak tanduknya, meskipun tampangnya biasa-biasa saja.

Ketika dia melakukan kesalahan, dan berulang, belum tentu dia tidak berusaha dengan keras.

Sebaliknya, bisa saja dia sudah berupaya sekuat tenaga, namun tetap tidak bisa mencapai hasil yang sempurna. Selalu ada masanya, ketika kegagalan tetaplah disebut kegagalan, sekecil apa pun masalahnya. Sementara keberhasilan dianggap sebuah kewajaran, karena dianggap memang sudah begitulah yang seharusnya.

Jangan karena seseorang marah kepadamu, itu berarti dia pasti membencimu. Akan sangat terasa kok bedanya antara amarah sebagai luapan perasaan, dan amarah karena kekesalan, maupun amarah sebagai cara berekspresi.

Sebaliknya, seringkali ada jauh lebih banyak orang yang terlihat tidak pernah marah kepadamu, bahkan terkesan menghormatimu, namun jauh di dalam hati menyimpan ketidaksukaan yang besar.

Meskipun seseorang adalah atasan, belum tentu dia mampu melakukannya lebih baik daripada kamu.

Sebaliknya, terdapat sejumlah keahlian yang hanya ada padamu, dan itu yang membuatmu sedang berada di sana.

Jangan dikira karena dia adalah pacar atau pasanganmu, dia pasti memahamimu dan bersedia menempatkanmu pada posisi yang terbaik dalam dirinya.

Sebaliknya, ada banyak orang-orang penyayang yang terkesan dingin dan kaku dalam pembawaan kesehariannya. Ya semacam itulah.

Meminta maaf memang memerlukan keberanian, keteguhan hati, dan kesabaran, namun bukan berarti maaf tersebut bakal diterima begitu saja. Apalagi untuk kesalahan yang tidak biasa.

Sebaliknya, tidak ada salahnya untuk tetap bersikap hati-hati setelah sebuah peristiwa seperti ini. Sebab kertas yang sudah rompal menjadi abu setelah dibakar, tak akan bisa diubah menjadi kertas putih polos kembali.

Jangan karena dia (merasa) tahu segalanya, maka dia pasti bisa menangani dan menyelesaikan semuanya.

Sebaliknya, pengetahuan belum tentu jadi kemampuan. Namun seiring meningkatnya kemampuan, pasti dibarengi pengetahuan.

Jangan karena gara-gara ini, pasti jadi begitu. Begitu juga sebaliknya.

Silakan saja berasumsi, itu manusiawi, tapi jangan cepat-cepat dipercayai. Sebagai ilusi pikiran, asumsi ibarat tahi burung yang jatuh di kaca depan mobil, dan sudah semestinya cepat-cepat dibersihkan, ditepikan, dan dibilas air supaya pandangan ke depan menjadi kembali jelas benderang.

Berasumsi dan memeliharanya dalam pikiran itu melelahkan, efek peristiwa yang terjadi setelahnya juga tak kalah merepotkan. Seringkali bahkan dengan sisa yang menyakitkan.

Assumptions kill. From inside. Secretively.

(Menjalani) hidup itu memang tidak gampang. Tak hanya memerlukan kepandaian, kecerdasan, kekayaan dan segala bentuk keleluasaan, tapi juga kesadaran. Kesadaran untuk melihat segala sesuatu dengan apa adanya, kesadaran untuk memiliki bersikap yang sebagaimana mestinya, kesadaran untuk sungguh-sungguh memberdayakan akal budi, kesadaran untuk benar-benar hidup sebagai manusia yang manusiawi dalam kemanusiaannya.

[]

P.S.: Kalau ada yang bertanya “kok gambarnya enggak nyambung?” Soalnya besok hari libur. Udah, iyain aja biar cepet.

Iklan

4 thoughts on “ASUmsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s