Pohon Raksasa

Minggu kemarin terlalu banyak kejadian yang membuat saya bingung mau menulis apa kali ini. Mulai dari keikutsertaan saya di Ciremai Trail Run 2016, wisata kuliner di Cirebon, pekerjaan digital yang berhubungan dengan fintech, kematian dua orang yang saya kenal, kehebohan pemasangan bendera di lingkungan sekitar saya, klien yang mendadak meminta lebih dari perjanjian awal, panggilan mengurus kemerdekaan RI ke-71, dan kejadian-kejadian kecil yang sebenarnya bisa membuat saya menulis untuk linimasa.com.

Dari sekian banyak kejadian yang saya alami, semuanya semakin menguatkan keyakinan saya bahwa Tuhan (atau Yang Maha Besar) tidak menyukai rutinitas yang terlalu lama. Dia tidak suka dengan kestabilan. Dan segala tanda-tanda yang terjadi di depan saya mengarah pada satu hal, Tuhan tidak terlalu suka jika kita berencana. Dari sekian banyaknya rencana saya sendiri atau orang lain yang saya tau, sepertinya tak sampai 30% yang benar terjadi persis sesuai rencana. Sisanya, ada penyesuaian atau batal sama sekali.

Setiap kejadian yang di luar rencana, sering membuat kita berpikir mengapa Tuhan melakukan itu? Mengapa Dia tidak mengizinkan? Apa yang salah? Lalu ada banyak kata-kata mutiara yang semuanya memberikan kesimpulan “semua akan indah pada waktunya”. Belum saatnya. Belum waktunya. Atau sering juga dibilang “bukan rejeki/jodoh/takdirnya”. Patah satu tumbuh seribu. Mati satu, seribu datang. Dan lain-lain yang memberikan semangat untuk terus maju dan berharap. Kemungkinan besar sebenarnya karena tidak ada pilihan lain.

Benarkah Tuhan peduli dengan rencana kita? Manusia ciptaanNya ini? Bukankah kita sudah dianugerahi akal budi dan pikiran, untuk kemudian mengambil keputusan dan bertindak merdeka? Dan apa pun hasilnya adalah akibat dari tindakan yang kita lakukan? Kehidupan kita sebenarnya selalu diisi dengan pertandingan. Mulai dari pertandingan mengejar bis kota, berebut sampai di kantor, meraih pacar, pekerjaan, perhatian bos, merebut hati mertua, pitching bisnis sampai pertandingan olahraga kelas dunia. Dan selalu akan diakhiri dengan pihak yang kalah dan menang. Dalam pertandingan sehari-hari itu, sering kita berdoa agar kita menjadi pemenang. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa pihak lawan pun akan berdoa untuk menjadi pemenang. Pertanyaannya, kepada siapa kah Tuhan berpihak? Pada pihak yang rajin bekerja, tekun, ulet dan berhati mulia?

Dari kecil kita diajarkan bahwa rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Setelah kita dewasa, akuilah ajaran itu tak selamanya benar. Banyak contoh di mana pemalas berhasil dalam hidupnya dan yang rajin, gagal. Banyak orang hemat di dunia ini, tak kaya-kaya. Sementara yang doyan belanja, uang mengalir masuk tanpa henti. Tapi di saat yang bersamaan kita dibenturkan dengan pemahaman, manusia berusaha Tuhan menentukan. Hubungan sebab akibat seketika diruntuhkan. Seolah ada kekuatan Maha Besar yang menjadi Hakim Agung yang akan mengetuk palu.

Tuhan dalam tulisan ini pun, sebaiknya bukan dianggap sebagai Allah sebagaimana tertulis dalam masing-masing Kitab Suci. Atau Tuhan yang Maha Esa seperti yang tertulis di Pancasila. Tapi Tuhan di sini adalah yang menguasai kehidupan manusia dan bumi serta isinya. Menguasai dalam artian tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan agama dan keyakinan yang dianutnya. Saya sering mendengar kata “Semesta” dalam pengertian Tuhan. Dan kemudian ada istilah Semestakung, Semesta Mendukung. Yang saya terjemahkan sebagai energi yang bersatu untuk bergerak meraih dan atau menuju ke hasil dan tujuan akhir seperti yang kita inginkan.

Perbedaannya, Semesta memiliki makna ke dalam. Diri kita adalah Semesta. Beda dengan Tuhan yang sering diposisikan sebagai tokoh kedua. Dia. Pun Semesta sejauh mata saya melihat, tak selamanya bekerja. Semesta bukan mesin ATM yang akan mengeluarkan sesuai jumlah yang kita masukkan. Jutaan manusia berkumpul, menggabungkan energi untuk meraih keinginannya sudah sering kita lihat sebagai usaha yang sia-sia. Bukankan Tim Olahraga kita sering juga kalah padahal sudah satu negara mengumpulkan energi untuk Atlet kita menang?

Dengan pemahaman ini, karena keberhasilan tak memiliki mesin cetak, saya sering gamang. Lalu apa yang harus saya lakukan? Dalam kegamangan itu, dalam perjalanan sepanjang 25 Km lebih di Gunung Ciremai, di depan saya terpampang sebuah pohon raksasa. Benar-benar raksasa. Saya belum pernah melihat pohon sebesar itu sebelumnya. Ketika saya mendongakkan kepala ke atas, saya tak bisa melihat ujungnya. Refleks kedua telapak saya menyatu, dan saya angkat ke jidat. Setelah lewat, saya seketika terkejut sendiri akan apa yang saya baru lakukan. Apakah barusan saya berdoa? Menyembah? Kepada pohon raksasa? Apakah saya mendadak menganut animisme?

Kalau benar Tuhan atau Semesta itu Maha Besar, maka manusia tak akan sanggup untuk melihatnya. Karena pasti jauh lebih besar dari pohon raksasa di Ciremai. Bukan hanya tak sanggup untuk melihatnya, tapi tak ada kata di dunia ini yang akan mampu untuk mendeskripsikannya. Terlalu besar untuk diucapkan. Terlalu raksasa untuk didoakan. Manusia terlalu kecil bahkan tak terlihat di matanya. Jangan-jangan, bukan Tuhan tak suka dengan rencana dan kestabilan. Tapi Tuhan tidak ada hubungannya dengan rencana kita. Seperti kita, manusia, tak peduli dengan apa yang Semut lakukan di tembok rumah kita. Apalagi yang dipikirkannya. Padahal mungkin buat Semut, manusia adalah yang Maha Besar seperti Tuhan dan Gajah adalah Semesta.

Seorang teman yang sudah saya anggap seperti Ayah sendiri, pernah mengalami pengalaman hampir meninggal. Near death experience. Suatu ketika dia bercerita pengalamannya itu dengan sangat detail. Bagaimana dia bisa melihat tubuhnya sendiri sedang dipeluk oleh istrinya yang sedang menangis. Sampai rohnya kembali ke raganya. Ada satu hal yang kemudian menjadi kesimpulan yang disampaikan ke saya “tak perlu takut apa pun di hidup ini, lakukan saja yang ingin kamu lakukan. Tak perlu banyak berencana, karena semua sudah terencana.” Kemudian saya bertanya “apakah benar Tuhan itu ada?”

e5de987de8e4e5e21dd3a6d9dd0bcedd

Iklan

3 thoughts on “Pohon Raksasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s