XoXo. eat. sleep. rave. repeat

 

XOXO is a coming-of-age ensemble film about a group of 20-somethings on a crazy adventure to the biggest EDM festival in America, XOXO. The film follows six strangers whose lives collide in one frenetic, dream-chasing, hopelessly romantic night. At the center is Ethan, a young DJ who gets a last minute slot to perform after his tracks go viral online days before the festival. This is a huge opportunity… if he can just make it there in one piece.

Ketika saya membaca sekelumit tulisan ini, susah payah saya ingin menyambungnya dengan fenomena artis media sosial yang “masih hawt”, Awkarin. Tetapi saya akan lebih susah payah lagi menjelaskan soal ini kepada kekasih saya yang mulai agak cemburu jika ketika kami berkumpul, bercengkrama, dan makan bersama lalu ada pembahasan soal awkarin ini. Wajah kekasih saya akan menampilkan kening berkerut, hidung kembang kempis, dan tatapan wajah yang lebih kejam dan kecewa daripada apa yang ditampilkan Cinta kepada Rangga saat mengutarakan kalimat dengan akhiran: “Ja..hat..”.

Filem ini semestinya menarik. Karena telah terbukti secara empirik, soal EDM adalah soal yang hawt bagi sebagian dari kita. Tulisan Kang Agun soal EDM itu musik sampah, adalah tulisan yang paling banyak dibaca sepanjang linimasa ada dan paling banyak dikomentari. Saya sendiri sebetulnya bingung, apakah memang musik jedag-jedug ini memang memiliki tempat di telinga banyak kawula muda negeri agraris.

Indonesia itu bukan hanya Jakarta. Rupanya hal ini berlaku juga dengan selera musik. Lagu enak itu bukan saja yang dilantunkan Afgan, Raisa, HIVI!, atau anak-anak pop lainnya. Sebagian lainnya menikmati dengan khidmat lagu-lagu elektronis yang tanpa sadar memang enak untuk diajak goyang. Selera itu entah munculnya darimana. Begitu personal. Tak ada yang dengan paten melakukan penelitian mengapa seseorang ada yang lebih menyukai musik hiphop, dangdut, jazz, keroncong, atau musik cadas dibandingkan yang lain. Ini semata-mllata keintiman telinga dan hati.

JIka harus membahas filem, saya menyerah. Ada yang lebih jago soal ini. Mas Nauval atau Mas Agun. Saya bagian yang mudahnya saja. Menulis mengenai makna apa yang dapat diceritakan dari filem ini. Makna suka-suka. Apa yang didapat setelah melihat dan menyaksikan sesuatu bagi seorang saya. Ini juga personal.

Soal jiwa anak muda kekinian yang menurut hemat saya jauh lebih berani, lebih gagah perwira untuk menunjukkan mau apa mereka nantinya. Bukan hal yang asing lagi jika kita mendengar keluhan orang tua jaman sekarang ketika anaknya lebih memilih jurusan tertentu yang dianggapnya ndak semenarik disiplin ilmu yang bergengsi di jamannya. Orang tua yang menyandarkan ingatan pada kenangan. Ketika anaknya memilih jurusan teater, atau manajemen pertunjukan, atau bahkan lebih memilih tak melanjutkan sekolah dan memilih untuk langsung berkarya saja.

Karena untuk menjadi dirinya sendiri membutuhkan keberanian. Individu yang terbentuk dari pengalaman yang hanya dapat dirasakan, dialami dan disesali oleh dirinya sendiri. Anak muda kekinian memang berani mencoba. Jikapun itu dianggap adalah kesalahan dari kacamata norma, maka biarkan kesalahan itu membentuk karakter yang memang benar-benar dirinya dan akan belajar dari kesalahan itu. Atau malah sudah seharusnya norma yang mulai bergeser. Norma yang menyesuaikan dengan roda jaman. Nilai-nilai pergaulan, cara menyikapi perbedaan, dan bagaimana berusaha berkompromi dengan segala hal.

Setiap individu memiliki keinginan dan cita-cita masing-masing. Nilai yang memang layak diperjuangkan mati-matian. Sederhananya saja jika saya bercermin pada diri sendiri. Untuk apa menulis rutin di linimasa jika bukan karena keinginan sendiri, keasyikan tersendiri. Sebuah renjana yang niscaya memang perlu dibela dan diperjuangkan. Ukurannya pun bermacam-macam. Apakah demi popularitas, materi, atau malah untuk nafkah batin. Bahwa ada sebagian kecil dalam diri kita yang perlu terus dipelihara. Sesuatu yang entah letaknya ada di bagian mana, tapi harus terus diberi aliran semangat karena itulah sebetulnya tungku api agar hidup terus hangat dan bergelora. Hawt!

Ini soal harapan. Mengisi apa yang yang dianggapnya penting dalam hidup. Soal yang pada akhirnya pada satu kesimpulan. Masing-masing memiliki tujuan hidupnya sendiri.

Sebagian ada yang menyukai menulis, sebagian ada yang lebih menginginkan menjadi populer, sebagian lainnya ingin menjadi olahragawan. Sesuatu yang intim. Sesuatu yang dihasilkan dari obrolan panjang dengan diri-sendiri. Pergulatan batin. Hasil kesimpulan dari sekian lama menjalani hidup keseharian. Apa yang ingin dicapai, apa yang saat ini dilakukan, apa yang sudah terjadi dan apa saja risiko yang akan dihadapi.

SONY DSC

Karena anak muda jaman sekarang, adalah anak muda yang susah ditebak maunya apa. Karena mereka sendiri pun sulit untuk menjalani hidup. Tantangan pergaulan teman sebaya, pengakuan orang tua, dan terutama: memuaskan jati dirinya.

Pernah suatu ketika, kami bertiga, Glenn, Naga dan saya berbincang-bincang hingga larut malam. Bahwa anak muda wajib hukumnya untuk selalu mencoba. Bahkan berani untuk berbuat kesalahan. Jika perlu lakukanlah kesalahan dengan sengaja, agar nantinya kita dapat menyelami sendiri bahwa perjalanan hidup itu memang sesuatu yang layak dihaormati. Pada gilirannya kita akan saling memahami apa yang orang lain pikirkan, apa yang orang lain lakukan dan apa yang orang lain perjuangkan. Semakin divergen semakin kaya hidup kita.

Tak perlu waktu lama untuk menjadi pembicaraan orang. Dunia digital dan maya mendukung keinginan semacam ini. Menjadi viral. Langsung melesat untuk diperbincangkan. Tapi apakah yakin semua individu ingin menjadi seperti sosok semacam itu? Saya akan bilang bahwa sebagian dari kita ada yang lebih menyukai jalan sunyi. Diam-diam di pojok ruangan. Menulis puisi. Atau membuat prakarya. Bahkan bukan untuk ditampilkan pada khalayak. Hanya untuk memenuhi panggilan hasrat jiwa. Bahwa kami senang melakukannya.

Soal apakah atas pilihannya akan dapat membiayai sekolah anaknya kelak. Apakah nantinya apa yang dilakukannya dapat memberikan materi cukup, biarkan itu menjadi alah satu tema pokok pergulatan batinnya. Perbincangan paling intens antara “aku” dan “aku” adalah dialog tiada akhir dari setiap insan. Sama halnya dalam memilih kepercayaan, selera seksuil, dan mau apa jadinya nanti. Kita sepanjang waktu bagaikan berdiri di depan rak toserba. Sibuk memilih sampo mana yang paling cocok, sabun mana yang bikin kerasan saat menggosok sekujur badan, dan mi instan rasa apa yang sepertinya enak disantap kelak saat rinai hujan membasahi bumi.

Too-Many-Choices

Sebetulnya soal ini bukan soal anak muda saja. Soal pergulatan keinginan dan kenyataan hidup yang dihadapi adalah persoalan segala usia.

Namanya juga hidup.

Begitulah.

[]

Salam sayur dan XoXo,

RoyAnget

 

 

  • Jika ingin tahu lebih lanjut soal filem XoXo:
  1. verge 
  2. RollingStone
  3. IMDb
  4. mixmag
Iklan

4 thoughts on “XoXo. eat. sleep. rave. repeat

  1. saat tersadar melakukan kesalahan, saya baru bisa (semakin) memahami apa yg pernah orang lain rasakan/alami.
    namanya juga pelajaran hidup, ga selesai2…kl selesai berarti game over yak 😐

    suka yg ini : “…harus terus diberi aliran semangat karena itulah sebetulnya tungku api agar hidup terus hangat dan bergelora”

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s