Kontro-PokemonGoAwkarin-versi 2.0

I don’t know why, but people seem to love controversy. Suka sekali, sampai jika sebenarnya kalau ditanyakan pada diri lebih dalam lagi, “Apakah saya memang tidak setuju dengan hal ini?” mungkin jawabannya, tidak juga. Lebih dalam lagi kalau pertanyaan menjadi, “Apakah saya peduli?” sebenarnya mungkin tidak juga. Hanya kebetulan (mungkin) waktu luang terlalu banyak, dan tidak ada hal dalam hidupnya yang lain yang perlu pemikiran dalam dan rumit, sehingga memerlukan banyak hal remeh temeh untuk diributkan, didebat, atau hanya untuk meneruskan berita-berita, maupun pesan-pesan yang berhubungan dengan isu itu ke media sosial maupun grup percakapan online, lalu lepas tangan dengan mengatakan kalau itu tidak mencerminkan pendapatnya. Bahwa “saya hanya meneruskan” dan kalau ada yang tidak setuju “don’t shoot the messenger.”

Sebagian yang paling keras bersuara biasanya justru yang tahu dari permukaan isunya.

Seperti minggu lalu, ayah saya tiba-tiba mengatakan kalau anak saya jangan ikutan main Pokemon Go. Ketika ditanya kenapa, ayah saya hanya bergumam kalau “katanya berbahaya” dan lebih jauh lagi mengajarkan hal yang negatif. Saya hanya tertawa, sambil bertanya, apakah beliau sudah mencoba dan melihat permainannya seperti apa?

“Belum,” kata ayah saya. Tentunya.

Jadi ingat iklan program TV zaman dulu, “Bursa Komedi, lucu sekali deh!”
“Sudah lihat apa belum?”
“Belum”

Kemudian saya lihat image ini di salah satu post di Path rekan saya.

IMG_0452
Jadi kalau mengejar Pokemon ga sempat buat yang lain ya? Hmm.

Seperti segala sesuatunya yang sedang dalam tahap fad, permainan itu datang, dan tentu akan ditinggalkan juga oleh sebagian orang yang sekarang bermain. Malah mungkin sebelum orang banyak reda berisik soal kontroversinya.

Kemudian ada pula satu situs atau blog yang menyasar ke anak muda, membicarakan siapa lagi kalau bukan awkarin. Di antara komentar yang mendukung dan berterima kasih karena sudah menulis hal ini, ada pula yang menyatakan simpatinya kepada Karin Novilda, dan mengatakan kalau dia adalah korban kebencian dan bully massal. Kebetulan salah satu yang berkomentar paling keras ini saya kenal orangnya, dan saya 99 persen yakin kalau ketika memberikan komentar itu, yang bersangkutan hanya skimming Instagram, dan kemungkinan besar belum melihat satu pun videonya. Termasuk video yang menunjukkan kedua pasangan berasyikmasyuk lalu Karin berkata dan menunjukkan kalau pacarnya (yang ketika itu berusia 15 tahun) ngaceng bereaksi secara fisik atas stimulasi yang diberikan. Dan ini terjadi di video yang dipasang tanpa restriksi usia. Dan kebetulan anak saya ketika saya tanya mengaku sempat melihat salah satu video Karin, walau dia tidak ingat yang mana. Kalau ternyata yang membela Karin ini ternyata ayahnya anak saya, ya itu mungkin kebetulan saja.

Iklan

3 thoughts on “Kontro-PokemonGoAwkarin-versi 2.0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s