Mari Makan

KETIKA lapar, benar-benar lapar, seharusnya ya makan.

Setelah makan lapar hilang, perut kenyang, tubuh pun kembali mendapat tambahan sumber tenaga. Terkadang pakai bonus berupa nikmat berserdawa. Semuanya menjadi sebuah kondisi yang patut disyukuri, walau sebiasa apa pun sensasinya lantaran sudah terjadi dan dialami sejak masih bayi.

Hal sesederhana ini yang sebenarnya terjadi pada semua orang secara alamiah, yang kemudian entah karena tuntutan zaman dan peradaban, bosan, atau sekadar demi reputasi dan pergaulan, banyak kesan yang dipaksa berubah.

Kenyang itu di perut, bukan cuma di mulut, apalagi di mata.

Boleh dibilang lidah hanyalah salah satu bagian kecil dari sistem pencernaan. Namun dibanding jeroan lain dalam tubuh manusia, justru lidah seolah yang jadi komandannya.

Bersekutu dengan hidung, lidah seakan memutuskan apa yang boleh masuk dan turun lewat kerongkongan, dan yang harus dimuntahkan. Saat proses ini terjadi, lidah memberi instruksi kepada organ-organ lain dalam tubuh untuk terus bekerja.

Melalui lidah dan hidung pula, kita mulai bisa membeda-bedakan makanan: yang enak, dan yang tidak enak. Preferensi itu terus melekat hingga akhir hayat, bahkan sampai lidah mulai kehilangan sensitivitasnya.

Apakah tidak boleh menggemari makanan enak? Tidak ada yang melarang kok. Hanya saja, penting untuk melihat makanan sebagaimana mestinya. Tak melekat, dan tak mudah dibuat gundah hanya gara-gara makanan. Adanya gado-gado, ya makan gado-gado. Adanya fried chicken, ya makan fried chicken. Adanya sayur bening dan ikan asin, ya dimakan. Kalau pengin dan bisa beli, ya beli yang lain. Apabila tidak, ya enggak pakai ngedumel atau dipaksakan.

Jangan lupa, makanan yang cantik dan indah belum tentu enak. Kalaupun enak, setelah dikunyah dan masuk dalam usus pun akan berubah jadi bubur campuran beraneka ragam bahan. Makanan, minuman, cemilan, semua jadi satu. Toh semua itu tetap dicerna; diserap nutrisinya dan dibuang sampahnya.

Kenyang, bukan kekenyangan.

Cukup makan dan cukup kenyang. Itu intinya.

Rasa lapar merupakan sinyal bahwa tubuh memerlukan pasokan sumber daya untuk bisa bekerja seperti biasa. Isi perut yang lapar, bukan mata. Sehingga akan sangat baik jika makan secukupnya demi rasa penuh yang pas.

Alamilah keseimbangan. Terlalu lapar tidak mengenakkan, terlalu kenyang pun tidak nyaman. Begah dan susah bergerak, bahkan sampai terasa ingin muntah.

Makan untuk hidup, bukan untuk gaya.

Mungkin kamu sudah pernah baca artikel yang menyatakan bahwa anak muda zaman sekarang (baca: the millennials) banyak yang keren, atau terlihat keren dalam keseharian, tapi sebenarnya bokek. Salah satu indikatornya adalah makanan yang disantap. Menjadi semacam lingkaran setan, antara bokek, dan upaya untuk mempertahankan ilusi image keren tersebut.

Punya uang pas-pasan, tapi pengin makan di kafe beken dengan banderol gila-gilaan. Itu pun hanya untuk sepotong kue, atau croissant, dan secangkir latte. Jelas enggak bikin kenyang. Padahal harganya sama dengan tiga porsi pecel lele garing bersih dan es teh manis.

Demi bisa makan di tempat tersebut, oknum ybs rela untuk “berpuasa”, menahan lapar dengan sedemikian rupa. Kenyangnya enggak seberapa, maag rusak.

Serupa tapi tak sama, yakni waktu istirahat makan siang. Berani berkata tidak, atau bahkan jujur dengan mengaku sedang bokek ketika diajak pergi ke restoran menengah oleh rekan sekantor. Kalau sudah begitu, paling-paling dikatain sombong, dan apabila mereka benar-benar temanmu, pasti bisa mengerti.

Ini enggak ada sangkut pautnya dengan reputasi. Sebab, reputasi itu melekat dengan kepribadian dan tindakan, bukan urusan makan apa dan di mana. Beda cerita kalau namanya business lunch. Cukup dengan berpikir realistis: cukup makan dan cukup kenyang, bisa kerja, dan isi dompet relatif aman. Jangan sampai penyakit tanggal tua datang lebih awal.

[]

4 thoughts on “Mari Makan Leave a comment

Tinggalkan Balasan