Era 80an Tidak Akan Pernah Mati

Sejarah akan berulang dengan sendirinya. Entah siapa ini yang membuat kutipan. Tapi yang jelas masih relevan sampai sekarang. Dari aspek politik, mode, musik, atau pun film. Tentunya kita masih ingat ketika The Strokes dan The Killers menggebrak dengan musik jadulnya di awal millennium. Dari situ dimulailah banyak musik yang mendaur ulang genre musik jaman dulu. Gejala itu sampai sekarang masih berlanjut. Kita tahu sekarang ada The 1975, The Weeknd, CHVRCHES, atau musik sejenis lainnya yang kita sebut dengan electro-pop ini sebetulnya hanya daur ulang. Di tahun 80an kita menyebutnya synth-pop atau new wave. Beberapa pentolannya masih aktif bermusik. Sebut saja Pet Shop Boys, Depeche Mode atau New Order.

stranger7

Gejala ini rupanya menjalar ke dunia sinema. Banyak sekali film yang dirilis. Entah itu reboot, spin-off, atau remake yang diadaptasi dari film era 80an. Tidak usah saya sebut ya. Terlalu banyak. Saya sebut deh satu film yang lagi tayang di bioskop. Ghostbusters. Tapi ada satu serial rilisan Netflix yang menurut saya layak tonton. Kenapa? Karena serial ini berhasil mengembalikan era saya ketika masih bayi. Era 80an. Itu saja? Tidak. Ada satu nama yang kalian pasti rindukan: WINONA RYDER. Usia serial ini baru seminggu. Tapi berhubung Netflix yang menayangkan maka semua delapan episod sudah langsung dinikmati. Itu salah satu kelebihan Netflix dibanding dengan serial “konvensional” lainnya yang harus menunggu minggu depan ketika satu episod habis. Ngeselin kan? Maenin perasaan orang lain. Tega banget sih. Anak orang digituin.

stranger3

Serial ini sangat bagus sekali. Untuk yang suka film di era 80an pasti suka dengan film ini. Apalagi jika mengikuti film Spielberg semacam E.T, atau Third Encounters of The Close Kind. Atau film-film dari Stephen Kings, John Carpenter. Atau bahkan Super 8-nya J.J. Abrams. Stranger Things bergenre supranatural sci-fi horror. Film remaja. Hantunya juga gak serem koq. Seru. Premisnya ada anak kecil yang hilang misterius dan anak cewek dengan kemampuan telekinesis yang tiba-tiba muncul. Standar kan? Tapi The Duffers Brothers berhasil meracik formula yang pas. Ada sedikit X-Files, sedikit Dungeons & Dragons, sedikit Star Wars, sedikit Indiana Jones, sedikit Back To The Future.

stranger1

The Duffer Brothers berhasil meramu semua elemen dari film yang ia suka menjadi serial yang membangkitkan nostalgia ke era 80an. Tapi tidak basi. Tidak berlebihan. Tidak pretensius kalo anak jaman kiwari banyak bilang. Perlu diperhatikan juga para akting Winona Ryder sebagai ibu dari anak yang hilang aktingnya total. Dia bermain sangat apik. Mungkin ini akting Winona yang paling baik selama karirnya di dunia film. Sebelum hiatus karena ketauan ngutil di Saks Fifth Avenue.

Tidak berhenti di situ. Duffer Brothers nuansa kental 80an itu tidak afdol kalo tidak dibarengi dengan skoring musik dengan balutan synthesizer yang mencekam dari Kyle Dixon & Michael Stein. Synthesizer sangat populer di tahun 80an. Dan terakhir yang harus dinikmati adalah sontrek dari serial ini penuh dengan musik di era 80an. Dan untuk itu maka saya sengaja buat playlist yang lagunya muncul di Stranger Things. Dengerin ya. Capek saya bikinnya ih.

Selamat marathon ya akhir pekan ini. Dan tetaplah penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana.

Iklan

12 thoughts on “Era 80an Tidak Akan Pernah Mati

  1. Yang bikin Stranger Things menarik itu, kesederhanaan. Gak berusaha jadi serial yang wah dengan premise yang wah dan plot twist yang meliuk-liuk bagai Kelok 9. Sederhana, apa adanya, semua bumbu jumlahnya pas. Dengan racikan khas cerita klasik macam Lima Sekawan, Stand By Me, sampai Stephen King’s “IT”. Bumbu romansanya pun membuat kita terkenang akan cinta monyet di masa sekolah. LOH KOK JADI NULIS REVIEW DI SINI?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s