Roda-Roda Bahagia

Tadi pagi, saya berangkat dari Bandung menuju Jakarta dengan hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 jam. Selepas pintu tol Pasteur pukul 04.00 wib dan sampai di tol dalam kota sebelum pukul 06.00 wib. Seharusnya perjalanan ini tidak saya lakukan mengingat saya ndak tidur semalaman. Tapi dengan bekal segelas kopi JJ Royal racikan sendiri sebelum berangkat dan sebotol krating daeng selama perjalanan, mata melek tanpa rasa kantuk. Setibanya di rumah, langsung tepar dan baru bangun pukul 11.30 wib tadi. Maka maklum saja jika tulisan ini dibuat sekarang.

Mari kita bicara soal perjalanan.

Perjalanan Bandung-Jakarta di Sabtu pagi memang menyenangkan. Sepi dan lancar. Hanya satu dua kendaraan berat yang berjalan pelan di lajur kiri. Di sisi kanan, semua kendaraan kecil melaju kencang, tapi berat juga. Kendaraan kecil dengan sopir yang banyak menanggung beban berat. Ehehe. Terbukti mereka malah berpergian di waktu fajar. Jika bukan berat, apakah namanya?

Usai lebaran, tanggal tua dan THR yang tanpa sisa. Target semesteran kedua mulai dijelang. Semua pekerja kembali merayakan realita hidup. Tidak hanya di Jakarta, namun juga di kota-kota lainnya. Jalanan Jakarta mulai macet. Bagi kota lain di pulau Jawa, usai lebaran juga berangsur normal, namun dengan aktivitas ekonomi yang cenderung turun. Pasar dan mal tidak terlalu ramai.

Dalam perjalanan Bdg-Jkt, saya sempat mampir di loka rehat. Membeli satu onigiri tuna mayo, sekaleng nescafe, dan CD Noah. Sampai saat ini onigiri belum saya makan, karena ternyata hanya lapar mata. Nescafe juga belum saya buka segelnya. Hanya Ariel Noah menjadi teman perjalanan saya. Maaf, Sophia, Aa-nya uda dengan aku pagi-pagi.

Dengan volume suara yang saya setel kencang, dan sengau Ariel berdendang, saya berpikir soal perjalanan hidup setiap makhluk.

Pohon di pinggiran jalanan tol mungkin bersyukur dia ndak ikut ditebas seperti sahabatnya karena kebetulan tumbuh tepat di lintasan jalan tol. Tapi pohon mungkin juga iri ingin merasakan berlalu-lalang. Lalu saya juga kagum dengan para sopir truk besoooar dengan muatan lebih besooooar, yang jalannya seperti berjingkat-jingkat. Harus membawa angkutan tanpa bisa membawa lari kendaraannya. Kapan dia mandi, apakah dia sudah unduh pokemon go, atau nonton vlog Awkarin di youtube, kapan terakhir makan KFC.

Lalu karena suara Ariel lirih, saya pun malah jadi berpikir soal nasib pemuda ganteng dengan titit gede dan bersuara emas ini. Setelah melesat jauh ke bintang bersama Peter Pan, lalu terjerembab masuk bui karena videonya bersama Luna, dan akhirnya kembali bangkit bersama Noah dan kembali jatuh ke pelukan janda cantik segala zaman.  Sebuah perjalanan hidup yang indah? Menyenangkan?

Lalu saya entah kenapa tiba-tiba jatuh kasihan kepada roda. Bergulir cepat tanpa jeda. Berada di bagian bawah dengan mengarungi kerasnya aspal jalanan. Ban mobil memang lebih tangguh dan harus lebih tangguh dari Ali Topan maupun Boy. Rasa kasihan sebelumnya menjadi sirna. Mereka adalah roda-roda yang berbahagia. Melakukan perjalanan dengan menyetubuhinya tanpa luput sejengkal pun.

Sekeras apapun itu.

[]

Posted in: Hidup

5 thoughts on “Roda-Roda Bahagia Leave a comment

  1. Pada awal tulisan merasakan beratnya hidup karena hadirnya kata ‘target’

    Kemudian,
    Ikut merasakan sejuknya udara di subuh hari yg segar,
    lalu merindu

    Pinter ni om loy nulisnya

    Btw, itu suaranya om loy baca puisi ya?

    Ngareeep

  2. Kalau bahagianya manusia dengan bekerja, mungkin bahagianya roda dengan terus berputar di jalanan.

    Suka pilihan lagunya om 🙂
    Artikelnya juga maksudnya.

Leave a Reply