Kehidupan Paralel

Entah sudah berapa banyak yang memberitahukan saya bahwa makhluk halus sebenarnya hidup bersama dengan kita. Dia hidup di dunianya sendiri yang kita tak bisa lihat. Tapi kita hidup bersama, berdampingan. Sama seperti kita, manusia, makhluk halus pun punya kehidupan. Apakah persis seperti kehidupan manusia, tidak pernah ada yang tahu. Atau mungkin ada yang tahu tapi belum pernah memberitahukannya kepada saya.

Dalam sebuah rentang kehidupan, pasti diawali dengan kehidupan yang kita lihat dan rasakan sendiri. Kehidupan yang kita yakini sebagai satu-satunya yang ada di dunia. Bahkan kita menyangka inilah dunia. Semua manusia hidup, berpikir, merasa dan bertindak seperti kita. Di luar dari itu, sering kita sebut sebagai keganjilan. Anomali. Tidak semestinya. Bahkan tidak sewajarnya dan bentuk kesalahan.

Kalau dunia itu adalah linimasa akun pribadi Twitter, maka kita akan saling follow dan mendukung satu dengan yang lain. Yang memiliki pemikiran dan perkataan (dalam hal ini tweet) yang sama dengan kita. Selain dari yang sama, maka dia bukanlah sekutu. Dia berbeda. Ganjil. Kesalahan. Berbeda dari keyakinan yang kita yakini sebagai kebenaran karena kita berpikir dan merasa, seperti kitalah seharusnya dan sebaiknya.

Pernahkah kita iseng mencoba mengsearch di Twitter kata-kata kunci lain yang mungkin jarang, tidak pernah terucap (tweet) atau bahkan yang kita anggap keganjilan yang harus dimusnahkan, maka kita akan menemukan perbincangan yang panjang dan keseruan tersendiri yang tidak ada di linimasa kita. Mereka berbincang di luar linimasa, dan memiliki kehidupannya sendiri. Dan bukan tak mungkin jumlah manusianya lebih besar daripada kita.

hong-kong-architecture-night_79790_990x742Makna kata EGOIS, misalnya. Yang kalau menurut KBBI berarti orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Akan memiliki makna yang berbeda berdasarkan keluarga atau lingkungan yang membesarkan dan hidup bersamanya.

Untuk manusia super kaya, egois bisa dimaknai sebagai upaya untuk melindungi dan menambah kekayaannya. Yang kalau kekayaannya hancur, akan berimbas bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga keluarga-keluarga lain berkasta lebih rendah yang jumlahnya jauh lebih besar dari keluarganya. Mulai dari asisten rumah tangga, asisten pribadi, karyawan kantor, dan buruh pabrik,… dikali 4. Itu kalau semua masih ikut program Keluarga Berencana.

Egois untuk kelas menengah, memiliki makna bentuk usaha untuk meraih kekayaan. Kelas menengah ingin selalu terlihat sukses. Dan untuk itu perlu uang. Egois di kelas ini bermakna menolong diri sendiri. Bukan lagi hal baru, untuk kelas menengah (ngehe atau pun kurang ngehe) menolong diri sendiri dalam artian memiliki uang cukup untuk sendiri pun sulit. Bahkan lebih banyak kurangnya. Egois pun bisa jadi mesin penyemangat sehari-hari dalam bekerja dan berkarya.

Tak ada egois di kelas bawah? Tentu ada. Pernah melihat bagaimana manusia kelas bawah berebutan sembako? Bahkan sampai bunuh-bunuhan. Apa namanya kalau bukan egois? Bedanya ada pada makna yang berarti menyelamatkan hidup. Kalau tidak egois, tidak memikirkan diri sendiri, maka bisa jadi tidak makan. Bisa jadi dikejar dan dibunuh orang.

Itu baru satu kata: egois, untuk satu kotak pemisah manusia: status ekonomi. Satu kata yang secara resmi memiliki satu makna. Tapi dalam kehidupan yang berbeda, memiliki banyak makna. Bagaimana dengan agama, pandangan politik, pemahaman budaya, ekonomi dan keyakinan. Yang selama ini seringnya, yang berbeda maka disebut kesalahan. Tak berhenti sampai di situ, harus dimusnahkan. Dimatikan.

Di golongan mana pun kita berada, kita hidup bersama di dunia yang sama. Kita menghirup oksigen yang sama. Kita berjalan paralel. Sesekali kita bersinggungan, untuk kemudian kembali ke jalur masing-masing. Di persinggungan itu, kebenaran yang satu akan bersilangan dengan kebenaran yang lain. Mencoba memahami atau mencoba mengakhiri. Keduanya tidak mudah. Ini bukan soal hina dan mulia. Tapi soal kesadaran bahwa di dunia yang cuma satu dan bundar ini (itu pun kalau berkeyakinan sama) kita hidup secara paralel.

3533720-Parallel-lines-of-rusted-railway-tracks-set-in-grey-moisty-clinker--Stock-Photo

Karena kehidupan yang paralel ini, mungkinkah satu kehidupan memahami kehidupan lain seutuhnya? Sepertinya sebuah kemustahilan kecuali digenapi saja dengan sedikit sok tahu. Bagaimana mungkin sebuah perjalanan panjang kehidupan bisa dipahami oleh kehidupan lain dalam sebuah persinggungan?

Hal ini kemudian diperumit dengan banyaknya himbauan untuk menyatukan perbedaan. Mengapa harus disatukan? Perbedaan adalah kekayaan dan kehidupan itu sendiri. Yang bisa kita lakukan adalah menerima bahwa perbedaan itu ada, dan kemudian merayakannya saja.

Seumur hidup manusia, kita diajarkan bahwa manusia adalah subyek utama. Tapi kalau dengan visualisasi di atas, jangan-jangan kita adalah obyek. Kita bersama membentuk rel kereta api yang paralel. Alat untuk mengantarkan kereta api bergerak dari satu tempat ke tempat lain hingga sampai tujuan. Siapa atau apa kereta api yang melintas di atas kehidupan kita?

 

Posted in: @linimasa

Tinggalkan Balasan