Fitrah

BENTUK hubungan sesama manusia itu sejatinya cuma terbagi tiga: meringankan (positif), memberatkan (negatif), dan tak acuh (netral) secara aktif maupun pasif. Namun sikap yang terakhir juga dianggap negatif karena menunjukkan ketidakpedulian. Tak ingin membantu, meskipun tidak terpikir juga untuk menambah kesusahan orang lain.

Kehidupan ini akan jauh lebih tenteram jika ada banyak manusia yang saling meringankan. Sayangnya pemikiran tersebut utopia, mustahil terwujud sepenuhnya. Sebab tak ada satu orang pun yang benar-benar sama. Setiap individu memiliki karakteristik, kepribadian dan tabiat, pemikiran, serta dipengaruhi lingkungan yang berbeda-beda. Seperti yang diasumsikan oleh Thomas Hobbes maupun J. J. Rousseau, dua filsuf dari era dan negara berbeda beberapa ratus tahun lalu.

Hobbes mengemukakan bahwa setiap manusia pada dasarnya terlahir dengan pembawaan biadab dan jahat. Sehingga diperlukan peradaban, keteraturan, dan kepatuhan untuk memperbaiki perilaku. Sedangkan Rousseau justru percaya bahwa setiap manusia pada dasarnya terlahir dengan pembawaan yang baik dan terpuji, sampai dicemari oleh lingkungan sekitarnya.

Pandangan Hobbes dan Rousseau sama-sama berbicara tentang fitrah manusia, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah dijadikan kata serapan dengan makna: sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan–walaupun konon salah kaprah dari arti sebenarnya, yaitu makan-makan. Akan tetapi, mana di antara dua pendapat tersebut yang bisa kita percayai, yang benar-benar terjadi? Pertanyaan ini barangkali hanya bisa dijawab dengan pertanyaan lain:

Mana yang lebih mudah? Berbuat baik atau buruk?

10399874_119281838858_709410_n
Islamic Center Kaltim, Samarinda. 2009.

Hari ini adalah hari yang fitri, untuk merayakan apa yang dianggap sebagai kemenangan. Kemenangan dari hawa nafsu, kemampuan mengendalikan diri dengan lebih intensif, dan keberhasilan menjadi insan yang kembali suci, kembali pada fitrahnya. Semua diperoleh setelah berpuasa Ramadan, dan menjalankan amalan-amalan baik sebulan penuh lamanya. Lengkap dengan saling memaafkan.

Kalau sudah begini, semoga fitrah versi Rousseau yang terjadi. Agar kebaikan-kebaikan di sepanjang Ramadan tak hanya muncul setahun sekali, dan membuktikan bahwa manusia memang baik dari sananya. Tanpa dibatasi apa pun agamanya.

Maaf lahir batin, dan selamat liburan.

[]

Posted in: @linimasa

1 thought on “Fitrah Leave a comment

Leave a Reply