Assalamualaikum Tanpa Waalaikumsalam

“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Silakan duduk, pak.”
“Terima kasih.”
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau bayar zakat fitrah, mbak.”
“Baik, pak. Sudah tahu ya hitungannya?”
“Sudah.”
“Buat berapa orang, pak?”

Dia terdiam.

“Pak?”
“Ya?”
“Bapak bayar zakat untuk berapa orang?”
“Oh, untuk satu orang, mbak.”

Kali ini giliran perempuan itu yang terdiam, sambil melihat cincin yang melingkar di jari manis orang yang duduk di hadapannya. Tanpa sadar dia terus menerus melihat, membuat orang di depannya kikuk. Buru-buru dia mengeluarkan formulir dan mulai menulis.

“Silakan bapak tulis nama, lalu alamat email atau nomer telpon. Nanti tanda tangan di bawah.”
“Bayarnya harus tunai?”
“Bisa pakai kartu debit juga, pak.”

Lalu dia keluarkan dompet dari saku celana. Saat membuka dompet, ada foto sepasang pria dan wanita yang tersenyum lebar. Baju mereka putih. Sang wanita berdandan lebih tebal dari kebanyakan perempuan lain. Tak sengaja dia melihat foto itu, dan semakin mengernyitkan kening. Tapi buru-buru ia tepis praduganya.

“Ini kartu debitnya.”
“Baik, pak. Silakan PIN-nya.”

Dia memasukkan PIN ke mesin debit.

“Ini kartu dan bukti debitnya. Ini formulir zakatnya, untuk satu orang ya pak. Sekarang kita baca doa. Sudah tahu doanya, pak?”
“Tahu, tapi saya tidak hafal, mbak.”
“Oke, kalau begitu kita sama-sama baca doa dulu ya, pak.”

Berdoa selesai.

“Sudah selesai pak, pembayaran zakatnya. Ada yang lain bisa saya bantu?”
“Uh … Di sini buka terus ya? Dari jam berapa sampai jam berapa, mbak?”
“Setiap hari, pak, sampai dua hari sebelum Lebaran. Dari jam 10 pagi sampai jam 8 malam.”
“Mbak yang jaga terus setiap hari?”
“Ada yang gantian jaga, pak.”
“Oh …”
“Kenapa, pak?”
“Nggak apa-apa, mbak.”

Kembali dia terdiam.

“Pak?”

Dia hanya tersenyum.

“Maaf. Saya harus pergi dulu, mbak. Terima kasih bantuannya.”
“Terima kasih juga, pak.”
“Erm, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Dia bangkit dari kursi stand pembayaran zakat. Beberapa puluh meter melangkah, dia membalikkan badan. Penjaga zakat sudah melayani tamu lain. Dia membalikkan badan kembali untuk berjalan pulang.

Sepanjang jalan, dia duduk di jok belakang mobil. Dia memainkan cincin di jari manisnya. Dia menghela nafas, sambil sesekali melihat jalanan di luar. Hujan deras membuat kemacetan semakin bertambah. Dia merebahkan diri. Lalu seperti teringat sesuatu, dia menegakkan tubuhnya lagi. Jangan tidur sekarang, pikirnya. Nanti saja begitu sampai di rumah.

Satu jam kemudian dia sampai.
Dia keluarkan kunci dari saku celana. Dia buka pintu.

“Assalamualaikum.”

Hening. Dia nyalakan lampu. Dia buka sepatu. Dia menuju kulkas.

Tak ada jawaban. Dia tidak menunggu jawaban.

Toh sehari-hari sudah biasa seperti itu. Hari-hari sejak delapan bulan lalu tepatnya. Ada salam yang tak pernah terbalas. Dan tak akan pernah terbalas.

Salam yang selama bertahun-tahun selalu terjawab saat dia pulang atau saat dia janji bertemu. Salam yang pernah dia harus tunggu sampai delapan minggu setelah sang penjawab salam harus pergi tiba-tiba. Dan tak pernah kembali.
Sementara dia hanya bisa memainkan cincin yang selalu dia pakai, meskipun tak bermakna lagi.

“Who am I kidding here?”, ucapnya dalam hati, sambil menghempaskan diri ke sofa.

Seperti biasa dia hampir terlelap di depan televisi.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Sebuah pesan singkat masuk.

“Assalamualaikum. Pak, saya petugas zakat yang tadi sore melayani Bapak. Bolpen bapak ketinggalan. Bisa saya antar ke mana ya?”

Dia tersenyum.

7dbbfe0ab24618c8a404636dd3b8157d

Iklan

21 thoughts on “Assalamualaikum Tanpa Waalaikumsalam

  1. Kemungkinan lanjutan cerita (yang mereka tidak berbahagia selamanya):
    1. Diantar oleh petugas zakat bersama suaminya dan tidak terjadi apa-apa
    2. Petugas zakat mengantar sendiri dan tidak terjadi apa-apa hanya nganterin
    3. Petugas zakat mengantar sendiri dan kecelakaan di tengah jalan jadi ngga ketemu
    4. Sang penjawab kembali dan hidup bahagia bersama tokoh utama, si petugas zakat kecewa
    5. Ternyata semuanya hanya mimpi, beliau belum bayar zakat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s