Percaya Sejak Awal

KEGIATAN itu disebut kelas katekisasi pranikah bagi umat Kristen dan Katolik, atau dinamai persiapan pranikah dalam komunitas agama lain. Berupa serangkaian sesi kursus singkat yang berlangsung dengan durasi beragam, mulai dari cuma hitungan jam sampai sepanjang enam bulan.

Sesuai namanya, kelas-kelas tersebut diselenggarakan di dalam lingkungan tempat ibadah. Diikuti oleh para pasangan yang berencana menikah, dan diisi berbagai paparan keagamaan serta diskusi topik-topik terkait. Bertujuan agar peserta bisa lebih siap menyongsong kehidupan pernikahan, dan mampu mengarunginya dengan kelanggengan yang religius. Termasuk supaya menghindari munculnya sebab-sebab perpisahan, apalagi perceraian.

Sejauh ini, ada pengurus tempat ibadah yang mewajibkannya sebagai prasyarat pemberkatan pernikahan. Tetapi ada pula yang keikutsertaannya bersifat sukarela, agar tidak muncul kesan bahwa lembaga keagamaan mempersulit para calon pengantin. Terlebih untuk agama maupun mazhab minoritas. Sebab pada dasarnya, pernikahan (maupun perceraian) tetap merupakan hak individual secara penuh, sedangkan agama berperan normatif dan seremonial saja. Hanya mengatur tentang tata cara. Padahal di sisi lain, kelas-kelas persiapan pranikah bisa menjadi jembatan komunikasi yang paling krusial bagi para calon suami istri.

Kelas-kelas persiapan pranikah yang demikian tidak sekadar menyebar ceramah tentang dogma, melainkan jadi semacam sesi konseling yang memungkinkan mereka–calon pengantin–saling terbuka dan jujur, sampai benar-benar siap dengan apa pun yang bakal dihadapi. Untuk itu, mereka akan dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang paling personal sekalipun, tentu tanpa bermaksud untuk merendahkan. Pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban mencengangkan, yang barangkali belum pernah disampaikan sebelumnya.

Beberapa di antaranya seperti berikut.

“Apakah kamu sudah pernah melakukan hubungan seksual? Jika pernah, dengan siapa?”

“Berapa besar penghasilan dan pengeluaranmu per bulan?”

“Apakah kamu bisa dan mau bekerja?”

“Apakah kamu siap punya/tidak punya anak?”

“Apakah kamu bermasalah dengan keluarga?”

“Apakah kamu bermasalah dengan keluarga pasanganmu?”

“Apakah kamu memiliki kebiasaan buruk?”

“Apakah kamu memiliki penyakit tertentu?”

“Apakah kamu pernah berselingkuh?”

“Apakah kamu benar-benar menginginkan pernikahan ini? Kenapa?”

“Apakah kamu benar-benar siap untuk menikah? Kenapa?”

“Apa yang tidak kamu sukai dari pasanganmu? Kenapa?”

dan sebagainya…

Pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi sangat penting, karena mereka akan segera menikah dan menjadi satu kesatuan yang sakral secara agama. Prinsipnya sama seperti premarital check up atau pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum menikah, demi mengetahui dan mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi demi kebaikan bersama. Kalaupun nantinya bisa terjadi apa-apa, toh secara logika masih jauh lebih baik putus menjelang pernikahan, ketimbang telanjur menikah, menyesal kemudian, dan merasa enggak bisa berbuat apa-apa. Lantaran lebih banyak yang memilih tahan malu dan sakit hati, ketimbang berani bersikap dan unjuk diri.

…dan rasa-rasanya, sudah ada beberapa tempat ibadah di Jakarta yang berani menghadirkan kelas katekisasi seperti ini. Setidaknya gratis, dan bisa jadi semacam pencegahan. Meski risikonya adalah protes dan rasa benci dari para orang tua yang gagal berbesanan.

Masalahnya, seberapa siapkah kamu untuk ikut di dalamnya?

Seberapa siapkah kamu untuk sungguh-sungguh bisa percaya?

[]

Iklan

2 thoughts on “Percaya Sejak Awal

  1. seharusnya pertanyaan2 seperti itu sudah diketahui jwbnnya oleh masing2 individu yg akan menikah, tanpa perantara catechism. makanya pacaram itu penting sih. (bukan perkara durasi lho ya). imho aja kok. Tapi bagus juga ada penyedia layanan catechism. Karena sering perceraian disebabkan oleh jwbn dr pertanyaan tersebut di atas.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s