Yang Polos Belum Tentu Mudah

oleh: Suprihatin

Kitab Suci Kesatria Cahaya yang digurat Paulo Coelho menuliskan sebuah mantra: “Solve et coagule”. “Larutkan dan kentalkan, pusatkan dan pancarkan kekuatanmu sesuai dengan situasi”. Begitulah, bahwa ada kalanya kita masuk dalam sebuah kondisi di mana kita perlu bertindak. Namun ada kalanya pula saat-saat di mana kita hanya perlu menerima…

 

march-dash-easy-ways-corn-omelet-ftr

Yang Polos Belum Tentu Mudah

“Mas, kalau pesan yang polos bisa?”

“Ya bisa bu, tapi lama…”

Potongan dialog itu terjadi tepat di sampingku saat mengantre pesanan omelet untuk teman sarapan di hotel. Seorang perempuan berbusana anggun bertanya dengan berhati-hati kepada koki hotel yang sedang mengaduk omelet dan kemudian menjawab dengan alis yang berkerut. Dari nada suaranya yang sangat berhati-hati aku merasakan keengganan dalam pertanyaannya. Sepertinya ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya itu. Selain itu pesanan itu bukan untuknya. Itu pesanan kawannya yang enggan ikut mengantre.

Alhasil, benarlah apa yang diramalkan tuan pikiran. Jawaban sang koki seperti yang ia duga. “Bisa, tapi lama…”. Ini semacam jawaban yang mengambang: antara ya dan tidak. Tidak menolak, tapi juga tidak menerima.

Mengapa yang polos menjadi tidak mudah?

Begini,

Pagi itu tamu hotel yang menggunakan jatah sarapannya cukup banyak. Atau malah terlalu banyak. Bahkan beberapa kawan lain yang mengikuti konferensi terpaksa dialihkan ke hotel lain karena tidak tertampung. Di antara para tamu, cukup banyak yang ingin menjajal omelet. Entah itu karena cara memasaknya yang khas, atau karena aromanya yang menggoda selera. Pagi itu koki menggoreng omeletnya dengan menggunakan dua wajan kecil. Satu ia gunakan untuk menggoreng isian, satu lagi ia gunakan untuk menggoreng omeletnya. Setelah tumisan isian siap, ia akan memindahkannya ke wajan lain lalu menciduk telor dan mengaduk-aduknya beberapa kali. Setelah itu ia kembali mengisi wajan yang tadi ia gunakan, untuk menumis isian yang baru. Pada wajan yang sudah berisi telur, koki membagi adonan telurnya menjadi empat: satu ke depan, satu ke belakang, satu ke samping kiri, dan satu lagi ke samping kanan. Adonan itu lalu digulung dan dipindahkan ke piring-piring yang disodorkan para tamu –termasuk saya– yang sudah mengantre lebih dari 10 menit.

Saya mengamati koki bekerja dengan runtut, sistematis, seolah-olah pekerjaan itu merupakan sebuah tatanan yang memang seharusnya demikian. Tatanan –yang terdiri dari menggoreng isian, memasukkannya dalam wajan, menambahkan telur, dan menggoreng isian yang baru, lalu memasukkannya dalam wajan, menambahkan telur, dan menggoreng isian yang baru– ini buyar ketika kemudian ia harus melayani permintaan satu omelet polos.

Sambil berlalu menerima omelet 10 menit jatah saya, terdengar suara seorang ibu bertanya atau lebih tepatnya mengomel:

“Pesanan saya mana Mas? Kok lama banget?”

Sebuah pertanyaan yang kosong-hampa-pecah, di antara deretan pengantre yang saling pandang dan bergumam: “Yo antre”.

[]

*) Suprihatin, Pengajar, Penulis, dan Penyunting Lepas.

Menurutnya:

Sebagai penulis dan penyunting lepas, saya antusias terhadap berbagai jenis tulisan. Terbiasa bekerja teratur, sistematis, namun terbuka terhadap perubahan, ide dan konsep baru. Cukup inovatif dan berfokus terhadap solusi. Mampu bekerja sama dalam tim maupun individual.

Sebagai pengajar saya adalah sekaligus pembelajar. Sekadar ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Ybs dapat dihubungi melalui meetitien@gmail.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s