Cipera Lebaran

Enggo elah kam man?” (Sudah selesai makan?–Karo)
Sudah. Nah, kau coba lah sikit.
Kilat menyendok masakannya dari panci ke piring. Menyodorkannya pada sang istri.

Bukan opor ayam ni Bang?
Nggak pandai aku bikin masakan Jawa.
Tapi kan…
Ah sudahlah. Mari man.
Ami, istri Kilat berhenti sesaat. Matanya memicing, menerjemahkan pesan dari lidah. Sekejap membelalak dan terduduk.

SEDAP KALI BANG!


Berkilat Kilat Ginting Suka!” Ketua panitia meneriakkan namanya di urutan ke-3. Pemilihan masakan Lebaran terbaik di Kampung Kramat-Senen sudah berlangsung lima tahun. Tahap pertama diikuti 20 peserta. Lalu jadi 10. Saringan berikutnya jadi 5. Akhirnya, dipilih 3 finalis utama. Masakkan pemenang nantinya akan dilombakan di tingkat Kecamatan dengan Grand Prize jadi fitur utama di acara Lebaran kantor Gubernur.

Kilat lolos sampai tahap 3 besar. Ia dan dua finalis lainnya mesti memasak sesuatu berbahan utama ayam dengan tema Ramadhan. Ayam baru ditetapkan panitia satu malam sebelum pengumuman, karena harga daging sapi ndak juga turun meski Presiden Jokowi kasih ultimatum jaga harga di Rp. 80,000/kg.

Ketiga finalis kemudian menuliskan nama masakkannya di secarik kertas. Menyerahkannya pada panitia lomba, jadi semua juri tahu sajian apa yang akan mereka hakimi besok lusa. Agak tergesa-gesa, Kilat menulis: Opor Ayam.

Apalagi masakan ayam paling aman di bulan Ramadhan? Kilat yakin 90% keluarga di Jakarta menyajikan Opor Ayam dengan ketupat seperti satu konsensus massal yang sakral.

Ya, Kilat hanya punya satu hari satu malam untuk menyiapkan Opor Ayam paling mulia di lidah. Ami pura-pura ndak panik. Klak-klik-klak-klik ponsel Ami mencatat bahan-bahan yang dibutuhkan suaminya.

Bang. Aku yang belanja ya?
Jangan Mi. Biar aku dan si Sari ke pasar. Kau sama Awal jaga bengkel sajalah.

Strategi pertama Kilat adalah membiarkan istri dan anak sulungnya lapar. Mereka berdua paham soal oli dan busi. Bukan soal bumbu dan kaldu. Tapi perut kosong Ami dan Awal bisa sangat berguna sebagai Preliminary Judging untuk karyanya. Kalau Ami dan Awal puas. Kilat lebih percaya diri.

Sari, si sulung adalah sous chef dengan selera mumpuni. Penciuman Sari tajam. Intuisinya bisa diandalkan. Ia mengerti kapan pala berdampingan dengan santan. Atau bagaimana pentingnya tuba (andaliman) dalam masakan Sumatra.

Kok jagung sih Daddy?” Sari mulai curiga ayahnya punya rencana lain diluar Opor Ayam.


Sejak Bengkila Tarigan meninggal sewindu lalu, Kilat dan keluarga berhenti mengunjungi kampung halaman di Kabanjahe. Bengkila adalah tujuan mudik terakhir. Sekarang Kilat jadi yang paling tua diantara klan dan Beru-nya. Ia lokus keluarga besar Ginting Suka di Jakarta.

Awal berhenti mudik umur 7 tahun. Sari bisa dibilang ndak kenal mudik. Kampungnya di Senen. Ia lebih kenal halaman Atrium mall ketimbang Berastagi. Untuk Awal dan Sari, kampung halaman hanya suatu tempat yang sering diceritakan ayah-ibunya. Jangankan bahasa Karo. Mereka cuma bisa membayangkan kehidupan di sana. Tapi, mereka bisa merasakan.

Kenapa tidak? Pikir Kilat. Lagipula Jakarta bosan. Jakarta harus dirayu dengan sesuatu yang baru. Opor Ayam bukan baru, apalagi rayuan. Kilat mau membawa Tanah Karo ke Senen. Untuk Jakarta dan kedua anaknya. Pikirannya melayang-layang. Menggali kenangan perjalanan kuliner dari Kotacane ke Medan bersama Bengkila Tarigan. Berusaha menemukan ayam di antara banyak makanan yang ia coba.

Ah, Cipera!


Cipera Manuk adalah masakan khas Karo yang tergolong dalam Tasak Telu (masakan tiga jenis–Karo). Bahan utamanya adalah Cipera atau jagung sangrai tumbuk dan ayam kampung utuh. Termasuk jeroannya. Ia dimasak bersama jamur merang, santan, tomat dan asam cikala (kecombrang) dalam bumbu halus antara bawang putih, merah, cabe rawit, jahe, sereh, kemiri daun bawang, daun jeruk, kunyit, merica dan tuba.

Kental dan pekat. Sifat yang diturunkan dari pemanasan maizena, santan dan lemak ayam. Teksturnya ndak terlampau jauh dari Opor. Perbedaan terbesar terletak pada rasa. Opor cenderung manis-gurih; sedangkan cipera pedas-gurih dengan aroma legit dari kecombrang, sereh dan daun jeruk.

Di kampung sana, bubuk cipera banyak dijual di pasar. Di Jakarta, ia harus menyiapkan segalanya dari nol. Jagung tua pipil. Disangrai hingga sedikit berminyak dan mengeluarkan bau gurih. Di beberapa sudut biji jagung mungkin akan gosong. Tapi biarkan saja. Bagian gosong itu akan memberi nuansa khas yang sukar direka-reka. Setelah tahap penyangraian selesai. Kemudian dinginkan. Lalu tumbuk bersama beberapa butir kemiri. Sisihkan bubuk cipera.

Kilat segera memasak bumbu halus bersama sereh, kecombrang, dan santan. Ia harus terus diaduk-aduk sampai mendidih. Sesaat setelah bumbunya bergolak, Kilat memasukan Ayam yang sudah dipotong. Dibiarkan dalam api sedang, sampai ayamnya empuk. Wangi bumbu semerbak berebut ruangan dengan uap gurih kaldu ayam. Disusul dengan jamur merang, santan kental dan bubuk cipera sambil terus diaduk agar santan tidak pecah. Ndak lama, konsistensi cipera mulai terbentuk. Daun bawang dan tomat merah masuk di tahap akhir. Kilat memisahkannya menjadi 6 mangkok dengan sedikit hiasan dari kecombrang dan irisan cabai untuk para Juri.

image

Ini Opor Tanah Karo. Namanya Cipera Manuk.” Lima juri segera menyendok kuah Cipera yang mengundang. Satu Juri sibuk mengambil gambar. Bumbunya menjalar di sela-sela molekul pati jagung dan santan kental. Tekstur pekat ini menyelinap dengan anggun di mulut. Sereh, daun jeruk, daun bawang dan kunyit memberi kesan legit perdana di pangkal penciuman. Disusul permainan rasa kemiri, rawit dan kecombrang pada lidah. Agak masam, gurih, asap dan pedas. Juri mulai membelah ayamnya. Ia terlepas dari tulang. Tampak bumbu kuning sampai ke dua per tiga daging ayam. Lalu mereka sibuk mencatat. Di kertas, juga ponsel.

Ami ndak bisa diam. Sebentar-sebentar berdiri. Berjalan ke depan. Berbisik pada suaminya. Seakan yang ia lalukan bisa mengubah keputusan Juri. Kilat hanya bisa diam. Masih ada satu finalis lagi setelah dia. Bisa jadi Juri lupa dengan Cipera, pikirnya.

Mami. Aku sudah pesan jagung dan semua bumbunya yang banyak di pasar.
Ih. Macam Daddy mu juara Sari? Kalau kalah, sebulan kita mabuk jagung.

Juri butuh sekitar satu jam untuk menentukan satu orang pemenang. Mereka berunding di balik panggung. Keputusan juri ndak bisa diganggu gugat.

Juara Dua: Cipera Lebaran dari Berkilat Kilat Ginting Suka!” diikuti riuh tepuk tangan penonton.

Mesui Imputku! (sakit pantatku–Karo). Sari, cepat sms orang-orang pasar. Batal pesanannya. Bilang, kita mudik ke Kabanjahe!” perintah Ami.

Iklan

2 thoughts on “Cipera Lebaran

  1. Bikin lidah bergoyang,,masih setengah hari lagi puasanya….
    Sebagai tukang masak bisa turut merasakan betapa enak hasil cipera manuk ini
    Ada beberapa bahan yg agak susah dicari semacam kecombrang dan andaliman. .beruntung pernah terdampar
    Di kepulauan riau jadi akrab dengan bahan-bahan masakan yg jarang ditemui di pulau jawa imo

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s