Menjadi Asbak Pada Waktunya

Sewaktu masih kuliah di Jogja, saya pernah diprotes habis-habisan oleh teman saya yang main ke kos. Kenapa mug dengan gambar “love” dijadikan asbak oleh saya. Padahal jika mau bisa saja saya pergi ke pasar untuk membeli asbak sungguhan. Peduli setan, saya jawab saat itu. Gelas buat minum jika memang akan digunakan bergantian dan menjadi konsumsi publik. Kalau hanya dan selalu buat saya, untuk selamanya buat pribadi saja yang disembunyikan di kolong meja belajar, gelas asbak saya boleh saja dan sah sah saja jika sewaktu-waktu fungsinya menjelma pispot. Bukankah itu hak saya? Fungsi gelas telah sama-sama disepakati. Tapi jika pemiliknya menjadikannya asbak, ada masalah? Gelas itu hanya fungsi. Untuk minum. Bukan karena bentuknya. Sebuah alat rumah tangga berbentuk mangkok jika selalu dipergunakan untuk minum? Maka sejatinya dia adalah gelas. Sebuah perkakas berbentuk cangkir jika dipakai buat menadah abu rokok, maka ia adalah asbak.

Oleh karena itu jika ada manusia yang disetel fungsinya sebagai pemimpin yang bertugas memelihara bumi, langit dan seisinya, kemudian malah menjadi beringas dan melukai manusia lain, maka sesungguhnya dia bukan manusia. Apalagi pemimpin. Wujud wadagnya saja manusia, tapi fungsinya merusak. Lebih dari yang seharusnya. Melebihi setan, karena setan hanya menghasut dan menggoda. Eksekutornya manusia-manusia yang “bukan manusia”.

Begitu juga pemerintah daerah. Diberi mandat oleh warga untuk menjadi pemimpin yang mengayomi. Bupati adalah pemimpin di lingkungan daerah untuk menjalankan fungsi level daerah. Bupati Tegal ya cukup urusannya dengan wilayah Tegal. Bupati Lebak ya urusannya dengan wilayah Lebak. Bicara prasarana air bersih buat warga. Bicara ketersediaan akses pendidikan bagi warga. Bicara kebutuhan layanan medis. Akses jalan. Juga soal warga agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak.

Jika ada perintah Bupati yang bicara soal menghormati ritual suatu agama, dengan melakukan ketentuan dilarang melakukan usaha bisnis, yang menjadi salah satu hak warga, yang seharusnya justru didorong untuk bebas berusaha demi kebutuhan hidup, maka bupati ini ndak berfungsi sebagai bupati melainkan berfungsi sebagai asbak.

Bisa jadi dia hanya diperintah majikan si Bupati menjadi penadah abu-abu emosi keimanan dan kemasygulan dalam beragama dari para majikan Bupati, atau setidaknya pihak yang dapat memperbudak Bupati. Siapa yang melakukan eksekusi? Budaknya Bupati. Si Eksekutir adalah budaknya budak.

Max Havelaar, sebuah novel dari Multatuli, menceritakan kisah mengenai Residen Lebak di masa penjajahan Hindia Belanda. Iya, Lebak yang sama dengan Lebak yang sedang ramai dibicarakan karena liputan provokatif KompasTV.

Ternyata kehidupan di Lebak, dan jangan-jangan di daerah lain pun sama dengan kala penjajahan Hindia Belanda. Tanam Paksa. Kali ini yang dipaksa untuk ditanam adalah tingkat keimanan dengan level tertentu minimal setingkat dengan orang bertaqwa berdasarkan versi salah satu agama.

Dan lalu, jika agama yang fungsinya menjadi sarana menyebar kasih sayang dan memelihara alam semesta seisinya menjadi hal lain, maka sama saja kita mengasbakkan agama menjadi alat melanggengkan relasi antara kekuasaan dan pemilihnya yang dianggap penting dan menentukan.

Agama menjadi sebuah money-politics dalam bentuk lain untuk menyogok dan menjilat pemangku kepentingan lain. Sebuah sogokan dan gratifikasi pemimpin daerah kepada para pemilihnya, yang kebetulan adalah ndak toleran. Atau memiliki pandangan dalam beragama secara keras. Atau ya penyokong dananya.

Tapi apakah ini hanya ada di Lebak? Saya rasa di dalam hati masing-masing kita adalah Bupati Lebak dengan proporsi tertentu.

Melihat teman kita ndak sholat, kita mencibir. Mengetahui rekan kerja ndak puasa, dalam hati memandang rendah. Ada kawan Kristen galak, dianggap semua orang Kristen galak. Apalagi kebetulan batak. Padahal dia galak bukan karena Kristiani, juga bukan karena Batak. Bisa jadi dia galak karena hingga hampir usia 40 tahun puan jelita ini belum menikah juga.  😜

Lebih parah lagi jika kontes penjurian ini dilakukan juga kepada pasangan sendiri.

Punya pasangan rajin sholat, adalah sebuah syarat utama bagi sebagian muslim Indonesia. Ini seperti anak kecil ditanya mau hadiah apa, dan dijawab anak kecil itu: “punya kelinci lucu seneng makan dan loncat setiap diajak bercanda”.

Pacar dan/atau istri bagi sebagian kita bagai peliharaan yang harus mengikuti kehendak pacar dan/atau suami (dibaca: majikan). Jago masak, rajin ngaji, sholat komplit, sekaligus mau diajak ciuman setiap saat, ndak boleh nolak bersenggama, seolah-olah pasangan kita adalah kelinci-kelinci lucu yang diciptakan untuk menghibur kita. Kekasih hati yang dijadikan pemuas kebutuhan emosi.

Pacar yang diasbakkan.

(Ndak) Beruntunglah kita hidup di negeri yang warganya lebih menghamba pada agama. Menuhankan agama. Dan Tuhan yang diasbakkan menjadi sosok sungil, gaib, menakutkan, maha kuasa, tapi sekaligus manja. Tuhan yang tak suka dengan manusia tak bertakwa. Tuhan yang suka melihat hambanya melukai hamba lainnya.

Tuhan yang dikerdilkan dengan cara selalu dinomorsatukan dengan menomorduakan hal lainnya.

Oh iya. Sewaktu saya masih kuliah di Jogja, teman saya juga sering protes tentang hal lain. Soal yang akan saya ceritakan kapan-kapan. Nantikan.

Salam asbak,

Roy

 

+bonus (update)
bahkan kompasTV pun telah jadi asbak. pergantian teks sesuai respon pembaca

Iklan

13 thoughts on “Menjadi Asbak Pada Waktunya

  1. iya, itu standar anak kos. kalau habis minum kopi pagi di depan kamar sama temen temen menjelang nunggu kumpul nyawa sambil antri kamar mandi. kemudian setelah mandi, gelasnya lupa dicuci/dimasukin kamar lagi karena udah mepet jam masuk kuliah.

    besoknya juga gitu, terus terus, akhirnya gelas numpuk di depan kamar/bangku tongkrongan anak kos. nah, karena sudah buat kopi pake gelas baru, akhirnya gelasnya dijadiin asbak.

    gitu terus sampe Yogya ngadain pilihan Gubernur.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s