Buang-buang Tenaga

ALKISAH, ada seseorang pria dengan modal pas-pasan. Ia mencoba peruntungan dengan menjual bendera, menjadi pedagang musiman. Sayangnya, hujan turun setiap hari sepanjang bulan. Tanpa berhenti.

Sebagai seorang pedagang di pinggir jalan, boro-boro laku dan mendapat untung, ia tidak punya satu kesempatan pun untuk memajang dan memamerkan barang dagangannya, yang semestinya berkibar anggun di ketinggian.

Agak patah semangat, ia mengganti dagangannya dengan mantel hujan di bulan berikutnya. Lagi-lagi dengan tujuan untuk memanfaatkan situasi dan mendapatkan banyak keuntungan. Akan tetapi cuaca kembali berganti dengan sangat drastis. Langit cerah dengan matahari bersinar sangat terik tanpa jeda sehari pun. Orang kurang waras mana yang mau mengenakan mantel tebal di tengah cuaca yang begitu gerah.

Pria itu menjadi sedih.

Ucapan dan perkataan adalah benda gaib dengan daya yang terlampau luar biasa.

Siapa saja bisa dibuatnya begitu bersemangat, atau penuh dengan rasa percaya, atau terbuai, atau terasa diajak berpikir dan merenung, atau sedih dan kecewa, atau malah bahagia, atau tersinggung dan terhina, menjadi marah sampai beringas, atau jadi bingung, tergantung apa yang diucapkan dan siapa si pengucapnya. Nyaris mustahil untuk bisa menghitung, apalagi merawikan semua peristiwa yang terjadi akibat ucapan meski dalam kehidupan satu orang saja.

Dengan dampak sekuat ini, sudah jamak dinasihatkan sejak dahulu kala bahwa setiap orang seyogianya bersikap sangat hati-hati, cerdas, dan bijaksana dalam berucap. Persis seperti pesan utama dari beberapa artikel sebelumnya: “dipikir dulu sebelum bicara.” Lagi-lagi dengan kesan yang sama, bahwa mudah dipahami tapi cukup susah untuk dijalani.

Pada dasarnya, nasihat di atas ditujukan kepada setiap orang yang ingin dan bisa berbicara. Namun dalam pelaksanaannya, ada sudut pandang yang berbeda sebagai alternatif.

Sebagai pelaku aktif, para pembicara adalah pemicu rentetan peristiwa berikutnya. Akan tetapi jangan lupa, dampak dari ucapan hanya bisa terjadi apabila ada yang mendengarkan, dan turut bereaksi atas ucapan tersebut. Sehingga, apabila kembali mengacu pada nasihat di atas, se-tidak-dipikirkan apa pun sebuah ucapan, tetap tak akan berakhir menjadi sesuatu yang riuh bila tak diacuhkan. Dibiarkan terucap untuk mengalir dan hilang begitu saja. Dibikin kecele.

Sementara yang terjadi selama ini adalah aksi tek-tok-an, ketika ucapan yang enggak pakai proses berpikir dengan baik sebelumnya, digubris dengan tanggapan yang sama-sama emosional. Ironisnya, terkadang berupa ucapan yang tanpa dipikir juga. Ibarat bola pingpong melanting kian tinggi setelah memanfaatkan momentum pantulan. Akhirnya makin kisruh, sama-sama enggak enak, sama-sama rugi. Menang jadi arang, kalah jadi abu.

Dengan ini, daripada lelah-pusing memikirkan ucapan orang lain yang keluar tanpa filter, mending berlatih menebalkan hati. Membuatnya lebih kuat agar tidak tergoda menanggapi sesuatu yang sia-sia. Energi, waktu, dan pikiran pun bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih berfaedah.

Berlatih menebalkan hati. Ya! Perlu latihan, karena memang tidak mudah dilakukan. Sebab kita tumbuh besar dan sudah sangat terbiasa (di)takluk(kan) oleh perasaan sendiri. Itu sebabnya sebuah cacian, hinaan, dan celaan dapat dengan mudah membangkitkan kemarahan dalam diri kita, minimal perasaan tersinggung.

Sebaliknya, jika tidak bereaksi sebagaimana lazimnya saat mendapatkan cacian, hinaan, dan celaan yang paling dusta sekalipun, kita justru akan dipandang aneh oleh orang-orang sekitar. Padahal cacian, hinaan, dan celaan tidak akan menjadi cacian, hinaan, dan celaan bila tidak kita terima, kita iyakan, kita tanggapi.

Saat orang lain memegang kotoran di tangannya, lalu melemparnya ke arah kita, ya biarkan saja. Lebih baik kita menghindar dan pergi. Kita tidak perlu ikut mengotori tangan untuk membalas lemparan. Biar saja dia yang kebauan.

Kesedihan yang dirasakan pria tersebut berubah menjadi kekecewaan dan kemarahan. Ia luapkan amarahnya dengan berteriak, memaki-maki langit, menghamburkan sumpah serapah sambil menengadah. Puncaknya, ia kumpulkan air liur dan dahak, lalu diludahkannya ke arah atas, ke angkasa.

Ia meludahi mukanya sendiri.

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s